Global7.id – Nasional,
Anggota DEN 2020-2024, Satya Widya Yudha menilai pemberlakuan kebijakan terkait penundaan pembatasan BBM Subsidi memang tidak bisa dilakukan terburu-buru karena terkait masyarakat, meski tujuannya baik agar subsidi BBM tepat sasaran.
Guna memastikan subsidi tepat sasaran makan pola distribusinya harus diubah ke skema subsidi tertutup sehingga subsidi dinikmati masyarakat berhak sehingga dapat menjaga daya beli.
Di sisi lain, Satya menilai positif langkah Pertamina yang menerapkan sistem pembelian BBM Subsidi lewat MyPertamina sebagai strategi tepat menuju pembatasan subsidi.
Seperti apa ahli melihat penundaan pembatasan BBM Subsidi 1 Oktober 2024? Selengkapnya simak dialog Shinta Zahara dengan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2020-2024, Satya Widya Yudha dan Kepala CFESD INDEF, Abra El Talattov dalam Squawk Box, yang dikutip dari CNBC Indonesia (Selasa, 24/09/2024).
Berita sebelumnya, pemerintah berencana segera membatasi pembelian bahan bakar minyak alias BBM subsidi, yakni Pertalite. Hal itu direncanakan akan diberlakukan mulai 1 Oktober 2024.
Meski sudah beredar kabar mengenai tanggal penerapannya, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa pembatasan Pertalite masih dalam proses sosialisasi. Dalam keterangannya setelah meresmikan Gedung Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di RS Sardjito, Yogyakarta, Jokowi menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada rapat atau keputusan final mengenai pembatasan ini.
“Belum ada keputusan, belum ada rapat,” ujar Jokowi.
Ia menambahkan bahwa pembatasan ini bertujuan untuk mengatasi masalah polusi udara, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, serta untuk meningkatkan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sementara itu pada Agustus 2023, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan bahwa pembatasan ini juga bertujuan untuk memenuhi standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyatakan batas minimal oktan number untuk BBM yang dijual di Indonesia adalah 91.
“Karena aturan KLHK itu menyatakan oktan number yang boleh dijual di Indonesia itu minimal 91,” kata Nicke.***
Sumber: CNBC.










