Togel dan Tulang Patah: Kisah Rifan dari Tahunan, Jepara

Foto, tangkap layar dari ilustrasi togel HK

Global7.id – Jepara,

Rifan, pria lima puluhan tahun asal Kecamatan Tahunan, Jepara, dikenal sebagai penjual mebel online yang ulet. Tiap pagi ia berkeliling mencari mebel dari pengrajin kecil, memotret, lalu memasarkannya lewat media sosial dan marketplace. Banyak yang bilang Rifan punya bakat dagang.


Tapi ada satu hal yang diam-diam menggerogoti hidupnya: togel.


Semua berawal dari satu kemenangan tujuh tahun silam. Rifan menebak empat angka yang membuatnya menang belasan juta. Sejak saat itu, pikirannya dikunci oleh satu harapan semu: angka keberuntungan akan datang lagi.


Sayangnya, selama tujuh tahun berikutnya, yang datang hanyalah kerugian.


Dia pernah menang sekali-dua kali, tapi dalam setahun, hanya satu momen itu yang memberinya “kemenangan”, itupun tak sebanding dengan total uang yang ia pasang.


Bisnis mebelnya tetap jalan, tapi semua hasilnya tak pernah benar-benar sampai ke tabungan. Habis untuk “modal keberuntungan”. Dua motor keluarganya dijual diam-diam. Salah satunya milik anaknya yang kuliah di Semarang.
Istrinya sempat mengamuk, bahkan sempat mengancam pisah. Tapi Rifan selalu punya alasan: “Sekali ini saja, besok nggak lagi.” Tapi besok tak pernah datang.


Suatu malam, Rifan menang Rp5 juta. Bahagianya luar biasa. Ia mengebut mobil pickup tua miliknya, hendak membeli makanan untuk keluarga sebagai kejutan.


Namun di tikungan Desa Krapyak, ia hilang kendali. Tabrakan keras tak bisa dihindari. Pickup-nya ringsek. Ia ditemukan warga dengan kaki kiri terjepit dan tulang patah.


Berbulan-bulan ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Usaha mebelnya berhenti. Uang habis untuk perawatan. Pickup satu-satunya alat angkut juga rusak berat.


Dan di situlah, akhirnya, kesadarannya tumbuh. Ia menatap langit-langit rumah dan berkata lirih pada istrinya:
“Maafkan aku… Togel bukan harapan. Cuma jerat perlahan…”


 

Kini Rifan mulai bangkit pelan-pelan. Ia tak lagi memegang kupon atau mencari angka mimpi. Ia mulai membuat konten dagang mebel secara jujur, walau dari nol. Meski kaki belum pulih benar, ia tetap ingin memperbaiki semuanya.


“Togel itu cuma harapan kosong yang dihias gemerlap. Tapi keluargaku, merekalah yang nyata.”

 

Bacaan Lainnya

Togel, Tulang, dan Kesadaran

Setelah kecelakaan itu, hidup Rifan seakan terhenti. Ia hanya bisa menatap plafon kamar, ditemani derit kasur tua dan bau balsem yang menusuk. Kakinya diperban tebal, dan sesekali terasa nyeri menusuk sampai ke ubun-ubun.


Istrinya, yang dulu selalu marah karena togel, kini diam. Bukan karena memaafkan, tapi karena lelah.


“Mas… anak kita mau bayar semesteran. Gimana?” bisiknya pelan, suatu malam.
Rifan diam. Bibirnya bergerak-gerak, tapi tak ada kata keluar. Yang keluar cuma air mata.


Pickup rusak, motor habis. Uang tabungan sudah lama tak pernah terdengar kabarnya.


Satu-satunya yang tersisa hanyalah waktu… dan penyesalan.


 

Bulan kedua, Rifan mulai duduk di kursi roda. Ia minta dibantu buka HP-nya. Bukan untuk cari angka mimpi, tapi untuk menghubungi teman lama: pelanggan-pelanggan mebelnya.


Ia mulai unggah ulang foto lama, tawarkan meja, lemari, rak piring. Kadang dibalas, kadang tidak.


 

Tapi ia terus mencoba. Satu demi satu pesanan kecil mulai masuk. Tetangga datang membantu angkut barang. Bahkan anaknya, yang dulu motornya dijual, kini pulang setiap akhir pekan untuk bantu-bantu kirim barang.


Suatu malam, Rifan duduk di serambi rumah, ditemani kopi dan bau kayu baru.


“Aku pernah bodoh, sangat bodoh,” katanya lirih.


Istrinya duduk di sebelah, diam, tak menyela.


“Tapi kali ini… aku cuma pengin jadi ayah dan suami yang nggak ngecewain.”


Istrinya menatap langit. Lalu pelan menjawab,


“Kalau itu benar, Mas… aku bakal temani sampai kapan pun.”


Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah kecil mereka terasa hangat. Bukan karena uang, tapi karena hati yang mulai pulih.***

 


Sumber: G7.

Pos terkait