Global7.id – Cerita Opini Publik,
Melansir dari berbagai sumber, inilah cerita nabi Ibrahim AS dan keluarganya. “Mengapa suaminya meninggalkan dia dan Ismail anaknya yang masih kecil di padang pasir yang tak ada siapapun dan tidak ada apapun ?”.
Ia hanya menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra.
Siti Hajar mengejar Ibrahim AS, suaminya, dan berteriak:
“Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?”
Ibrahim AS terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh membasahi pipinya.
Perasaannya terjepit antara, (pengabdian dan pembiaran).
Siti Hajar masih terus mengejar sambil terus menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit.
“Wahai suamiku, ayahanda Ismail, Apakah ini Perintah Tuhanmu ?
Kali ini Ibrahim AS, Sang Khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim AS.
Butir pasir seolah terpaku kaku.
Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap kemudian Nabi Ibrahim AS membalik tegas, dan berkata:
“Iya, ini perintah Tuhanku !, ” jawab Nabi.
Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam. Lantas, meluncurlah kata-kata dari bibirnya yang mengagetkan semua malaikat serta menggusarkan butir pasir dan angin.
“Jika ini perintah Tuhanmu, pergilah wahai suamiku. Tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir, Allah akan menjaga kami,” ucap Siti Hajar.
Ibrahim AS pun beranjak pergi dan dilema itu sirna sudah.
“Ini sebuah Pengabdian, atas nama perintah Allah, bukan pembiaran”.
“Itulah IKHLAS”.
“IKHLAS adalah wujud sebuah keyakinan mutlak, pada Sang Maha Mutlak.
Selain itu, Ikhlas juga kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah.
Tak hanya itu, Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup untuk berlari, mampu untuk melawan dan kuat untuk mengejar namun engkau memilih untuk patuh dan tunduk.
Sementara, Ikhlas juga merupakan sebuah kekuatan untuk menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai.
Penafsiran lain bahwa Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.
Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan juga mengkalkulasi hasil akhir.
Karena, Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada.
Ikhlas itu tangga menuju Allah SWT.
Yaitu mendengar perintah-Nya dan menaati-Nya.
Disisi lain, IKHLAS adalah IKHLAS itu sendiri. Murni tanpa embel-embel kepamrihan apapun. Suci bersih 100 persen, hanya karena Allah dan mengikuti Kehendak Allah, tidak yang lain
Ikhlas adalah karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dicintainya.
Setelah ditinggal suaminya yaitu nabi Ibrahim, Siti Hajar mengendong putranya Ismail. Sambil lapar dan haus, Siti Hajar pun terduduk setelah perjuangannya mencari air dari Shafa ke Marwa dan dari Marwa ke Shafa sampai
7x, sementara itu kaki Ismail mengepak-ngepak ke pasir dan keluarlah air, . hingga sekarang itulah air zamzam dan di situlah Siti Hajar dan Ismail hidup selama belasan tahun.
Setelah lsmail remaja datanglah Nabi Ibrahim dengan perintah Allah untuk menyembelih Ismail anak semata wayangnya dan sangat dicintainya. Karena Ismail merupakan penantian lama yang ia harapkan dan akhirnya dikaruniai Allah SWT setelah ia berumur 100 tahun yaitu Ismail anak yang sangat sholeh.
Lalu, Nabi Ibrahim dan Ismail selalu ikhlas, patuh dan sabar akan perintah Allah SWT. Ketika Ismail sudah dibaringkan dan siap disembelih, ternyata Allah SWT mengganti Ismail dengan domba yang besar.
Sekarang
Setiap kita adalah Nabi Ibrahim dan setiap Nabi Ibrahim punya Ismail.
“Ismailmu mungkin HARTAMU..
Ismailmu mungkin *JABATANMU..
Ismailmu mungkin GELARMU..
Ismailmu mungkin EGOMU..
Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini”.
Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail. Karena hakekatnya semua adalah milik Allah SWT.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kesalehan dan Keikhlasan Nabi Ibrahim serta keikhlasan dan kesabaran Nabi Ismail kepada kita semua.
“Karena di hadapan Allah hanya ketaqwaan kita yang diterima-Nya”.
“Semoga kita termasuk ke dalam orang yang bertaqwa dan senantiasa dirahmati ALLAH SWT”, Amin.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H.*
Mohon maaf lahir dan bathin.
Sumber: G7.










