Keracunan MBG Grobogan: Ratusan Santriwati Tumbang, IGD Rumah Sakit Penuh

Foto, Sejumlah santriwati dirawat di rumah sakit usai diduga keracunan Makan Bergizi Gratis di Grobogan

Global7.id – Grobogan, 

Kasus keracunan MBG Grobogan menghebohkan Jawa Tengah. Ratusan santriwati Pondok Pesantren Miftahul Huda, Kecamatan Gubug, dilaporkan mengalami keracunan massal usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/1/2026).

 

Peristiwa ini sontak menggemparkan warga dan memicu kepanikan di lingkungan pondok. Gejala keracunan mulai dirasakan para santri sejak sore hingga malam hari, beberapa jam setelah makan siang. Awalnya hanya mengeluh pusing dan mual, namun kondisi berkembang cepat menjadi muntah, diare, lemas, bahkan demam tinggi.

 

Ratusan Santri Terserang, Puluhan Harus Dirawat Intensif

Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda, Fuad Abdillah, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa sekitar 1.260 santri di lembaga pendidikan yang dinaunginya menjadi penerima MBG pada hari itu.

 

“Yang mengalami gejala keracunan jumlahnya ratusan. Awalnya kami rawat di Unit Kesehatan Santri (UKS), tapi karena banyak yang kondisinya tidak membaik, akhirnya harus kami rujuk ke fasilitas kesehatan,” ujar Fuad, Sabtu (10/1/2026) malam.

 

Fuad menegaskan, MBG baru sekitar dua bulan terakhir diterima oleh pihak pondok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug. Selama ini, program tersebut berjalan tanpa masalah. “Biasanya aman, baru kali ini terjadi keracunan makanan,” tambahnya.

 

IGD Dipenuhi Santriwati, Rumah Sakit Kewalahan

Pantauan di lapangan menunjukkan Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejumlah rumah sakit di Grobogan dipenuhi santriwati sejak Sabtu sore. Di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, puluhan siswi tampak terbaring lemas di ranjang perawatan, sebagian harus menjalani rawat inap akibat kondisi yang cukup serius.

 

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data terakhir dari pihak pondok:

33 santriwati dirawat inap di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo.

11 santriwati dirawat di Puskesmas Kedungjati.

11 santriwati dirawat di RSUD Purwodadi.

8 santriwati masih menjalani perawatan di UKS pondok pesantren.

Tak hanya santri, tujuh guru juga dilaporkan mengalami gejala serupa. Namun, hanya dua guru yang akhirnya membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan.

 

Menu MBG Diduga Jadi Pemicu

Menu MBG yang dikonsumsi para santri pada Jumat siang tersebut diketahui berupa nasi kuning, abon, dan telur dadar. Dugaan sementara, salah satu atau kombinasi menu tersebut menjadi pemicu keracunan massal.

 

Salah satu korban, Fauzitul Inayah (16), siswi kelas 2 SMK Miftahul Huda, mengaku mulai merasakan gejala tak lama setelah Magrib. “Kepala saya pusing, perut mual, badan lemas. Teman-teman juga banyak yang muntah,” tuturnya dari ranjang IGD.

 

Hingga kini, pihak berwenang masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Namun, dugaan kuat mengarah pada kontaminasi makanan atau proses pengolahan yang tidak higienis.

 

Program Nasional Kembali Disorot

Kasus ini langsung memantik reaksi luas di masyarakat. Program MBG yang digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan nasional kembali mendapat sorotan tajam. Warganet mempertanyakan standar keamanan pangan, pengawasan dapur penyedia, serta sistem distribusi makanan yang dinilai belum maksimal.

 

Desakan Evaluasi Menyeluruh

Pihak pondok berharap pemerintah segera turun tangan dan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. “Kami tidak menolak programnya, tapi keselamatan anak-anak harus jadi prioritas utama,” tegas Fuad.

 

Sementara itu, orang tua santri diliputi kekhawatiran. Banyak yang mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi anak-anak mereka. Beberapa di antaranya mendesak agar MBG dihentikan sementara sampai ada jaminan keamanan.

 

Alarm Bahaya untuk MBG

Kasus keracunan massal di Grobogan ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia. Program yang bertujuan mulia bisa berubah menjadi bencana jika pengawasan lengah. Publik kini menanti langkah tegas pemerintah: evaluasi total atau risiko kejadian serupa kembali terulang di daerah lain?

 

G7/KMP

Pos terkait