Dipaksa Lestarikan Seni Ukir di Jepara, Tapi Gaji Tak Bisa Buat Mikir 

Foto, Yuliono (61) warga Dukuh Tepus Desa Mulyoharjo RT 1 RW 5. Sudah 50 tahun lebih menjadi pengukir.

Global7.id – Jepara,

Mengutip dari portal Suara Merdeka yang mengungkapkan Nasib para pengukir kayu di Jepara di ambang dilema. Keinginan melestarikan warisan budaya asli Jepara itu tak sebanding lurus dengan apresiasi yang diterima.

Sebagian pengukir memilih bertahan lantaran tak ada pekerjaan lainnya. Sebagian yang lain memilih banting setir mencari penghasilan yang lebih pasti.

Hal ini dialami oleh para pengukir kayu asal Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara. Mereka seolah dipaksa melestarikan seni ukir, namun terbentur kebutuhan pokok yang semakin hari semakin mahal.

Salah satunya, Yuliono (61) warga Dukuh Tepus Desa Mulyoharjo RT 1 RW 5. Sudah 50 tahun lebih menjadi pengukir, Yuliono justru merasa minder.

Padahal, seni ukir merupakan ikon kebanggaan Kota Jepara. Yuliono mengungkapkan, apresiasi terhadap pelaku seni ukir masih terbilang minim.

“Kalau dulu, yang bisa mengukir memang hanya orang Jepara, tetapi sekarang banyak orang di luar daerah sudah bisa ngukir, jadi banyak yang nganggur dan mencari pekerjaan lain,” kata Yuliono di sela-sela menatah kayu.

Penghasilan sebagai pengukir kayu menurutnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Dia menyebut, rata-rata pengukir kayu harian di Jepara hanya digaji Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu per hari. Dengan gaji segitu, kata dia, hampir tidak ada generasi muda yang tertarik mengukir.

Yuliono bahkan berpesan ke anaknya untuk tidak menekuni pekerjaan sebagai pengukir kayu. Sebagai generasi ketiga dari orangtuanya, Yuliono sudah merasakan asam garam sebagai pengukir.

“Dulu memang ada kebanggaan tersendiri karena bisa ngukir, tetapi kalau sekarang justru minder dan malu dengan yang lain, penghasilan tukang ukir itu sedikit,” ujar Yuliono di depan teras rumahnya.

Padahal, membutuhkan proses panjang untuk belajar mengukir hingga mahir. Yuliono sendiri sudah belajar mengukir sejak kelas 5 SD sampai sekarang.

Dia menceritakan awal mula belajar natah dari orang tuanya sejak tahun 1970an. Setelah lulus sekolah teknik (sekarang menjadi SMP 6 Jepara, red) tahun 1982, Yuliono mengukir kayu di perantauan Jakarta selama sembilan tahun.

Kini, di Mulyoharjo tinggal empat sampai enam pengukir kayu yang seusia Yuliono. Dia mengakui bahwa menjadi pengukir kayu memang tidak bisa diharapkan banyak secara ekonomi.

“Kebutuhan meningkat, harga semakin mahal, tetapi penghasilan tetap, tidak heran orang natah semakin berkurang, tidak ada penerusnya,” ungkap dia.

Hanya saja, Yuliono tetap memilih setia menjadi pengukir kayu. Keterampilan membuat bentuk-bentuk patung ukir menjadikannya bertahan. Selain itu, Yuliono juga mempunyai waktu yang fleksibel dalam bekerja.

“Kalau bisa membuat patung seperti ini, harian bisa Rp 100 ribu lebih, tetapi tidak semua pengukir bisa,” kata dia.

Dia pun sangat menyayangkan minimnya campur tangan pemerintah dalam mengangkat pegiat seni ukir di Jepara. Yuliono mengaku tidak pernah dilibatkan dalam event seni ukir sampai sekarang.

“Kami diminta untuk melestarikan seni ukir, nguri-nguri ikon Jepara, tetapi pelaku seni ukir tidak diperhatikan, lalu bagaimana,” keluhnya.

Faktor ekonomi menjadi alasan utama pengukir kayu di Mulyoharjo banting setir. Salah satunya Harno (48) yang kini beralih menggeluti mebel atau furniture online. Harno pernah menjadi pengukir kayu dan merantau hingga 15 tahun saat itu. Hanya saja, desakan ekonomi membuat ia beralih ke pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan anak istri.

“Orang natah sekarang tidak cukup, kisaran Rp 90 ribu sudah mentok, tidak cukup kalau untuk kebutuhan harian,” kata Harno.

Menurutnya, apresiasi pengukir kayu memang minim. Bahkan kalah dengan tukang kayu atau tukang batu. Dia berharap, pemerintah ke depan bisa mengangkat kembali seni ukir di Jepara sehingga para pegiatnya lebih sejahtera.

“Belajar ukir butuh waktu lama, keterampilannya juga sulit, namun secara gaji lebih banyak tukang kayu, tukang batu bisa sampai Rp 100-200 ribu sehari,” pungkasnya.***
Sumber: SM.
Sumber: SM.

Pos terkait