Global7.id – Jepara | Rabu 14 Januari 2026,
Bencana alam yang tak kunjung reda mulai memunculkan dampak serius bagi kesehatan warga. Sebagian warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dilaporkan mulai terserang berbagai penyakit setelah lima hari berturut-turut hidup dalam kepungan cuaca ekstrem.
Hingga Selasa (13/1/2026), hujan dengan intensitas tinggi masih terus mengguyur kawasan pegunungan Muria tersebut. Kondisi medan yang sulit, udara dingin, serta keterbatasan aktivitas warga membuat daya tahan tubuh menurun. Keluhan kesehatan pun mulai bermunculan, terutama batuk, pilek, hingga sesak napas.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyebutkan pihaknya bersama instansi kesehatan telah menyiapkan dua posko kesehatan untuk memastikan layanan medis tetap berjalan di tengah kondisi darurat.
“Sudah ada dua posko kesehatan. Satu di dekat jalur darurat, satu lagi di Balai Desa Tempur. Pelayanan dilakukan oleh Puskesmas Keling dan RSUD dr Rehatta,” ujar Arwin di lokasi.
Posko Kesehatan Jadi Tumpuan Warga
Pantauan di lapangan menunjukkan, posko kesehatan di jalur darurat menjadi tempat utama warga yang turun dari permukiman terdampak. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksakan kondisi kesehatan sekaligus meminta obat-obatan.
Keluhan yang paling banyak disampaikan adalah batuk dan pilek, akibat paparan hujan dan udara lembap dalam waktu lama. Sementara itu, warga dengan riwayat penyakit tertentu, seperti asma, mulai mengalami gangguan pernapasan yang lebih serius.
Untuk memperkuat layanan, RSUD dr. Rehatta Kelet membuka posko kesehatan tambahan di Balai Desa Tempur. Kepala Bidang Keperawatan RSUD dr Rehatta, Joko Winarno, menjelaskan bahwa layanan ini akan berlangsung selama tiga hari ke depan dengan sistem giliran tenaga kesehatan.
“Kami buka pelayanan 24 jam. Setiap hari ada 10 tenaga kesehatan yang bertugas. Hari ini bahkan Direktur kami yang merupakan dokter spesialis bedah turun langsung ke lokasi,” jelas Joko.
Kasus Darurat Mulai Ditemukan
Di tengah pelayanan tersebut, satu warga terpaksa dievakuasi ke RSUD dr Rehatta Kelet setelah terdeteksi mengalami suspek usus mampet, kondisi yang membutuhkan penanganan medis lanjutan.
“Tadi langsung kami bawa turun dan dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya tidak memungkinkan ditangani di posko,” kata Joko.
Selain penanganan di posko, tim medis juga melakukan jemput bola ke rumah-rumah warga. Tercatat ada lima pasien yang perlu dikunjungi langsung, termasuk tiga pasien pasca operasi yang seharusnya menjalani kontrol rutin ke rumah sakit.
“Kami datang ke rumah-rumah pasien. Ini bagian dari upaya memastikan warga tetap mendapatkan layanan kesehatan meski sedang dalam kondisi bencana,” imbuhnya.
Ancaman Kesehatan di Tengah Cuaca Ekstrem
Curah hujan tinggi yang berlangsung lama tidak hanya memicu bencana alam, tetapi juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan jika tidak diantisipasi. Lingkungan lembap, keterbatasan air bersih, dan aktivitas warga yang terganggu menjadi faktor risiko munculnya penyakit menular maupun penyakit kronis yang kambuh.
BPBD Jepara bersama instansi terkait terus mengimbau warga untuk tetap waspada, menjaga kebersihan diri, serta segera mendatangi posko kesehatan apabila merasakan keluhan sekecil apa pun.
Dengan kondisi cuaca yang masih belum stabil, kehadiran posko kesehatan dan respons cepat tenaga medis menjadi harapan utama bagi warga Desa Tempur agar dampak bencana tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas.
G7/BPBD










