Global7.id – Jepara,
Harga cabai di Jepara mulai menjadi perhatian masyarakat menjelang Ramadan 2026. Meski sebagian besar kebutuhan pokok masih stabil, kenaikan harga cabai dinilai perlu diantisipasi karena permintaan biasanya meningkat tajam saat bulan puasa.
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa periode dua hingga tiga pekan sebelum puasa sering diwarnai kenaikan harga akibat lonjakan permintaan. Namun, berdasarkan pantauan terbaru pada Sabtu, 14 Februari 2026, sebagian besar harga bahan pokok di wilayah Jepara masih relatif stabil, meski komoditas cabai mulai menunjukkan kenaikan yang cukup mencolok.
Pantauan di Pasar Jepara II dan Pasar Bangsri pada akhir pekan lalu memperlihatkan aktivitas perdagangan yang mulai ramai. Warga mulai melakukan belanja lebih awal sebagai persiapan menghadapi Ramadan. Meski demikian, mayoritas kebutuhan pokok strategis seperti beras, gula, minyak goreng, hingga telur masih berada di kisaran harga normal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, Anjar Jambore Widodo, dalam keterangannya pada 14 Februari 2026, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada gejolak harga yang signifikan pada komoditas utama. Menurutnya, stok pangan di pasar masih aman dan distribusi barang dari daerah pemasok berjalan lancar.
Harga beras premium tercatat bertahan di angka Rp14.900 per kilogram, sedangkan beras medium berada di kisaran Rp13.000 per kilogram. Sementara itu, gula pasir kristal putih dijual antara Rp16.500 hingga Rp17.000 per kilogram. Stabilitas ini dianggap sebagai sinyal positif menjelang Ramadan karena kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan utama rumah tangga.
Di sektor minyak goreng, harga masih relatif terkendali. Minyak goreng curah berada di kisaran Rp17.500 per liter, Minyakita dijual sekitar Rp15.700 per liter, dan minyak goreng kemasan premium berada di angka Rp21.000 per liter. Kondisi ini cukup melegakan mengingat konsumsi minyak goreng biasanya meningkat sejak minggu pertama Ramadan seiring maraknya kegiatan memasak di rumah.
Harga protein hewani juga belum mengalami perubahan berarti. Daging ayam ras diperdagangkan antara Rp37.000 hingga Rp38.000 per kilogram, sementara telur ayam ras berada di kisaran Rp27.500 hingga Rp28.000 per kilogram. Pedagang mengaku pasokan masih cukup hingga pertengahan Februari ini, meski mereka tetap waspada terhadap kemungkinan lonjakan permintaan mendekati awal puasa.
Komoditas yang paling menjadi sorotan saat ini adalah cabai. Berdasarkan pemantauan harga pada 14–15 Februari 2026, cabai merah besar dijual sekitar Rp35.000 per kilogram, cabai rawit merah mencapai Rp65.000 per kilogram, dan cabai rawit hijau berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Harga cabai rawit merah yang sudah menyentuh angka tinggi ini dinilai berpotensi naik jika terjadi gangguan pasokan dalam beberapa hari ke depan.
Fenomena kenaikan cabai menjelang Ramadan sebenarnya bukan hal baru. Tingginya konsumsi rumah tangga, aktivitas memasak untuk berbuka puasa, serta meningkatnya usaha kuliner musiman biasanya mendorong permintaan melonjak tajam. Jika tidak diimbangi pasokan yang cukup, harga bisa berubah hanya dalam hitungan hari.
Selain faktor permintaan, cuaca ekstrem yang terjadi pada awal Februari 2026 juga disebut-sebut menjadi salah satu risiko yang dapat mempengaruhi produksi cabai dan sayuran. Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi mengganggu proses panen maupun distribusi dari daerah pemasok ke pasar tradisional.
Untuk komoditas bawang, harga masih relatif stabil. Bawang merah bertahan di angka Rp35.000 per kilogram, sedangkan bawang putih berada di kisaran Rp32.000 hingga Rp38.000 per kilogram. Meski belum menunjukkan gejolak, kedua komoditas ini tetap menjadi fokus pemantauan karena permintaannya biasanya meningkat tajam saat Ramadan berlangsung.
Peningkatan konsumsi rumah tangga menjelang puasa memang menjadi pola tahunan. Tradisi berbuka puasa bersama, kegiatan sosial, hingga munculnya pasar dadakan mulai terlihat sejak pertengahan Februari. Kondisi ini membuat perputaran barang di pasar meningkat dibandingkan hari-hari biasa.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Pemantauan stok dilakukan secara berkala setiap minggu menjelang Ramadan. Operasi pasar juga disiapkan sebagai langkah cepat jika terjadi kenaikan harga yang dinilai tidak wajar. Koordinasi dengan distributor serta pelaku usaha terus diperkuat agar distribusi bahan pangan tetap lancar.
Langkah ini dinilai penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Dengan kondisi ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan di berbagai sektor, stabilitas harga pangan menjadi faktor utama agar masyarakat dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang.
Di sisi lain, para pedagang berharap cuaca tetap bersahabat hingga akhir Februari 2026 agar pasokan komoditas hortikultura tidak terganggu. Mereka mengakui bahwa faktor cuaca sering menjadi penentu utama naik turunnya harga, terutama untuk cabai dan sayuran segar.
Meski hingga pertengahan Februari harga kebutuhan pokok masih stabil, kewaspadaan tetap diperlukan. Momentum menjelang Ramadan selalu menjadi masa krusial bagi pasar tradisional. Dengan kerja sama antara pemerintah, pedagang, distributor, dan masyarakat, diharapkan stabilitas harga tetap terjaga sehingga Ramadan tahun ini dapat disambut dengan rasa aman, nyaman, dan tanpa kekhawatiran lonjakan harga yang berlebihan.
G7/UCP










