Harga BBM Diprediksi Naik 10% Mulai 1 April 2026! Pertamax Terancam Tembus Rp13.000, Ini Pemicunya

Ilustrasi pengisian BBM Pertamax di SPBU saat harga BBM diprediksi naik April 2026
Ilustrasi pengisian BBM Pertamax di SPBU saat harga BBM diprediksi naik April 2026

Global7.id – Nasional, 

Kabar kurang menggembirakan datang bagi masyarakat Indonesia menjelang awal April 2026. Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi diprediksi mengalami kenaikan signifikan hingga 10 persen, seiring lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik global yang semakin memanas.

Kenaikan ini dipicu konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta terganggunya jalur distribusi strategis di Selat Hormuz. Situasi tersebut berdampak langsung pada harga minyak mentah global yang terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.

 

Berdasarkan data pasar, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka Mei 2026 tercatat melonjak hingga USD 115,86 per barel atau naik sekitar 2,92 persen. Kondisi ini menjadi indikator kuat bahwa tekanan terhadap harga energi, termasuk BBM di Indonesia, tidak bisa dihindari.

 

Pengamat ekonomi, Wisnu Wibowo, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi logis dari tren global tersebut. Ia memperkirakan, penyesuaian harga bisa berada di kisaran 5 hingga 10 persen, tergantung pada stabilitas harga minyak dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

 

“Jika mengacu pada kondisi normal, kenaikan bisa berkisar Rp1.000 per liter. Artinya, jika harga Pertamax saat ini berada di kisaran Rp12.300, maka sangat mungkin akan mendekati bahkan menembus Rp13.000 per liter,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

 

Sebagai gambaran, pada periode Februari ke Maret 2026 saja, harga BBM non-subsidi sudah mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) meningkat dari Rp12.450 menjadi Rp12.900, dan Pertamax Turbo dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.

 

Tak hanya itu, jenis solar non-subsidi juga ikut terdampak. Dexlite mengalami kenaikan dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter.

 

Meski demikian, pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi. Hingga saat ini, harga Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter dan Solar subsidi di Rp6.800 per liter.

Bacaan Lainnya

 

Penentuan harga BBM non-subsidi sendiri mengacu pada mekanisme pasar yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Formula ini mempertimbangkan sejumlah variabel penting seperti harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak dan distribusi.

 

Baca Juga: BBM di Wamena Tembus Rp25 Ribu, Respons Gibran Cuma Begini… Netizen Auto Ramai

Selain itu, acuan harga juga merujuk pada Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus, yang merupakan indikator global dalam menentukan harga komoditas energi.

“Variabel harga acuan dan kurs sangat fluktuatif saat ini, sehingga penyesuaian harga di tingkat eceran menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan,” tambah Wisnu.

 

Meski tekanan kenaikan cukup kuat, pemerintah diperkirakan tidak akan terburu-buru menaikkan harga BBM secara menyeluruh, terutama untuk jenis bersubsidi. Langkah penyesuaian disebut akan menjadi opsi terakhir, dengan mempertimbangkan kondisi fiskal negara dan daya beli masyarakat.

 

Pemerintah juga masih memantau potensi panic buying yang bisa memperparah situasi di lapangan. Jika kondisi tetap terkendali, evaluasi harga kemungkinan baru akan dilakukan secara menyeluruh pada Mei 2026.

 

Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Kenaikan harga BBM memang berpotensi memicu efek domino terhadap harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi, namun pemerintah diyakini akan mengambil langkah antisipatif untuk menekan dampaknya.

 

Dengan dinamika global yang masih belum stabil, potensi kenaikan harga BBM menjadi isu yang harus diwaspadai bersama. Awal April 2026 bisa menjadi titik krusial bagi kebijakan energi nasional dan kondisi ekonomi masyarakat ke depan.

 

G7/KMP

Pos terkait