Rekor MURI Lagi di Jepara, 3.386 Tulisan Pitutur Luhur dengan Aksara Jawa pada Daun Lontar

Foto, rekor MURI Menulis Pitutur luhur dengan aksara Jawa di atas daun lontar sebanyak 3.386 buah di gedung wanita Jepara.

Global7.id – Jepara,

Ribuan siswa Sekolah Dasar (SD) dan guru mencatatkan rekor MURI Menulis Pitutur luhur dengan aksara Jawa di atas daun lontar sebanyak 3.386 buah.


 

Diketahui, daun lontar atau nama lainnya adalah siwalan. Tumbuhan dengan nama latin Borassus flabellifer L. tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama pada pulau Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara.


 

Masyarakat pada zaman dahulu sebagai aktivitas seperti surat menyurat. Aktivitas ini dilakukan pada masa kerajaan yang memanfaatkan daun lontar sebagai media untuk menulis.

 


Ari Andriani, Ketua MURI Semarang mengatakan jumlah yang sebelumnya diusulkan oleh Pemkab Jepara hanya sebanyak 3.000 buah.


 

Rekor MURI tersebut diikuti oleh 1.168 siswa dan guru se-Kabupaten Jepara serta 551 siswa SD yang merupakan peserta Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) se-Jawa Tengah.


 

“Kami dari MURI tadi sudah menyaksikan, menulis pitutur luhur dengan aksara Jawa di atas daun lontar. Untuk penulisan pitutur luhur ini baru pertama dan pertama kali di atas daun lontar, maka oleh Ketua Umum MURI ini tidak hanya dicatatkan sebagai rekor nasional, tetapi juga dunia,” katanya saat ditemui di Gedung Wanita Jepara, Selasa (22/10/2024).


 

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Rekor MURI tersebut merupakan yang ke-empat kalinya diterima oleh Pemkab Jepara dalam kurun waktu tujuh bulan.


 

Bacaan Lainnya

Tiga Rekor MURI lainnya yaitu, membakar ikan oleh pejabat terbanyak, sajian pindang serani terbanyak, serta menyeduh dan minum kopi oleh perempuan terbanyak.


 

Dalam pemecahan Rekor MURI tersebut, para peserta menulis pitutur luhur dengan aksara Jawa menggunakan pangrupak di atas daun lontar, kemudian di usap menggunakan tinta, sehingga aksara Jawa yang ditulis bisa timbul.


 

Dengan adanya pemecahan Rekor MURI tersebut, ia berharap ke depan bahasa Jawa, yang merupakan bahasa ibu bisa terus dikenal oleh generasi penerus sehingga tidak punah.


 

“Kita sebagai generasi sekarang kadang-kadang kurang ngerti bahasa Jawa, aksara Jawa kurang kenal juga. Makanya dengan acara tunas bahasa ini kami harapkan diangkat lagi bahasa Jawa, bahasa daerah, terutama di daerah masing-masing terutama di daerah sendiri,” harapnya.


 

Salah satu peserta, Dafina Nur Aini Yasfa dari SDIT Ali bin Abi Thalib, Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.


 

Ia mengaku tidak mengalami kesulitan pada saat menulis, sebab sebelumnya sudah latihan.


“Ngga sulit sih, ini baru pertama nulis di daun lontar. Tapi sebelumnya sudah latihan di atas daun lontar juga,” pungkasnya.***

Pos terkait