Global7.id, Jepara – Ribuan warga Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memadati Balai Desa setempat dalam gelaran Festival Jondang Kawak yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal. Kamis (23/4/2026)
Festival ini merupakan transformasi dari tradisi lamaran pernikahan yang dahulu disakralkan oleh masyarakat. Kini, tradisi tersebut dikemas menjadi perayaan budaya yang melibatkan seluruh warga.
Jondang Kawak sendiri berasal dari istilah “Jodone Ngandang” yang dimaknai sebagai jodoh yang telah ditakdirkan. Jondang merupakan wadah berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu, yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat penyajian makanan sekaligus penyimpanan barang berharga seperti perabot rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 21 RT turut ambil bagian dengan membawa dua hingga tiga jondang berisi hasil bumi. Setiap kelompok tampil kreatif dengan beragam kostum, mulai dari pakaian petani, seragam sekolah, hingga busana adat Jawa, lengkap dengan iringan musik dan hiburan sepanjang perjalanan.

Arak-arakan dimulai dari Balai Desa Kawak menuju punden atau Makam Mbah Kawak yang diyakini sebagai leluhur desa.
Setibanya di lokasi, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur, sekaligus memohon keberkahan, kemakmuran, dan hasil pertanian yang melimpah.
Petinggi Desa Kawak, Eko Hery Purwanto, menjelaskan bahwa Festival Jondang tahun ini mengusung tema ketahanan pangan, yang tercermin dari isi jondang berupa hasil pertanian warga.
Ia juga mengungkapkan bahwa penggunaan jondang dalam prosesi lamaran kini mulai ditinggalkan. Oleh karena itu, makna jondang diperluas tidak hanya soal jodoh, tetapi juga rezeki dan segala bentuk kebaikan dalam kehidupan.
“Ngandang rejekinya, ngandang jodohnya, ngandang segala-galanya dalam hal kebaikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hery berharap festival ini dapat menjadi sarana pelestarian budaya leluhur agar tetap diwariskan kepada generasi mendatang. Selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga menjadi wujud syukur masyarakat atas karunia Tuhan.
“Semoga Desa Kawak gemah ripah loh jinawi, tentrem raharja,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat, mendorong agar tradisi Jondang Kawak diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan, agar mendapatkan pengakuan resmi dan semakin dikenal luas oleh masyarakat.










