Global7.id – Kudus,
MBG kembali menjadi sorotan setelah ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus mengalami gangguan kesehatan massal dan harus mendapatkan penanganan medis darurat. Aktivitas belajar mendadak lumpuh total ketika satu per satu siswa tumbang di lingkungan sekolah pada Kamis pagi (29/1/2026).
Insiden tersebut terjadi pada Kamis pagi (29/1/2026). Awalnya, hanya beberapa siswa yang mengeluhkan pusing dan mual saat berada di dalam kelas. Namun kondisi itu dengan cepat memburuk. Dalam waktu singkat, jumlah siswa yang jatuh sakit bertambah drastis. Sejumlah siswa terlihat muntah, ada yang lemas tak berdaya, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan sempat kehilangan kesadaran.
Situasi tersebut sontak memicu kepanikan. Guru-guru langsung menghentikan kegiatan belajar dan berupaya menenangkan siswa lain. Petugas kesehatan sekolah segera dipanggil, sementara sebagian siswa dievakuasi menjauh dari area kelas untuk mencegah kondisi semakin tidak terkendali.
Tak lama kemudian, deretan ambulans keluar-masuk halaman sekolah, membawa para siswa yang kondisinya memburuk ke sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus. Suara sirene yang terus meraung membuat suasana sekolah berubah seperti zona darurat. Beberapa siswa tampak menangis, menyaksikan teman-temannya dibawa pergi menggunakan tandu.
Orang tua siswa berdatangan dengan wajah panik. Mereka berusaha mencari informasi terkait kondisi anak-anak mereka, sebagian memilih langsung menuju rumah sakit untuk memastikan penanganan berjalan baik. Aparat kepolisian dan petugas terkait juga terlihat berada di lokasi untuk membantu pengamanan dan kelancaran evakuasi.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 32 siswa harus dirujuk untuk mendapatkan perawatan medis. Keluhan yang dialami para siswa cukup beragam, mulai dari mual, muntah, pusing berat, diare, hingga gangguan pernapasan. Kondisi tersebut membuat tim medis harus bergerak cepat guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo, membenarkan adanya kejadian gangguan kesehatan massal di lingkungan sekolah tersebut. Ia menyampaikan bahwa seluruh siswa yang terdampak saat ini masih dalam pemantauan intensif oleh tim medis.
“Data sementara ada 32 siswa yang terdampak. Penanganan sudah dilakukan secepat mungkin, dan kondisi mereka masih terus kami pantau,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Menurutnya, tidak semua siswa mengalami gejala yang sama. Sebagian besar mengeluhkan gangguan saluran pencernaan, namun ada pula yang mengalami gangguan pernapasan sehingga membutuhkan observasi lebih lanjut.
“Sebagian besar mengeluh pusing, mual, muntah. Ada yang diare, dan ada juga yang mengalami sesak napas,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Mustiko mengungkapkan bahwa gejala awal sebenarnya sudah dirasakan para siswa sejak masih berada di rumah. Dari hasil penelusuran sementara, diketahui bahwa makanan yang dikonsumsi adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari sebelumnya.
“Makanan yang dikonsumsi adalah MBG sehari sebelumnya. Saat ini masih kami dalami lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya,” paparnya.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan massal tersebut belum dapat dipastikan. Dinas Kesehatan bersama pihak sekolah dan instansi terkait tengah melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk pemeriksaan sampel makanan, proses pengolahan, hingga jalur distribusi MBG.
Kasus ini langsung menyita perhatian publik. Program MBG yang digulirkan untuk meningkatkan asupan gizi pelajar kini kembali menjadi sorotan, khususnya terkait aspek keamanan pangan dan pengawasan kualitas makanan yang disajikan di sekolah.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara aktivitas belajar tatap muka hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Para orang tua berharap pemerintah daerah segera memberikan kejelasan serta memastikan kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Hingga berita ini diturunkan, seluruh siswa yang dirujuk masih menjalani observasi medis. Hasil investigasi resmi masih ditunggu publik, sementara insiden ini menjadi peringatan keras bahwa pengawasan terhadap program pangan sekolah tidak boleh dilakukan setengah-setengah.
G7/MNRP










