Global7.id – Jepara,
Warga Jepara dibuat geleng kepala sekaligus sedih melihat kondisi fasilitas publik di kawasan wisata andalan daerah, Pantai Kartini Jepara. Sebuah postingan dari akun Facebook Miftah Alfarisi viral, Kamis (8/1/26), memperlihatkan kontainer sampah bertuliskan DLH KAB. JEPARA yang kondisinya sangat memprihatinkan penuh karat, bolong besar, cat mengelupas, bahkan sebagian badan kontainer nyaris keropos.
Postingan tersebut memantik reaksi keras dari warga sekitar. Mereka merasa malu sekaligus prihatin, karena fasilitas penting yang seharusnya menjadi simbol kebersihan dan tanggung jawab lingkungan itu justru tampak seperti barang rongsokan yang ditinggalkan bertahun-tahun.
“Ini di Pantai Kartini loh, tempat orang luar daerah datang. Tapi kontainer sampahnya seperti ini. Malu, apalagi ada tulisan Jepara,” keluh salah satu warga yang ikut mengomentari unggahan tersebut.
Kondisi kontainer yang rusak bukan sekadar soal penampilan. Lubang besar di bagian tengah membuat sampah terlihat jelas dari luar, bahkan sebagian material sampah terancam jatuh dan berceceran. Selain tidak sedap dipandang, situasi ini juga mengancam kebersihan lingkungan, kesehatan pengunjung, hingga citra pariwisata Jepara.
Pantai Ikon Wisata, Tapi Fasilitas “Tak Layak Pajang”
Pantai Kartini selama ini dikenal sebagai ikon wisata keluarga di Jepara. Setiap akhir pekan dan hari libur, kawasan ini dipadati masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar kota. Namun apa jadinya bila tempat wisata yang seharusnya jadi kebanggaan justru menyuguhkan pemandangan menyayat hati?
Kawasan wisata seharusnya identik dengan kenyamanan, kebersihan, ketertiban, dan fasilitas publik yang layak. Tapi yang terlihat justru sebaliknya.
Beberapa warga menilai, ini bukan persoalan sepele dan tidak bisa dianggap angin lalu. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya tampilan, tapi nama baik daerah.
“Kalau tamu datang lalu lihat kondisinya seperti ini, apa tidak malu? Kita bicara kota wisata, tapi fasilitas kebersihan dibiarkan seperti bangkai besi karatan,” ujar seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Sinyal Tegas untuk DLH Jepara
Tagar #DLHJepara ikut disebut dalam unggahan tersebut sebagai bentuk sindiran sekaligus panggilan keras. Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara tidak menutup mata dan segera bertindak.
Jika kontainer sampah rusak, maka dua pilihan paling logis adalah diperbaiki total atau diganti baru. Tidak ada alasan untuk membiarkan fasilitas publik yang jelas-jelas berada di ruang wisata utama tetap dalam kondisi mengenaskan.
Ini bukan hanya urusan teknis. Ini soal tanggung jawab, wibawa, dan komitmen pemerintah daerah terhadap kebersihan dan pelayanan publik.
DLH Jepara diharapkan segera:
melakukan pengecekan langsung ke lokasi,
mengevaluasi kelayakan fasilitas,
memastikan pengelolaan sampah berjalan baik,
serta menjaga citra Jepara sebagai daerah wisata yang bermartabat.
Warga juga meminta agar kejadian ini tidak hanya ditangani secara tambal sulam. Mereka ingin ada perencanaan serius, bukan sekadar menunggu viral dulu baru gerak.
Suara Warga: “Kami Tidak Butuh Gimmick, Kami Butuh Aksi Nyata!”
Di tengah kondisi lingkungan yang terus menantang, kesadaran warga Jepara sebenarnya sudah cukup baik. Banyak komunitas dan tokoh masyarakat peduli terhadap kebersihan. Namun kepedulian masyarakat harus sejalan dengan kesigapan pemerintah.
Unggahan Miftah Alfarisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat tidak tinggal diam. Mereka berani bersuara, meskipun dengan nada pedih bercampur marah.
“Jepara itu kota besar, punya nama, punya martabat. Jangan sampai dipermalukan gara-gara satu kontainer sampah yang dibiarkan rusak bertahun-tahun,” tulis warga lainnya.
Jangan Tunggu Rusak Total Baru Bertindak
Kontainer sampah bukan sekadar benda besi. Ia adalah simbol keseriusan pemerintah dalam menjaga lingkungan. Apalagi berada di area wisata. Jika fasilitas dasar saja tak terurus, bagaimana publik bisa percaya pada komitmen yang lebih besar?
Kini mata warga Jepara tertuju pada DLH. Langkah apa yang akan diambil? Akan cepat bergerak? Atau hanya senyap tanpa kabar?
Satu hal yang jelas, masyarakat sudah bersuara. Mereka bukan sekadar mengeluh, tapi mengingatkan. Karena mereka peduli, karena mereka cinta Jepara.
Dan cinta itu terkadang harus disampaikan dengan nada keras agar ada yang benar-benar mendengar.
G7/TEAM










