Kisah Warga Bangsri Jepara, Lele dan Langkah ke Tanah Suci

Foto, seseorang yang budidaya Lele hingga gemuk di rumahan.

Global7.id – Jepara,

Di sebuah desa kecil di Kecamatan Bangsri, Jepara, hidup seorang pria sederhana bernama Pak Roni. Dulu, ia dikenal sebagai tukang bangunan dan punya motor tua yang sangat ia sayangi yakni Yamaha RX-King keluaran lama, peninggalan almarhum ayahnya. Motor itu bukan hanya alat transportasi, tapi kenangan, kebanggaan, dan kadang satu-satunya hiburan di akhir pekan.

Namun semuanya berubah ketika ekonomi rumah tangganya mulai goyah. Anak-anak butuh biaya sekolah, dapur tak selalu mengepul, dan utang mulai menumpuk. Suatu malam, di atas sajadah, ia menangis lirih. Ia ingin hidup yang lebih baik—bukan mewah, tapi cukup dan berkah.

Esoknya, dengan berat hati, Pak Roni menjual RX-King kesayangannya seharga Rp6 juta. Ia tahu, itu bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjuangan yang tak boleh gagal. Dengan uang itu, ia membeli terpal, ember, bibit lele, dan pakan.

Ia belajar beternak lele secara otodidak, menonton video di YouTube pakai HP anaknya, mencatat setiap perkembangan kolam kecil di belakang rumah. Panen pertama tak seberapa. Tapi ia terus mencoba, memperbaiki teknik, menjaga kualitas air, bahkan mulai membuat pakan sendiri.

Tiga tahun berlalu.

Kini, Pak Roni punya 12 kolam terpal. Ia memasok lele ke warung, pasar tradisional, bahkan beberapa restoran di Jepara dan Kudus. Pendapatannya stabil: sekitar Rp20 juta per bulan. Tapi yang lebih membanggakan, ia sudah tiga kali berangkat umroh bersama istrinya.

Ketika ditanya rahasianya, Pak Roni hanya tersenyum dan berkata,
“Kuncinya: jangan gengsi, jangan lupa sedekah, dan jangan pernah tinggalkan salat malam.”

Iri di Balik Kolam

Setelah sukses mengembangkan usahanya, kehidupan Pak Roni mulai terlihat berbeda. Ia merenovasi rumah, membeli sepeda motor baru untuk antar-jemput ke pasar, dan bahkan bisa membantu beberapa tetangga yang kesulitan. Namun, tak semua orang senang melihat perubahan itu.

Di balik pagar rumahnya, bisik-bisik mulai terdengar.

“Dulu miskin sekarang sok dermawan…”
“Pasti ada ilmu hitamnya itu, masa ternak lele bisa umroh sampai tiga kali?”

Adalah Pak Kirman, tetangga yang dulunya sama-sama susah. Namun, sejak melihat kolam-kolam lele Pak Roni ramai dikunjungi pembeli, hatinya mulai panas. Ia mencoba meniru, membuat kolam sendiri, tapi gagal. Sejak itu, iri mulai berubah jadi dendam.

Suatu malam, Pak Roni mendapati salah satu kolamnya tercemar. Airnya bau, dan ratusan lele mengapung mati. Setelah diselidiki, ada zat kimia yang sengaja dituang ke kolam lewat celah pagar belakang.

Pak Roni hanya bisa duduk lemas, menatap lele-lele mati yang mengambang. Modal panen sebulan hilang dalam semalam.

Bacaan Lainnya

Namun, bukannya marah, ia justru mengambil air wudu dan salat dua rakaat. Istrinya menangis dalam diam, tapi Pak Roni berkata pelan,
“Kalau ini cara Allah menguji ikhlas kita, berarti kita sedang naik kelas.”

Ia tak melapor polisi. Ia juga tak menyalahkan siapa-siapa, meski hatinya tahu siapa pelakunya.

Keesokan harinya, ia menggelar pengajian kecil di rumahnya. Di akhir acara, ia memberi sambutan dan berkata:

“Saya percaya, rizki sudah ada ukurannya. Yang saya minta cuma doa dari panjenengan semua, semoga usaha ini tetap berkah, walau sedang lesu…”

Beberapa tamu terdiam. Termasuk Pak Kirman yang hadir, tapi duduk paling belakang. Wajahnya menunduk, matanya berkaca.

Dari Kolam ke Tanah Suci

Setelah musibah itu, usaha Pak Roni nyaris lumpuh. Kolam-kolamnya satu per satu kosong. Tabungan menipis. Tapi ia tak mengeluh. Setiap malam, sujudnya makin lama. Doanya makin lirih. Istrinya pun tetap mendampinginya, meski dapur kadang hanya berisi nasi dan sambal garam.

Pak Roni mulai dari nol lagi.

Ia jualan lele goreng keliling pakai motor tua, lalu kembali menanam bibit lele sedikit demi sedikit. Ia rajin datang ke pengajian, silaturahmi ke tokoh-tokoh desa, dan aktif berbagi ilmu kepada anak muda yang ingin belajar beternak. Tanpa disadari, keberkahan kembali mengalir perlahan.

Tiga tahun kemudian, kolam-kolamnya bukan hanya kembali penuh—tapi lebih luas dari sebelumnya. Ia sewa lahan milik desa untuk budidaya lele skala lebih besar. Pendapatan mulai stabil, bahkan melebihi masa kejayaannya dulu.

Namun kali ini ia berbeda. Ia tak lagi menumpuk harta. Ia punya satu tujuan: naik haji.

Setiap bulan, ia sisihkan uang dari hasil jual lele, tak peduli berapa pun jumlahnya. Kadang hanya sejuta, kadang lebih. Ia buka celengan khusus bertuliskan “Bekal ke Baitullah” yang hanya ia dan istrinya tahu.

Tahun kelima, dengan air mata haru, Pak Roni menerima surat dari Kemenag. Namanya terdaftar sebagai calon jemaah haji.

Ia dan istrinya sujud syukur. Di hadapan kolam-kolam lele yang dulu penuh air mata, kini mereka menangis bahagia. Tak pernah menyangka, dari lumpur kolam dan bau amis, Allah membimbing langkah mereka ke Tanah Suci, kali ini bukan umroh, tapi haji.

Dan saat pesawat menapak di Jeddah, Pak Roni hanya menatap langit dan berkata dalam hati:

“Ya Allah, ternyata Engkau tidak pernah menolak doa orang kecil seperti aku.”

Pos terkait