Coretan Terakhir di Seragam Kita, Cintaku di SMA Putus 

Foto, para pelajar yang lulus SMA dengan mencorat-coret seragam sekolahnya.

Global7.id – Cerita Netizen,

Hari itu, halaman SMA Harapan Bangsa penuh warna. Cat semprot, spidol, bahkan lipstik tempel di seragam putih abu-abu. Teriakan tawa, peluk-pelukan, dan selfie jadi pemandangan biasa. Di tengah hiruk-pikuk itu, Raya menatap cowok itu dari jauh dan Gilang, siswa kelas sebelah yang selama ini hanya jadi rahasia dalam hatinya.


Mereka tak sekelas, bahkan tak sejurusan. Tapi setiap pagi, di parkiran sepeda motor, mereka selalu bertemu. Tatapan mata, senyum kecil, dan kadang, obrolan singkat soal cuaca atau tugas sekolah.


Raya memegang spidol merah. Ia berjalan ke arah Gilang dengan gemetar. Tapi sebelum dia sampai, seorang cewek tiba-tiba melingkarkan tangannya ke lengan Gilang.


“Sayang, corat-coretin seragam aku, dong!” kata cewek itu manja.


Raya langsung berhenti. Jantungnya remuk.


Cinta yang Tertinggal

Gilang menyadari kehadiran Raya, dan matanya menatap nanar. Ia melepas tangan pacarnya, Laras, perlahan.

“Raya,” panggil Gilang pelan, tapi cukup terdengar. Laras menoleh.

“Oh… ini yang sering kamu omongin? Anak kelas IPS itu?” tanya Laras ketus.

Raya merasa seperti sedang berdiri di depan mimbar sidang. Semua mata mengarah padanya. Tapi dia hanya tersenyum, walau air mata hampir tumpah.

“Selamat ya, Gilang. Akhirnya lulus juga. Semoga sukses sama Laras,” ucap Raya, lalu membalikkan badan dan pergi.

Tapi Gilang mengejarnya. Di dekat gerbang sekolah yang sudah penuh coretan, ia menarik tangan Raya.

“Aku salah. Aku harusnya jujur. Aku… aku udah suka kamu dari semester dua. Tapi aku terjebak sama Laras. Kita udah pacaran lama, dan aku takut nyakitin dia.”

Raya menatap Gilang. “Dan sekarang kamu malah nyakitin dua-duanya.”

Bacaan Lainnya

 


Coretan Terakhir

Gilang memberikan spidol hitam. “Boleh aku tulis satu hal di seragam kamu? Satu kali aja.”

Raya mengangguk pelan. Gilang menulis di bagian punggung seragamnya:

“Andai kita bertemu bukan di waktu yang salah…”

Tanpa kata-kata lagi, mereka berpisah. Raya melangkah pergi. Hujan turun tiba-tiba, mencuci sebagian warna-warni seragam yang telah jadi kenangan. Tapi tidak mencuci rasa yang masih tersisa.

Karena kadang, cinta pertama tak harus dimiliki. Cukup dikenang. Seperti coretan di seragam sekolah, yang tak bisa dipakai lagi, tapi tak bisa dilupakan.


 

Coretan Terakhir di Seragam Kita
dan Hujan Setelah Lulus

Tiga bulan setelah kelulusan, Raya tak pernah lagi bertemu Gilang. Ia memilih kuliah di kota lain, mencoba mengubur semua perasaan yang pernah tumbuh di hari-hari putih abu-abu. Tapi setiap malam, kalimat yang ditulis Gilang di punggung seragamnya selalu terngiang:

“Andai kita bertemu bukan di waktu yang salah…”

Di sisi lain, Gilang kuliah di Jakarta, dekat dengan Laras yang masih berusaha mempertahankan hubungan mereka. Tapi hatinya tak pernah utuh. Ada bagian yang hilang, tertinggal di halaman sekolah bersama coretan dan hujan sore itu.

Suatu malam, saat membuka Instagram, Gilang melihat story dari teman lamanya. Ada foto Raya sedang tersenyum di taman kampus, dengan caption: “Anak aktif BEM, tapi masih bisa senyum manis!”

Jantung Gilang berdetak cepat. Tanpa pikir panjang, ia mengetik:

Gilang: “Hai, kamu kelihatan bahagia ya sekarang. Seragam kita masih kamu simpan?”

Raya: “Masih. Tapi sudah kusimpan dalam kardus, bersama perasaan yang tidak sempat tumbuh.”

Gilang: “Bolehkah aku tumbuhkan perasaan itu sekarang?”

Raya terdiam lama, sebelum membalas:

Raya: “Jangan mulai sesuatu yang kamu tak yakin bisa selesaikan. Aku bukan coretan yang bisa kamu hapus kapan pun.”


Reuni Tanpa Undangan

Tahun pertama kuliah berjalan cepat. Hari itu, SMA Harapan Bangsa menggelar reuni angkatan—yang awalnya hanya ide iseng di grup alumni, tapi jadi nyata berkat usaha Laras, yang ternyata jadi panitia utama.

Raya awalnya tak berniat datang. Tapi pesan singkat dari sahabatnya, Nia, mengubah semuanya:


“Gilang bakal datang. Kamu nggak pengin tahu dia udah milih siapa?”

Itu cukup untuk membuat Raya berdiri di depan cermin, mengenakan dress sederhana berwarna biru langit, warna favoritnya saat SMA. Ia datang tanpa ekspektasi. Hanya ingin tahu… apakah hati Gilang masih sama?

Saat masuk aula, suasana penuh tawa dan nostalgia. Lagu-lagu masa SMA diputar, foto-foto kenangan terpajang di dinding, termasuk satu foto di mana Gilang dan Raya berdiri cukup dekat, saat lomba kelas.

Laras menyambut Raya dengan senyum manis yang menyimpan banyak makna. “Raya, kamu tetap cantik ya. Tapi maaf, malam ini bukan tentang yang lalu.”

Raya hanya mengangguk. Tapi matanya mencari Gilang. Dan di sudut aula, ia berdiri dan sendirian, memandangi foto-foto di dinding.

“Gilang…” panggil Raya pelan.

Cowok itu menoleh. Senyumnya muncul perlahan, seolah baru bangun dari tidur panjang.

“Aku nunggu kamu dari tadi,” katanya.

Raya tertawa kecil. “Aku pikir kamu udah nunggu Laras.”

“Laras udah pergi sejak dua bulan lalu. Kami putus. Dia yang mengakhiri. Katanya aku terlalu sering hidup di masa lalu.”

“Hidup di masa lalu?” tanya Raya pelan.

Gilang mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. Kertas itu sudah lecek, tapi jelas—potongan dari seragam putih abu-abu milik Raya, dengan tulisan:

“Andai kita bertemu bukan di waktu yang salah…”

“Aku simpan ini. Karena aku nggak mau salah waktu lagi.”

Raya menatapnya dalam diam. Jantungnya berdebar. Tapi di tengah keramaian, dia hanya menjawab:

“Aku datang bukan untuk kembali ke masa lalu, Gilang. Tapi kalau kamu siap jalan bersamaku ke masa depan… aku di sini.”

Mereka saling tatap, dan kali ini tak ada yang harus mereka sembunyikan. Tak ada spidol, tak ada seragam. Hanya hati yang akhirnya bisa bicara jujur.


Tiket ke Negeri yang Jauh

Enam bulan setelah reuni, hubungan Gilang dan Raya tumbuh seperti yang dulu hanya bisa mereka bayangkan. Mereka sering bertemu saat akhir pekan, saling mendukung dalam kuliah, bahkan sesekali berbagi mimpi tentang masa depan bersama.

Tapi hidup tak selalu memberi pilihan yang mudah.

Suatu sore, di sebuah kafe dekat kampus, Gilang datang dengan wajah berbeda. Serius. Penuh beban.

“Aku diterima beasiswa ke Belanda. Jurusan yang aku impikan sejak SMA. Tiga tahun,” katanya pelan.

Raya terdiam. Tangannya berhenti mengaduk minuman. Tatapannya kosong ke arah jendela. “Kapan berangkat?”

“Sebulan lagi.”

Tak ada kata “selamat” dari Raya. Hanya senyuman tipis yang susah payah ia tahan agar tak berubah jadi air mata.

“Aku bangga padamu,” katanya akhirnya. “Tapi aku nggak tahu… kita masih bisa lanjut atau enggak.”

Gilang menggenggam tangan Raya. “Aku mau kita tetap bersama. Kita kuat, kita sudah lewati banyak hal.”

Raya menggeleng. “Gilang, waktu kita bareng kemarin itu indah, karena kita bisa saling tatap. Tapi kalau nanti hanya lewat layar… aku takut cinta ini berubah jadi bayangan.”

Gilang mencoba meyakinkan, tapi Raya berdiri. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—potongan kecil seragamnya yang dulu bertuliskan kalimat Gilang. Kini, di balik potongan itu, ia menuliskan satu kalimat baru:

“Cinta yang benar tak selalu harus digenggam—kadang cukup dilepaskan dengan doa.”

“Bawalah ini ke tempat barumu. Anggap ini bagian terbaik dari kita. Tapi biarkan hatimu bebas untuk menemukan yang lebih baik. Aku juga akan begitu,” kata Raya sambil tersenyum getir.

Dan di sana, di antara senja dan sisa kenangan, mereka saling peluk untuk terakhir kalinya. Tak ada perpisahan yang benar-benar mudah, tapi ada yang tetap indah meski tak lagi bersama.

***

Pos terkait