Viral! Siswa SMK Tolak Jatah MBG, Surati Prabowo Demi Kesejahteraan Guru

Siswa SMK di Kudus kirim surat ke Prabowo tolak MBG demi kesejahteraan guru
Siswa SMK di Kudus kirim surat ke Prabowo tolak MBG demi kesejahteraan guru

Global7.id – Kudus, 

Sebuah kisah penuh empati datang dari seorang pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kudus, Jawa Tengah. Di tengah program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan, seorang siswa justru memilih untuk tidak menikmatinya. Ia bahkan menulis surat langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dengan permintaan yang tak biasa: mengalihkan jatah MBG miliknya untuk kesejahteraan guru.

 

Pelajar tersebut adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI di SMK NU Miftahul Falah Kudus. Aksi yang ia lakukan bukan sekadar bentuk keberanian, tetapi juga cerminan kepedulian terhadap kondisi para guru yang selama ini ia lihat secara langsung.

 

Kepedulian dari Keterbatasan

Rafif berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Namun kondisi ekonomi tersebut tidak membuatnya hanya memikirkan diri sendiri. Justru sebaliknya, ia menunjukkan empati tinggi terhadap para guru yang dinilainya memiliki peran besar dalam hidupnya.

 

Dalam suratnya, Rafif menyampaikan bahwa dirinya dididik untuk menghormati orang-orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Ia merasa, tanpa bimbingan guru, dirinya tidak akan sampai pada titik saat ini.

 

“Jika memungkinkan, dana yang seharusnya untuk saya bisa dialihkan menjadi tambahan kesejahteraan bagi guru-guru saya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).

 

Pernyataan tersebut sontak menyentuh banyak pihak. Di usia yang masih muda, Rafif dinilai memiliki kedewasaan berpikir yang luar biasa.

 

Realita Guru yang Masih Memprihatinkan

Bacaan Lainnya

Keputusan Rafif bukan tanpa alasan. Ia mengaku sering melihat langsung bagaimana kondisi sebagian guru, khususnya di sekolahnya, yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi meskipun kesejahteraannya belum memadai.

 

Fenomena ini memang bukan hal baru di Indonesia. Masih banyak guru, terutama di daerah, yang menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi penghasilan maupun fasilitas pendukung.

 

Rafif mengaku miris melihat kenyataan tersebut. Baginya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga sosok yang membentuk karakter dan masa depan siswa.

 

“Guru tetap mengajar dengan sepenuh hati, meski kondisi mereka belum sejahtera. Itu yang membuat saya berpikir untuk melakukan sesuatu,” katanya.

 

Baca Juga: Menjijikkan! Tikus Muncul dari Boks MBG SMKN 8 Semarang, 35 Porsi Makanan Terkontaminasi

 

Hitungan Sederhana yang Bermakna Besar

Tak hanya sekadar menyampaikan keinginan, Rafif juga melakukan perhitungan sederhana terkait nilai manfaat MBG yang akan ia terima. Ia memperkirakan bahwa dalam sisa masa belajarnya sekitar 1,5 tahun, total bantuan yang diterima mencapai Rp6,75 juta.

 

Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi 18 bulan masa sekolah, dengan 25 hari aktif per bulan, dan nilai bantuan Rp15 ribu per hari.

 

Meski angka tersebut mungkin tidak terlalu besar bagi sebagian orang, Rafif melihatnya dari sudut pandang berbeda. Ia percaya bahwa jumlah tersebut bisa menjadi bentuk penghargaan nyata bagi guru.

“Bagi saya mungkin tidak terlalu terasa, tapi bagi guru bisa berarti,” ungkapnya.

 

Ajak Pelajar Lain Peduli

Lebih dari sekadar aspirasi pribadi, Rafif juga mengajak pelajar lain untuk turut peduli terhadap kesejahteraan guru. Ia berharap langkah kecil yang ia lakukan bisa menginspirasi banyak siswa di Indonesia.

 

Menurutnya, kemajuan pendidikan tidak hanya bergantung pada fasilitas atau kurikulum, tetapi juga pada kesejahteraan para pendidiknya.

 

Ia menegaskan bahwa surat yang ia kirim bukan bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan bentuk kepedulian dan harapan agar kebijakan ke depan bisa lebih memperhatikan guru.

“Ini bukan penolakan, tapi bentuk kepedulian dari seorang pelajar,” tegasnya.

 

Respons Publik dan Harapan ke Depan

Aksi Rafif kini menjadi perbincangan hangat dan viral di berbagai platform. Banyak warganet yang memberikan apresiasi atas kepeduliannya. Tidak sedikit pula yang berharap pemerintah dapat mempertimbangkan aspirasi tersebut.

 

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai surat yang dikirim Rafif. Namun kisah ini telah membuka kembali diskusi tentang pentingnya kesejahteraan guru di Indonesia.

 

Di tengah berbagai kebijakan besar, suara kecil dari seorang pelajar justru menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya soal angka dan program, tetapi juga tentang kepedulian dan rasa kemanusiaan.

Kisah Rafif menjadi bukti bahwa perubahan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seorang pelajar yang tulus memperjuangkan gurunya.

 

G7/KMP

Pos terkait