Sungai Utama dari Desa Tempur Jepara Kembali Meluap, Warga Donorojo Diminta Waspada Banjir Bandang

Foto, Sungai Utama dari Desa Tempur Jepara Kembali Meluap, Warga Donorojo Diminta Waspada Banjir Bandang

Global7.id – Jepara, 

Kondisi cuaca ekstrem yang masih menyelimuti wilayah Pegunungan Muria kembali berdampak pada meningkatnya debit sungai di Kabupaten Jepara. Sungai utama yang berhulu dari Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, dilaporkan kembali meluap pada Rabu (14/1/2026). Luapan ini dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang terus mengguyur wilayah hulu dalam beberapa hari terakhir.

 

Pantauan di lapangan menunjukkan debit air sungai meningkat cukup cepat. Air sungai tampak berwarna cokelat pekat dengan arus deras yang membawa material lumpur, pasir, ranting, hingga potongan kayu dari kawasan atas Gunung Tempur. Kondisi tersebut menandakan tingginya limpasan air hujan dari wilayah pegunungan yang langsung mengalir menuju daerah hilir.

 

Luapan Sungai Berdampak Hingga Wilayah Hilir

Luapan sungai dari Desa Tempur tidak hanya dirasakan di wilayah hulu. Dampaknya juga menjalar hingga wilayah hilir, tepatnya di Dukuh Dungpucung, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Di kawasan ini, debit air sungai masih terpantau tinggi dengan aliran yang cukup deras meski hujan di wilayah hilir sempat reda.

 

Beberapa area persawahan yang berada di sekitar bantaran sungai mulai tergenang air. Genangan juga terlihat di lahan kosong dan jalur setapak yang biasa dilalui warga untuk aktivitas sehari-hari. Kondisi ini membuat masyarakat setempat meningkatkan kewaspadaan, mengingat pengalaman banjir sebelumnya yang kerap datang secara tiba-tiba.

 

“Kalau hujan di atas gunung deras, biasanya tidak lama air langsung naik. Sekarang sudah kelihatan keruh dan arusnya kuat,” ujar seorang warga Dukuh Dungpucung.

 

Pantauan Hulu: Gunung Tempur Masih Diselimuti Mendung Pekat

Berdasarkan pantauan langsung di wilayah atas Gunung Tempur, kondisi cuaca  pagi hari ini masih mendung pekat dan hujan. Awan gelap terlihat menggantung di kawasan pegunungan, menandakan potensi hujan susulan masih cukup besar. Situasi ini menjadi perhatian warga di daerah hilir karena debit air sungai bisa kembali meningkat sewaktu-waktu.

 

Bacaan Lainnya

Hujan yang turun di kawasan pegunungan memiliki dampak signifikan terhadap aliran sungai di bawahnya. Kontur wilayah yang curam membuat air hujan cepat mengalir ke sungai utama tanpa sempat terserap sempurna oleh tanah. Akibatnya, kenaikan debit air sering terjadi secara mendadak.

 

Kekhawatiran Potensi Banjir Bandang

Kondisi cuaca yang belum stabil memunculkan kekhawatiran akan potensi banjir bandang. Sungai utama dari Desa Tempur dikenal sebagai salah satu jalur aliran air dari kawasan Pegunungan Muria yang debitnya dapat meningkat drastis dalam waktu singkat, terutama saat hujan lebat terjadi di wilayah hulu.

 

Material lumpur, batu, dan kayu yang terbawa arus juga dapat memperparah kondisi apabila terjadi penyumbatan di alur sungai. Jika hal tersebut terjadi, luapan air berpotensi lebih besar dan dapat mengancam permukiman warga yang berada di sepanjang bantaran sungai.

 

Aktivitas Warga Mulai Terganggu

Meluapnya sungai berdampak pada aktivitas warga di sekitar lokasi terdampak. Sejumlah warga memilih membatasi kegiatan di luar rumah, terutama pada saat hujan kembali turun. Anak-anak diingatkan untuk tidak bermain di sekitar sungai karena derasnya arus dinilai sangat berbahaya.

 

Para petani di wilayah hilir juga terpaksa menunda aktivitas di sawah. Lahan pertanian yang tergenang air dikhawatirkan dapat merusak tanaman, sementara akses menuju sawah menjadi licin dan berisiko.

 

“Untuk sementara kami menunggu air surut. Kalau dipaksakan ke sawah, malah berbahaya,” kata salah seorang petani setempat.

 

Imbauan Kewaspadaan untuk Warga Bantaran Sungai

Seiring masih tingginya debit air sungai, warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar aliran sungai, terutama saat hujan turun, serta mengamankan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi.

 

Warga juga diingatkan untuk segera melaporkan kepada perangkat desa apabila terjadi kenaikan debit air secara signifikan atau tanda-tanda luapan yang lebih besar. Informasi cepat dinilai sangat penting untuk mengantisipasi risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

 

Jepara Masih Rawan Bencana Hidrometeorologi

Kabupaten Jepara, khususnya wilayah utara yang berada di sekitar Pegunungan Muria, dikenal sebagai daerah rawan bencana hidrometeorologi saat musim hujan. Curah hujan tinggi dengan durasi panjang kerap memicu banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah titik.

 

Kondisi ini menuntut kewaspadaan bersama dari seluruh elemen masyarakat. Dengan cuaca yang masih berpotensi hujan lebat, warga diharapkan terus memantau perkembangan kondisi lingkungan sekitar dan tidak mengabaikan tanda-tanda alam yang dapat mengarah pada bencana.

 

Hingga Rabu pagi ini pemantauan debit air sungai utama dari Desa Tempur masih terus dilakukan oleh warga setempat. Masyarakat berharap hujan segera mereda agar debit air kembali normal dan ancaman banjir bandang dapat diminimalkan.

 

G7/MRS

Pos terkait