Global7.id – Jepara,
Kenapa Anak Muda Jepara Kurang Tertarik dengan Keahlian Mengukir? Ini Kata Pengamat Sosial..
Kabupaten Jepara dikenal di seluruh dunia dengan seni ukirnya yang indah dan mendetail, warisan yang sudah menjadi bagian dari identitas daerah. Namun, sayangnya, semakin sedikit anak muda Jepara yang tertarik untuk meneruskan keahlian mengukir ini. Apa yang menjadi penyebabnya?
1. Kurangnya Daya Tarik dalam Industri Tradisional
Banyak anak muda saat ini melihat pekerjaan di bidang teknologi atau kota besar sebagai jalur karier yang lebih menjanjikan. Mereka mungkin merasa industri ukiran kurang “keren” atau tidak memberi kepuasan finansial seperti karier modern lainnya.
2. Tantangan Belajar dan Waktu yang Lama
Mengukir bukanlah keterampilan yang bisa dikuasai dalam waktu singkat. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun untuk menguasai tekniknya, dan ini menuntut kesabaran tinggi. Generasi muda yang terbiasa dengan hasil instan mungkin merasa enggan untuk menekuni profesi yang membutuhkan komitmen panjang ini.
3. Kurangnya Dukungan untuk Inovasi
Seni ukir Jepara berkembang dengan cara tradisional, dan terkadang kurang terbuka untuk inovasi yang bisa menarik minat generasi muda. Jika industri ini lebih mendukung kreativitas dan kolaborasi modern, mungkin banyak anak muda akan kembali tertarik.
4. Keterbatasan Penghasilan dan Peluang Karier
Banyak anak muda menganggap pekerjaan di sektor ukiran tidak memberikan prospek finansial yang stabil. Tantangan di pasar, persaingan harga, dan naiknya biaya hidup membuat mereka lebih memilih profesi lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Padahal, seni ukir ini adalah warisan budaya yang sangat bernilai dan unik. Tanpa regenerasi yang memadai, warisan ini berisiko terkikis dan bahkan hilang seiring waktu. Mari kita dukung inovasi dan pendidikan seni ukir agar generasi muda Jepara merasa bangga dan termotivasi untuk melanjutkan keahlian ini.
Menurut Djoko Tjahyo P salah satu pengamat sosial yang juga seorang Pensiunan Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) mengatakan, “Ya kurangnya daya tarik dalam industri Tradisional yang artinya industri ukir sering dianggap kurang menarik karena imejnya tradisional yang tidak relevan dengan gaya hidup modern. Hal ini memerlukan revitalisasi citra seni ukir melalui peningkatan daya tarik visual dan teknologi. Misalnya, mengintegrasikan teknologi digital seperti computer-aided design (CAD) dalam proses desain, ” ujarnya, Senin (18/11/2024).
“Jadi, bisa me-Revitalisasi Citra Tradisional dengan cara memadukan teknologi modern seperti CAD untuk meningkatkan daya tarik seni ukir, ” imbuhnya.
Selain itu, menurut Djoko, pendidikan modular dan ekstrakurikuler wajib diselenggarakan di sekolah dan universitas, dengan tujuan menyusun kurikulum bertahap berbasis budaya lokal.
Tak hanya itu, inovasi produk juga dikembangkan melalui ruang kolaborasi antara pengrajin dan desainer muda dan juga berikan peluang ekonomi.
“Maka itu, pengembangan pasar global melalui e-commerce dan menjadikan Jepara sebagai pusat ekonomi kreatif itu penting sekali, ” Pungkasnya.
Rekomendasi Utama dari Djoko MH
1. Pendirian pusat pelatihan berbasis teknologi.
2. Pembentukan klaster ekonomi kreatif.
3. Penyusunan Perda untuk melindungi dan memajukan seni ukir.
4. Kolaborasi pemerintah, pengrajin, dan generasi muda sangat diperlukan agar seni ukir tetap relevan dan menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
(***)










