Kisah Tumenggung Cendol Jepara dan Ki Ageng Selo yang Miliki Ilmu Penyambar Petir 

Foto, Ki Ageng Selo dan Tumenggung Cendol Jepara yang memiliki ilmu petir.

Global7.id – Sejarah, 

Tumenggung Cendol yang dimakamkan di Margoyoso, kecamatan Kalinyamatan, kabupaten Jepara, adalah Rekso Karsono memiliki ayah bernama Karyo Duwiryo yang lahir di daerah bukit Gunung Merapi, Yogyakarta.

Rekso Karsono juga keturunan Ki Ratimah, laki-laki murid Kiai Ageng Selo yang terkenal ilmu petirnya itu. Mungkin, karena faktor genetik, sejak kecil Rekso Karsono memiliki ilmu petir seperti Ki Ageng Selo.

Saat hijrah ke Jepara, Rekso Karsono menikah dengan Nyi Rasimah dan memiliki tiga orang anak yakni Gandik, Kanthil (Syahid terkena barang bunder Belanda) dan Kencono.

Karena Rekso Karsono memiliki ilmu kendali petir dan pasukan perang yang banyak, dia didaulat sebagai Tumenggung atau jabatan setara Bupati tapi bukan dari keturunan bangsawan. Rekso dipercaya menggantikan pemerintahan Jepara sementara, tepatnya ketika Adipati Citrosumo VI sedang bertugas sebagai Bupati di Tuban. Adipati Citrosumo VI
Merupakan kakak dari Mbah Citro Joyo Kusumo dari Desa Lebuawu, kecamatan Pecangaan, Jepara.

Saat menjadi Pj (penjabat) Bupati di Jepara, Rekso Karsono mulai hidup makmur dan suka dibuatkan minuman dari daun cendol. Anak terakhirnya, Kencono, sering dimintanya kulakan daun cendol ke daerah Pati.

Saking sukanya dengan cendol, Rekso Karsono mendatangkan juru masak khusus cendol dari Cirebon. Namanya Nyi Sukinah. Mulai saat inilah, namanya mulai dikenal luas dengan sebutan Tumenggung Cendol.

Guru agamanya bernama Kiai Srigi. Darinya, Tumenggung Cendol mendapatkan amalan salawat Nariyah untuk mengendalikan petir ketika emosi. Untuk menghaluskan hatinya agar tidak marah, Kiai Srigi memintanya supaya khatam membaca al-Qur’an 40 kali.

Belanda sangat takut atas ilmu petir Tumenggung Cendol. Sekali tangan dikibas, petir yang digenggam Tumenggung Cendol bisa membuat pasukan Belanda morat-marit. Sayangnya, karena tak terkontrol, petir di genggamannya malah mengenai pasukannya sendiri, namun salawat Nariyah bisa jadi pengendali.

Suatu ketika, perang Jawa meluas ke Jepara. Atas saran Kiai Srigi, pasukan Tumenggung Cendol diminta meniru strategi perang parit ala Rasulullah Saw. Mereka membuat (kalen kedukan) atau saluran irigasi besar untuk menghalangi pasukan Belanda masuk Jepara.

Kalen itu kini disebut Cipluk. Itu bukan sungai asli. Makanya, ketika musim kemarau, sungai mengalami kekeringan. Tak ada sumber mata air permanen di wilayah perbatasan kabupaten Jepara.

Rekso Karsono hanya menjabat Tumenggung selama 2,5 tahun (1825-1828). Setelah diakhir jabatannya sebagai Pj Bupati Rekso Karsono tertembak dan mati syahid pada hari Jumat saat membaca al-Qur’an di langgarnya.

Saat itu, Rekso Karsono dikepung pasukan Belanda dan hanya pasrah seperti Sayyidina Utsman. Dia tidak lagi melawan pasukan Belanda menggunakan petir demi mengamankan pasukannya sendiri.

Ketika pemakamannya, jenazah Rekso Karsono sulit dibawa ke lokasi karena petir menyambar-nyambar tanpa henti. Hingga kini, kompleks makamnya kadang dipenuhi petir saat musim hujan datang.

Terpisah, mengenal kisah Ki Ageng Selo adalah tokoh spiritual sekaligus leluhur raja-raja Kesultanan Mataram asal Jawa Tengah. Ia terkenal dengan kisah legendanya yaitu menangkap petir.

Siapa sebenarnya Ki Ageng Selo? Bagaimana ia bisa menjadi legenda?

Ki Ageng Selo yang bernama asli Ki Ageng Ngabdurahman Sela ini merupakan keturunan dari Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Dikisahkan bahwa Brawijaya memiliki seorang putra bernama Bondan Kejawan. Ki Ageng selo adalah cucu dari Bondan Kejawan tersebut.

Ki Ageng Selo hidup di masa Kerajaan Demak, tepatnya saat Sultan Trenggana tengah berkuasa, awal abad ke-16. Semasa muda, Ki Ageng Selo sempat mencalonkan dirinya untuk bergabung dalam Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak.

Akan tetapi, ia ditolak karena gagal saat mengikuti ujian mengalahkan Banteng. Saat itu, Selo memukul kepala Banteng tersebut sampai menyemburkan darah. Ketika darah menyembur, Ki Ageng Selo membalikkan wajahnya. Karena Ki Ageng Selo dianggap tidak tahan melihat darah, sehingga Ki Ageng Selo dianggap tidak memenuhi syarat dan ditolak.

Setelah ditolak dari Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak, Ki Ageng Selo berkeinginan untuk mendirikan kerajaannya sendiri. Ia kemudian pergi ke sebuah Desa di sebelah timur Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Di sana, Ki Ageng Selo hidup sebagai seorang petani dan mendalami ilmu agama dan filsafat.

Hidup sebagai seorang petani lantas membuat Ki Ageng Selo banyak menghabiskan waktunya di sawah. Suatu hari, Ki Ageng Selo sedang bekerja, mencangkul di sawah.

Langit saat itu terlihat sangat mendung dan tidak lama kemudian hujan turun dan petir menyambar-nyambar.

Petani lain yang melihat cuaca saat itu memutuskan untuk pulang ke rumah karena takut. Namun, berbeda dengan Ki Ageng Selo. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Di tengah-tengah sedang menyangkul, tiba-tiba sebuah petir menyambar Ki Ageng Selo.

Ajaibnya, petir tersebut berhasil ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Petir tersebut berwujud Naga. Ki Ageng Selo mengikat petir tersebut ke sebuah pohon Gandrik dan kemudian membawanya ke Sultan Demak.

Sewaktu dibawa ke Sultan Demak, wujudnya pun berubah, dari Naga menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dibawa dan dikurung oleh Sultan Demak dan dipertontonkan di alun-alun Demak.

Setelah itu, datanglah seorang nenek mendekat ke kerangkeng tempat kakek tersebut dikurung. Nenek itu menyiramkan air dari sebuah kendi ke arah kakek tersebut. Tidak lama kemudian, terdengar suara petir menggelegar dan kakek serta nenek itu telah menghilang.***

Sumber: BS.

Pos terkait