Hujan Deras Rendam PLTU Jepara, Area Terendah Tergenang, Publik Cemas

Foto, Hujan Deras Rendam PLTU Jepara, Area Terendah Tergenang, Publik Cemas

Global7.id – Jepara, 

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Jepara sejak Jumat malam memicu banjir di sejumlah wilayah, termasuk kawasan objek vital nasional PLTU Jepara yang berlokasi di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Peristiwa banjir yang terjadi pada Sabtu (10/1/2026) ini langsung menjadi perhatian publik karena menyangkut keamanan pasokan listrik regional Jawa-Bali.

 

Genangan air dilaporkan masuk ke area terendah di dalam kompleks PLTU Jepara. Air berasal dari luapan sungai di sekitar kawasan PLTU yang tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan tinggi dalam durasi panjang. Meski sempat mengkhawatirkan, banjir tersebut dipastikan tidak berdampak pada operasional pembangkit listrik.

 

Area Terendah Jadi Titik Genangan

Berdasarkan laporan lapangan, genangan tidak terjadi di seluruh kawasan PLTU. Air terkonsentrasi di zona terbuka dan jalur internal yang memiliki elevasi paling rendah. Pada puncak banjir, ketinggian air mencapai sekitar 70 sentimeter di beberapa titik.

 

Kondisi tersebut sempat menghambat mobilitas kendaraan operasional di dalam kawasan PLTU. Namun, area vital seperti ruang mesin utama, panel kontrol, dan instalasi inti pembangkit dilaporkan aman dari genangan air.

 

Sistem proteksi, elevasi bangunan, serta respons cepat dari pengelola PLTU dinilai mampu mencegah air masuk ke fasilitas krusial.

 

BPBD Jepara: Operasional PLTU Aman

Kepala BPBD Jepara, Erwin Noor, memastikan bahwa banjir di kawasan PLTU Jepara tidak mengganggu aktivitas pembangkitan listrik.

 

Bacaan Lainnya

“Genangan memang terjadi di area terendah PLTU akibat luapan sungai. Namun tidak sampai masuk ke area vital. Operasional pembangkit aman dan tetap berjalan normal,” ujar Erwin Noor saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1/2026).

 

Erwin menjelaskan, air mulai naik sejak pagi hari dan mencapai puncaknya sekitar siang. Berkat penanganan cepat dan sistem drainase internal, genangan berangsur surut pada hari yang sama.

 

“Ketinggian air saat puncak sekitar 70 sentimeter. Sore hari sudah mulai surut, dan tidak ada laporan kerusakan fasilitas penting,” tambahnya.

 

Respons Cepat dan Pengamanan Internal

Sejak genangan terpantau masuk kawasan PLTU, tim teknis langsung melakukan langkah antisipasi. Pompa tambahan diaktifkan untuk mempercepat penyedotan air, sementara jalur listrik dan panel kontrol diperiksa secara berkala.

 

Pengelola PLTU juga memperketat pengawasan keselamatan kerja dan membatasi aktivitas di area yang masih tergenang guna menghindari risiko kecelakaan.

 

Hingga Sabtu sore, tidak ada laporan pemadaman listrik akibat banjir tersebut. Pasokan listrik ke wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya tetap berjalan normal.

 

Permukiman Warga Ikut Terdampak

Selain kawasan PLTU, banjir juga merendam permukiman warga di Desa Tubanan. Sejumlah rumah, jalan desa, dan lahan persawahan dilaporkan tergenang dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 10 hingga 60 sentimeter.

 

Warga menyebut banjir datang cukup cepat setelah hujan deras mengguyur tanpa jeda selama beberapa jam. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir menyebabkan aktivitas warga terganggu dan memaksa sebagian warga membersihkan sisa lumpur setelah air surut.

 

Jepara Masih Rawan Cuaca Ekstrem

BPBD Jepara menegaskan bahwa wilayah Jepara masih berada dalam fase rawan bencana hidrometeorologi. Selain banjir, beberapa wilayah lain di Jepara dalam beberapa hari terakhir juga dilaporkan mengalami tanah longsor, pohon tumbang, dan luapan sungai.

 

Erwin Noor mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan wilayah dataran rendah.

 

“Kami minta masyarakat terus memantau perkembangan cuaca. Jika hujan deras berlangsung lama, segera waspada dan utamakan keselamatan,” tegasnya.

 

Jadi Alarm Mitigasi Objek Vital

Peristiwa banjir di PLTU Jepara ini menjadi pengingat penting tentang kerentanan kawasan strategis terhadap cuaca ekstrem. Meski tidak mengganggu operasional, kejadian ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem mitigasi banjir di kawasan industri dan objek vital nasional.

 

Normalisasi drainase, penguatan tanggul, serta sistem peringatan dini dinilai penting agar kejadian serupa tidak menimbulkan risiko lebih besar di masa mendatang.

 

G7/BPBD

Pos terkait