Global7.id – Jepara,
Keracunan jajanan sekolah Jepara terjadi di SD Negeri 1 Pulodarat, Kecamatan Pecangaan, Kamis pagi (8/1/2026). Sebanyak 11 murid sekolah dasar harus dilarikan ke puskesmas setelah mengalami mual, pusing, dan muntah massal usai mengonsumsi jajanan asongan berupa mi goreng sebelum pelajaran dimulai.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 06.30 WIB, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya 17 siswa membeli jajanan asongan berupa mi goreng yang dijual pedagang keliling di sekitar lingkungan sekolah. Makanan tersebut dibungkus menggunakan styrofoam dan dikonsumsi sebelum jam pelajaran pertama.
Tak berselang lama, kondisi para siswa mulai berubah drastis. Satu per satu mengeluhkan mual, pusing, sakit perut, hingga akhirnya muntah. Situasi kelas pun berubah panik, membuat guru dan pihak sekolah langsung bertindak cepat.
Kepala SD Negeri 1 Pulodarat, Ikwan, S.Pd, setelah dikonfirmasi Jurnalis Global 7, mengungkapkan bahwa jajanan tersebut dibeli sebelum masuk kelas.
“Anak-anak jajan sebelum pelajaran, sekitar jam tujuh kurang. Ada kakek-kakek penjual asongan keliling yang masuk ke halaman sekolah. Sekitar 17 anak membeli mi goreng yang dibungkus styrofoam,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, gejala keracunan muncul saat proses belajar mengajar baru dimulai.
“Begitu pelajaran dimulai, anak-anak mulai mual, pusing, dan muntah satu per satu. Kami langsung membawa mereka ke puskesmas terdekat,” jelasnya.
Menurut Ikwan, keberadaan pedagang asongan di sekolah tersebut bukan hal baru.
“Penjual asongan itu setiap hari keliling dan masuk ke sekolah. Karena belum ada kantin sekolah, anak-anak biasanya jajan di luar atau saat ada pedagang lewat,” pungkasnya.
Sementara itu, pihak Puskesmas Pecangaan membenarkan adanya kejadian tersebut. Dokter Eva, dokter jaga yang menangani para siswa, menyampaikan bahwa total terdapat 11 anak yang mengalami dugaan keracunan makanan, terang Dokter Eva Pada awak media Global7.
“Benar, ada 11 anak yang kami tangani akibat dugaan keracunan makanan. Saat ini kondisi mereka sudah membaik, dan 10 anak sudah diperbolehkan pulang. Satu anak masih kami lakukan pemantauan, ” ujar Dokter Eva.
Dokter Eva menjelaskan, para siswa mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, mulai dari pemeriksaan kondisi umum hingga pemberian obat untuk meredakan gejala keracunan. Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap jajanan yang dikonsumsi anak-anak di lingkungan sekolah.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi sekolah, orang tua, dan pihak terkait tentang bahaya jajanan asongan yang tidak terjamin kebersihannya. Kasus ini sekaligus membuka kembali persoalan minimnya fasilitas kantin sehat di sekolah dasar.
Pihak sekolah menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait guna mencegah kejadian serupa terulang. Orang tua pun berharap ada langkah tegas, mulai dari penertiban pedagang asongan, penyediaan kantin sekolah, hingga edukasi keamanan pangan bagi siswa.
G7/SGX










