Tebuireng Perkuat Peran Strategis dalam Menjaga dan Mengembangkan Manhaj Aswaja NU, Oleh Nurul Fatah

JOMBANG | Global7.id – Pondok Pesantren Pondok Pesantren Tebuireng dinilai memiliki peran strategis dalam membangun, menjaga, dan mengembangkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama (Aswaja NU) di Indonesia. Sejak didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, Tebuireng tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat pengembangan pemikiran Islam Nusantara yang berpengaruh luas di tengah masyarakat.

 

Dalam perspektif sosial dan intelektual, hegemoni dipahami bukan semata sebagai bentuk dominasi kekuasaan, melainkan kepemimpinan moral, pengaruh pemikiran, serta otoritas keilmuan yang diterima secara kultural oleh masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, Tebuireng membangun pengaruh manhaj Aswaja melalui tradisi keilmuan, keteladanan ulama, serta sistem pendidikan pesantren yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam moderat.

 

Sejak awal berdirinya, Tebuireng dikenal sebagai salah satu pusat pembentukan tradisi keilmuan Aswaja. Pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang menguasai kitab kuning, tetapi juga membangun pola pikir yang moderat, metodologis, dan berlandaskan adab. Penguatan akidah Asy’ariyah-Maturidiyah, fikih empat mazhab dengan dominasi mazhab Syafi’i, serta tasawuf yang merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi menjadi karakter utama pendidikan yang dikembangkan.

 

Salah satu kekuatan Tebuireng terletak pada pembangunan kesadaran manhaji atau metodologi berpikir keagamaan. Santri tidak hanya diajarkan memahami isi kitab, tetapi juga metode dalam menggali dan memahami ajaran agama. Tradisi talaqqi, sanad keilmuan, adab, serta forum Bahtsul Masail menjadi fondasi penting dalam menjaga kesinambungan pemikiran Aswaja NU.

 

Di tengah perkembangan Indonesia modern, Tebuireng juga berfungsi sebagai benteng ideologis Aswaja dalam menghadapi berbagai arus pemikiran global. Tantangan tersebut meliputi paham puritanisme tekstual, radikalisme transnasional, liberalisme ekstrem, hingga fenomena post-truth yang berkembang di era digital.

 

Dengan berpegang pada prinsip menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat, Tebuireng dinilai mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Pendekatan tersebut membuat pesantren tidak terjebak dalam konservatisme yang kaku, sekaligus tidak larut dalam modernisasi tanpa arah yang jelas.

 

Pengaruh pemikiran Tebuireng kemudian berkembang melalui jaringan alumni, lembaga pendidikan, forum keilmuan, organisasi sosial-keagamaan, hingga ruang publik digital. Dari jaringan tersebut, nilai-nilai utama Aswaja seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) terus diperkuat sebagai pandangan keagamaan yang berkembang di kalangan warga Nahdliyin.

 

Meski demikian, perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru bagi otoritas keilmuan pesantren. Di era digital, sumber pembelajaran agama tidak lagi terbatas pada pesantren dan majelis ilmu, tetapi juga tersebar melalui media sosial, platform video, dan berbagai kanal digital lainnya.

Bacaan Lainnya

 

Fenomena tersebut dinilai berpotensi menimbulkan fragmentasi otoritas keilmuan, terutama ketika informasi keagamaan disampaikan secara instan tanpa metodologi yang memadai maupun sanad keilmuan yang jelas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan manhaj Aswaja di kalangan generasi muda.

 

Karena itu, penguatan peran Tebuireng di era kontemporer tidak hanya dilakukan melalui pendidikan pesantren secara konvensional, tetapi juga melalui penguasaan ruang akademik, media, teknologi digital, serta produksi narasi publik yang berkualitas. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan nilai-nilai Aswaja tetap relevan dan mampu menjawab dinamika zaman.

 

Sebagai salah satu pesantren berpengaruh di Indonesia, Tebuireng memikul tanggung jawab historis untuk menjaga sekaligus mengembangkan warisan pemikiran Aswaja NU. Peran tersebut diharapkan mampu memastikan manhaj Aswaja tetap hidup, adaptif, dan menjadi bagian penting dalam membangun peradaban Islam Nusantara di tengah perubahan global yang semakin kompleks.

 

G7/Nrl

Pos terkait