Banjir Mengamuk di Pati, Sentra Bawang Merah Hancur: Petani Merugi hingga Rp 5,4 Miliar

Foto, Banjir Mengamuk di Pati, Sentra Bawang Merah Hancur: Petani Merugi hingga Rp 5,4 Miliar

Global7.id – Pati, 

Banjir yang melanda Kabupaten Pati tidak hanya berdampak pada lahan padi, tetapi juga menghantam keras sentra bawang merah, salah satu komoditas unggulan daerah tersebut. Akibat terjangan banjir, kerugian petani bawang merah diperkirakan menembus Rp 5,4 miliar, angka yang mencerminkan betapa seriusnya dampak bencana ini terhadap sektor pertanian.

 

Data Dinas Pertanian Kabupaten Pati mencatat, banjir paling parah terjadi di Kecamatan Wedarijaksa, wilayah yang selama ini dikenal sebagai lumbung bawang merah. Sedikitnya lima desa terdampak, yakni Desa Ngurenrejo, Ngurensiti, Bangsalrejo, Sidoharjo, dan Pagerharjo. Seluruh desa tersebut berada di kawasan dataran rendah yang rawan terendam saat curah hujan tinggi.

 

66 Hektare Lahan Puso Total

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, mengungkapkan bahwa total lahan bawang merah yang terdampak mencapai 66 hektare. Seluruh lahan tersebut dinyatakan puso atau gagal panen akibat terendam air banjir dalam waktu cukup lama.

 

Tanaman bawang merah yang rusak rata-rata berusia 20 hingga 54 hari, dengan varietas Bauji dan Tajuk. Kedua jenis ini memiliki nilai jual tinggi dan biasanya menjadi andalan petani untuk menopang ekonomi keluarga. Namun, banjir membuat harapan panen berubah menjadi kerugian besar.

 

“Kalau diperkirakan, kerugian dari lahan bawang merah saja bisa mencapai Rp 5,4 miliar,” ujar Ratri berdasarkan data per 27 Januari 2026.

 

Panen Dini di Tengah Genangan

Sebelum puso total terjadi, para petani di Desa Ngurenrejo sempat berupaya menyelamatkan tanaman mereka dengan melakukan panen dini pada pertengahan Januari lalu. Upaya itu dilakukan dalam kondisi ekstrem, di mana ketinggian banjir mencapai sekitar 1,5 meter.

 

Bacaan Lainnya

Petani harus berpacu dengan waktu dan menerjang genangan air demi memanen bawang merah yang belum siap panen. Sayangnya, hasil panen darurat tersebut jauh dari maksimal. Selain kualitas menurun drastis, jumlah hasil panen juga berkurang signifikan.

 

Kondisi makin berat karena biaya operasional panen justru meningkat, sementara harga jual bawang merah turun di pasaran. Alhasil, alih-alih menekan kerugian, panen dini justru menambah beban ekonomi petani.

 

Diserap Program MBG, Petani Masih Berharap Bantuan

Sebagai langkah penanganan sementara, Pemerintah Kabupaten Pati telah berkoordinasi agar bawang merah hasil panen dini dapat diserap oleh dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diharapkan mampu mengurangi tekanan kerugian yang dialami petani.

 

Meski demikian, kebijakan tersebut dinilai belum cukup. Para petani masih berharap adanya bantuan lanjutan, baik berupa kompensasi kerugian, bantuan benih, hingga perbaikan sistem irigasi dan pengendalian banjir.

 

Ancaman Berulang bagi Pertanian Pati

Banjir yang berulang setiap musim hujan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pertanian di Pati. Jika tidak ada solusi jangka panjang, petani dikhawatirkan akan terus berada dalam lingkaran kerugian akibat bencana alam.

 

Kini, harapan besar disematkan pada pemerintah daerah dan pusat agar segera menghadirkan langkah konkret dan berkelanjutan, sehingga sentra bawang merah Pati dapat bangkit kembali dan petani tidak lagi menjadi korban banjir tahunan.

 

G7/KMP

 

Pos terkait