Kirab dan Krayahan Bubur Suro Meriahkan Tahun Baru Islam di Jambu Timur

Foto, kirab budaya krayahan bubur suro desa jambu timur kecamatan mlonggo. /Foto: SB

JEPARA, Global7.id – Suasana meriah mewarnai RW 05 Dukuh Jrakah Sari, Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Selasa (16/6/2026), saat ratusan warga mengikuti Kirab dan Krayahan Bubur Suro dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

 

Kegiatan yang telah memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini diawali dengan senam bersama dan jalan sehat yang diikuti warga dari berbagai kalangan. Puncak acara berlangsung melalui kirab budaya yang membawa berbagai ubarampe tradisional serta hampir 1.000 porsi Bubur Suro untuk dibagikan kepada masyarakat.

 

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Ali Hidayat. Kehadiran para pejabat daerah itu menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya yang tumbuh dari masyarakat.

 

Dalam sambutannya, Gus Hajar memberikan apresiasi kepada para pemuda dan warga RW 05 yang berhasil menjaga tradisi leluhur melalui kegiatan budaya yang sarat nilai kebersamaan.

 

“Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga bersama. Saya mengapresiasi para pemuda D’Lima dan seluruh warga yang telah menghadirkan kegiatan yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal,” ujarnya.

 

Tradisi tersebut digagas oleh organisasi kepemudaan RW 05 yang dikenal dengan nama D’Lima. Menurut Pembina Krayahan Bubur Suro 2026, Roif Khoirul Ulum, kegiatan ini lahir dari keinginan para pemuda untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai ditinggalkan generasi muda.

 

Ia menjelaskan, sebelum adanya kirab, masyarakat Jambu Timur telah memiliki tradisi selametan malam Suro yang dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing. Tradisi itu kemudian disatukan dalam sebuah kegiatan bersama yang diberi nama Krayahan Bubur Suro.

 

“Tradisi kirabnya baru berjalan dua tahun. Sebelumnya warga sudah memiliki tradisi selametan malam Suro yang dilakukan sendiri-sendiri. Kemudian kami satukan dalam bentuk kegiatan bersama agar semangat guyub rukun semakin kuat,” kata Roif.

Bacaan Lainnya

 

Selain menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga, tradisi tersebut juga bertujuan mengenalkan kembali nilai-nilai budaya warisan leluhur kepada generasi muda. Menurut Roif, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan cerita, tetapi perlu diwujudkan dalam kegiatan nyata yang melibatkan masyarakat secara langsung.

 

Keunikan Krayahan Bubur Suro di Jambu Timur terletak pada sajian buburnya. Berbeda dari bubur pada umumnya, Bubur Suro dibuat dari berbagai jenis umbi-umbian seperti singkong, ketela, kentang, gembili, gembolo, garut, dan bahan lokal lainnya yang dipadukan dengan rempah-rempah khas.

 

Selain Bubur Suro, kirab juga menampilkan berbagai ubarampe tradisional seperti bubur abang putih, kupat lepet, dan aneka jajanan pasar yang memiliki makna simbolis dalam tradisi masyarakat Jawa.

 

Salah satu inisiator kegiatan, Muhammad Roisul Hakim, menjelaskan bahwa Krayahan Bubur Suro merupakan bagian dari rangkaian kegiatan bertajuk Paweling Asyuro yang mulai digelar sejak 2025. Dalam rangkaian tersebut terdapat sejumlah agenda budaya dan spiritual, mulai dari Kenduri Mapak Suro, Sowan Pepunden, Hajatan Manjing Suro hingga Krayahan Bubur Suro.

 

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang tinggi sejak penyelenggaraan perdana menjadi motivasi bagi para pemuda untuk terus mengembangkan kegiatan tersebut setiap tahun.

 

Setelah prosesi kirab selesai, acara ditutup dengan pembagian doorprize yang disambut meriah oleh warga. Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, Krayahan Bubur Suro di Jambu Timur diharapkan terus berkembang sebagai tradisi tahunan yang mampu memperkuat identitas budaya sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Jepara.

 

G7/SB

Pos terkait