Kursi Masih Jadi Primadona Furnitur Jepara, Kuasai 70 Persen Permintaan Pasar

Foto, para pengusaha furniture memamerkan produknya pada ajang Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) di semarang. /Foto: AJ

SEMARANG, Global7.id – Produk kursi masih menjadi andalan industri furnitur Jepara di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Sejumlah pelaku usaha mebel mengungkapkan bahwa permintaan kursi mendominasi pasar dengan kontribusi sekitar 70 persen dari total penjualan mereka.

 

Hal tersebut disampaikan para pengusaha furnitur saat mengikuti Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 yang berlangsung di DP Mal Semarang, Selasa (16/6/2026). Pameran tersebut diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jepara.

 

Direktur Operasional Zyth Living Furniture, Wahyu Asyhar, mengatakan tingginya permintaan kursi didorong oleh kebutuhan sektor komersial seperti kafe, hotel, dan vila.

 

“Permintaan kursi hampir mencapai 70 persen. Setelah itu disusul meja dan produk untuk kamar tidur,” ujarnya.

 

Selain menyediakan produk jadi, perusahaannya juga melayani pembuatan furnitur sesuai pesanan konsumen. Menurut Wahyu, banyak pelanggan yang menginginkan desain khusus yang disesuaikan dengan ukuran ruangan maupun konsep interior bangunan.

 

Untuk bahan baku, Zyth Living Furniture sebagian besar menggunakan kayu jati. Namun, perusahaan juga memanfaatkan kayu mahoni dan beberapa jenis kayu lainnya yang diperoleh dari Perhutani.

 

Di sisi lain, Wahyu mengakui bahwa kondisi global turut memengaruhi industri furnitur, khususnya pasar ekspor ke kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga bahan baku, seperti busa, juga berdampak pada biaya produksi sehingga perusahaan melakukan penyesuaian harga sekitar 10 persen.

 

Sementara itu, Direktur Alfa Living Furniture, Muhammad Alhaq, menyampaikan bahwa kursi juga menjadi produk paling diminati di perusahaannya dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap total penjualan.

Bacaan Lainnya

 

“Kami mengerjakan furnitur untuk kafe, restoran, dan vila. Produk yang paling banyak dicari adalah kursi dan meja makan. Untuk proyek hotel dan vila, permintaan tempat tidur juga cukup tinggi,” katanya.

 

Alhaq menjelaskan bahwa bahan baku yang digunakan menyesuaikan kebutuhan pelanggan, mulai dari kayu jati, mahoni hingga kayu sukun.

 

Menurutnya, situasi geopolitik global saat ini turut memberikan dampak terhadap industri furnitur. Sejumlah calon pembeli memilih menunda transaksi karena mempertimbangkan kondisi ekonomi yang belum stabil.

 

Meskipun biaya produksi mengalami peningkatan, pelaku usaha furnitur belum sepenuhnya dapat menaikkan harga jual. Kondisi pasar yang masih kompetitif membuat mereka harus berhitung cermat agar tetap mampu mempertahankan penjualan.

 

“Seharusnya ada penyesuaian harga, tetapi kondisi pasar membuat kami harus bertahan. Jika harga dinaikkan, akan cukup sulit,” ujar Alhaq.

 

G7/AJ

Pos terkait