Kenterung Jepara Resmi Masuk FTBI, Harapan Baru Regenerasi Seni Tutur Tradisional

Sejumlah siswa tingkat SD di Jepara menampilkan seni pertunjukan kenterung di Pendapa Kartini Jepara, Sabtu (20/6/2026). Kenterung Jepara kini dikukuhkan sebagai bagian dari FTBI mulai 2027. /Foto: TB

JEPARA, Global7.id – Kekhawatiran akan punahnya seni kenterung di Jepara perlahan mulai terjawab. Kesenian tutur yang selama ini hanya bertahan di tangan para maestro kini mendapat ruang baru untuk hidup melalui dunia pendidikan.

 

Harapan itu muncul setelah seni kenterung khas Jepara resmi dikukuhkan sebagai salah satu cabang perlombaan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Pengukuhan dilakukan dalam malam penganugerahan dan pementasan kenterung tiga generasi di Pendapa Kartini Jepara, Sabtu (20/6/2026).

 

Meski demikian, cabang lomba kenterung baru akan mulai dipertandingkan secara resmi pada FTBI tahun 2027.

 

Ketua Yayasan Jaringan Budaya untuk Perkembangan Jepara (Jungpara), Sarjono, mengatakan keputusan tersebut menjadi titik penting dalam menjaga keberlangsungan kenterung di tengah minimnya regenerasi pelaku seni tradisional.

 

“Selama ada FTBI, kenterung masih bisa dilombakan. Selama masih ada lomba, artinya anak-anak yang berlatih kenterung itu tetap ada. Ini harapan besar kami agar regenerasi di Bumi Kartini tetap berjalan,” ujarnya.

 

Menurut Sarjono, masuknya kenterung ke dalam FTBI akan mendorong sekolah-sekolah mulai mengenalkan kembali seni tutur tersebut kepada para siswa. Dengan demikian, proses pewarisan budaya tidak hanya bergantung pada sanggar atau komunitas, tetapi juga melalui pendidikan formal.

 

Pada tahap awal, lomba kenterung dalam FTBI akan dilaksanakan di tingkat kabupaten. Hal ini mempertimbangkan karakter kenterung yang berkembang di wilayah pantai utara Jawa dengan gaya dan kekhasan yang berbeda di setiap daerah.

 

Sebelum masuk ke FTBI, Yayasan Jungpara telah lebih dulu menggelar festival kenterung tingkat pelajar di Kabupaten Jepara. Sebanyak 73 kelompok dari jenjang SD dan SMP ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Bacaan Lainnya

 

Dari jumlah itu, 25 grup berhasil lolos ke babak final yang terdiri atas 18 tim SD dan tujuh tim SMP. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal pembentukan komunitas kenterung di sekolah-sekolah.

 

Malam pengukuhan di Pendapa Kartini sekaligus memperlihatkan proses regenerasi yang mulai tumbuh. Pementasan menghadirkan tiga generasi pelaku kenterung, mulai dari para maestro, generasi muda, hingga anak-anak usia sekolah.

 

Para pegiat budaya berharap masuknya kenterung dalam FTBI tidak hanya menjadikan seni ini sebagai materi perlombaan, tetapi juga memastikan kenterung tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

 

G7/TB

Pos terkait