Jokowi Mati-matian untuk PSI, Sinyal Kuat Kaesang Dimantapkan, Gibran Disiapkan Jadi Presiden

Foto, Jokowi Mati-matian untuk PSI, Sinyal Kuat Kaesang Dimantapkan, Gibran Disiapkan Jadi Presiden

Global7.id – Nasional, 

Jokowi menyatakan akan bekerja mati-matian untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebuah pernyataan yang langsung memantik sorotan publik dan analisis tajam pengamat politik. Sikap Jokowi tersebut dinilai bukan sekadar dukungan politik biasa, melainkan sinyal kuat adanya agenda jangka panjang yang berkaitan langsung dengan masa depan politik kedua anaknya, Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming Raka.

 

Sorotan tersebut datang dari pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga dari Universitas Esa Unggul. Menurutnya, komitmen Jokowi untuk PSI memiliki makna ganda dan sarat kepentingan jangka panjang.

 

“Motivasi Jokowi bekerja mati-matian untuk PSI tidak tunggal. Ada agenda politik yang terencana dan berlapis,” ujar Jamiluddin saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

 

Dua Agenda Besar di Balik PSI

Jamiluddin menjelaskan, setidaknya terdapat dua target utama yang ingin dicapai Jokowi melalui PSI. Target pertama adalah memantapkan posisi Kaesang Pangarep sebagai tokoh politik nasional melalui jabatan strategisnya di PSI. Dengan dukungan penuh Jokowi, PSI diharapkan tumbuh menjadi partai yang diperhitungkan secara elektoral dan politik.

 

Target kedua, yang dinilai lebih besar, adalah membuka jalan politik bagi Gibran Rakabuming Raka untuk melangkah menuju kursi Presiden pada Pilpres 2034. Menurut Jamiluddin, PSI dapat berperan sebagai kendaraan awal yang menjaga kesinambungan kekuasaan keluarga Jokowi.

 

“PSI bisa menjadi alat politik yang efektif untuk memastikan Kaesang mapan dan Gibran tetap berada di jalur kekuasaan,” tegasnya.

 

Dramaturgi Politik Jokowi

Bacaan Lainnya

Lebih jauh, Jamiluddin mengaitkan langkah Jokowi dengan teori dramaturgi dalam komunikasi politik. Dalam teori tersebut, aktor politik memainkan dua peran sekaligus: panggung depan dan panggung belakang.

 

Di panggung depan, Jokowi tampil sebagai negarawan yang ingin membantu partai muda berkembang dan memberi ruang bagi generasi baru. Narasi ini disambut meriah oleh kader PSI dan simpatisan yang melihat Jokowi sebagai simbol elektabilitas dan kekuatan politik.

 

Namun di panggung belakang, terdapat agenda yang lebih realistis dan kalkulatif.

 

“Target sesungguhnya bukan hanya PSI besar, tetapi memastikan Kaesang kokoh di partai dan Gibran aman hingga 2029, lalu disiapkan menjadi presiden pada 2034,” kata Jamiluddin.

 

Isu Dinasti Kembali Menguat

Pernyataan Jokowi ini sekaligus menghidupkan kembali isu dinasti politik yang selama ini melekat pada keluarganya. Sejak Gibran maju dalam Pilkada Solo hingga kini menjabat Wakil Presiden, kritik soal keberlanjutan kekuasaan keluarga Jokowi terus bermunculan.

 

Kini, dengan Jokowi secara terbuka menyatakan kesiapan bekerja mati-matian demi PSI, kritik tersebut kembali menemukan momentumnya. Banyak pihak menilai Jokowi belum sepenuhnya meninggalkan panggung politik, meski masa jabatannya telah berakhir.

 

“Jika skenario ini berjalan sesuai rencana, maka dinasti politik Jokowi akan semakin kuat dan bersinar,” ujar Jamiluddin.

 

Dilema Demokrasi dan Masa Depan PSI

Di sisi lain, langkah Jokowi menimbulkan dilema dalam praktik demokrasi. Secara normatif, setiap warga negara berhak terlibat dalam politik, termasuk mantan presiden. Namun penggunaan pengaruh besar untuk memperkuat posisi keluarga dinilai rawan menimbulkan ketimpangan demokrasi.

 

Bagi PSI sendiri, dukungan Jokowi bisa menjadi pedang bermata dua. Elektabilitas partai berpotensi terdongkrak signifikan, tetapi citra PSI sebagai partai independen dan progresif berisiko tereduksi menjadi partai yang terlalu bergantung pada figur Jokowi.

 

Menuju 2034, Skenario Jangka Panjang

Dengan usia politik yang masih panjang, Gibran dinilai memiliki ruang untuk membangun citra nasional secara bertahap. Sementara Kaesang, melalui PSI, berpeluang mengonsolidasikan kekuatan politik generasi muda dengan sokongan penuh ayahnya.

 

Pertanyaannya kini, apakah publik akan menerima skenario tersebut sebagai dinamika politik wajar, atau justru melihatnya sebagai upaya sistematis melanggengkan kekuasaan keluarga?

 

Yang jelas, pernyataan Jokowi tentang kerja mati-matian untuk PSI telah membuka babak baru politik pasca-kepresidenannya babak yang bukan lagi tentang dirinya semata, melainkan tentang masa depan kekuasaan keluarganya di panggung nasional.

 

G7/GLN

Pos terkait