Eks-JI Dibina, Bukan Dibiarkan: BNPT–Densus 88 Tancapkan Moderasi dan Kemandirian di Ponpes Al Muttaqin Jepara

JEPARA — Jejak Jamaah Islamiyah (JI) belum cukup dijawab dengan deklarasi pembubaran. Setelah organisasi tersebut menyatakan pembubaran pada 30 Juni 2024, pekerjaan berikutnya justru jauh lebih berat: memastikan perubahan itu benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Pesan itulah yang kini dibawa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI bersama Densus 88 Anti Teror Polri ke Pondok Pesantren Islam Al Muttaqin, Desa sowan, kec Kedung , kabJepara, rabo 12 Agustus 2026.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dimanfaatkan untuk menggelar rangkaian pembinaan pada 10–17 Agustus 2026. Bukan sekadar seminar dan seremoni, program ini menyasar langsung tiga titik krusial: wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan kemandirian ekonomi.

Al Muttaqin dipilih bukan tanpa alasan. Pesantren tersebut disebut sebagai salah satu pesantren eks-JI dengan basis santri sekitar 600 orang.

Artinya, yang sedang dibangun bukan sekadar perubahan di atas kertas. Ada ratusan santri yang menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Pembubaran JI Bukan Garis Akhir

Deklarasi pembubaran JI pada 2024 menjadi titik balik. Namun pembubaran organisasi tidak otomatis menghapus seluruh persoalan yang pernah muncul.

Karena itu, pendekatan yang ditempuh BNPT dan Densus 88 kali ini bergerak lebih dalam.

Santri tidak hanya diajak memahami wawasan kebangsaan dan keagamaan, tetapi juga diberikan keterampilan agar memiliki masa depan ekonomi yang mandiri.

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan teknisi AC dari PT Astra International. Lima peserta dilatih menjadi barista oleh Amuya Coffee Academy. Sepuluh peserta mengikuti pelatihan pangkas rambut dari YBM PLN.

Kemudian 20 peserta mendapatkan pelatihan konten kreator dan digital marketing dari UNISNU Jepara, sementara 50 peserta mengikuti pelatihan menulis bersama Yayasan Rumah Wasatiyah.

Pendekatannya jelas: ideologi tidak cukup dilawan dengan slogan. Kemandirian, pendidikan, keterampilan, dan ruang produktif harus ikut diperkuat.

Dari Bengkel, Barbershop hingga Dunia Digital

Program ini semakin serius ketika bantuan yang diberikan tidak berhenti pada materi seminar.

BNPT RI menyerahkan satu set filter air reverse osmosis, satu set mesin espresso dan manual brew, serta dua set perlengkapan content creator.

Bacaan Lainnya

Densus 88 AT Polri memberikan satu unit kulkas showcase, dua laptop, dua proyektor Epson, satu AC 1 PK, serta bibit kaliandra dan indigofera.

Kementerian Pertanian RI ikut masuk dengan bantuan bibit padi, dua pompa air, dan dua hand tractor.

PT Astra International memberikan empat set alat servis AC. YBM PLN membangun unit barbershop lengkap dengan perlengkapannya. PT Panasonic Gobel menyerahkan dua unit AC.

Sementara PT Restu Agro Jayamas memberikan 20 kilogram bibit jagung beserta alat tanam.

Bantuan tersebut mengirimkan pesan yang cukup keras: pesantren tidak boleh hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi harus mampu menjadi pusat pemberdayaan dan kemandirian masyarakat.

Bukan Sekadar Ceramah tentang Nasionalisme

Seminar Kebangsaan dan Keagamaan serta Bedah Buku JI Untold Story menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Polres Jepara juga memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dan dapur umum bagi masyarakat sekitar.

Sinergi ini melibatkan pemerintah pusat, Pemkab Jepara, aparat keamanan, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga sosial, dan organisasi masyarakat.

Tujuannya satu: membangun ekosistem yang membuat nilai moderasi, toleransi, cinta tanah air, dan kemandirian tidak berhenti sebagai materi seminar.

Sebab, tantangan sebenarnya justru muncul setelah acara selesai.

Ketika spanduk diturunkan, narasumber pulang, dan panggung dibongkar, apakah perubahan tetap berjalan?

Di situlah keberhasilan program semacam ini sesungguhnya akan diuji.

Pesantren sebagai Benteng, Bukan Ladang Ekstremisme

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 menegaskan fungsi pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Kerangka tersebut menjadi penting dalam konteks pembinaan eks-JI.

Pesantren tidak boleh dipandang semata sebagai objek pengawasan. Sebaliknya, pesantren harus diperkuat menjadi benteng masyarakat dalam membangun generasi yang kritis, toleran, produktif, dan memiliki kecintaan terhadap Indonesia.

Karena itu, target program di Al Muttaqin diarahkan untuk membangun pesantren yang moderat, cinta tanah air, serta bebas dari intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme yang mengarah pada terorisme.

Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah 17 Agustus

Puncak rangkaian kegiatan dijadwalkan pada 17 Agustus 2026 melalui Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di lingkungan Ponpes Al Muttaqin.

Namun upacara itu bukanlah akhir.

Justru setelah Merah Putih dikibarkan, pekerjaan sebenarnya dimulai.

Apakah mesin espresso benar-benar menghasilkan usaha? Apakah barbershop mampu menjadi sumber pendapatan? Apakah keterampilan teknisi AC membuka lapangan kerja? Apakah pelatihan digital melahirkan santri yang mampu bersaing di dunia maya? Dan yang paling penting, apakah wawasan kebangsaan benar-benar tumbuh menjadi sikap dalam kehidupan sehari-hari?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah program ini sekadar proyek pembinaan atau benar-benar menjadi titik balik.

Dari Jepara, BNPT dan Densus 88 sedang mengirimkan satu pesan penting: membendung ekstremisme bukan hanya dengan penindakan, tetapi juga dengan membuka jalan bagi pendidikan, kemandirian, dan masa depan.

Sebab, ketika seseorang memiliki ilmu, pekerjaan, ruang berkarya, dan masa depan yang jelas, maka ruang bagi narasi kekerasan untuk tumbuh akan semakin sempit.

Dan di tengah momentum kemerdekaan, perjuangan itu bukan lagi menghadapi penjajah bersenjata, melainkan memastikan ideologi kekerasan tidak kembali menemukan tempat di generasi berikutnya.

 

G7/Obeng

Pos terkait