Global7.id – Jepara,
Hiu paus adalah hiu pemakan plankton yang merupakan spesies ikan terbesar. Cucut ini mendapatkan namanya (Ingg whale shark) karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus. Disebut pula dengan nama cucut geger lintang (dari bahasa Jawa: punggung berbintang) dan hiu tutul (karena banyak jenis cucut yang berpola tutul), merujuk pada pola warna di punggungnya yang bertotol-totol, serupa bintang di langit.
Diketahui, Hiu ini mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.
Hiu tutul ini makan secara pasif dengan cara membuka mulutnya lebar-lebar sambil berenang pelahan-lahan, membiarkan air laut masuk secara leluasa dan keluar di belakang rongga mulut melalui celah insang, sementara makanannya tersaring oleh lembar-lembar penyaring di mulutnya.
Adakalanya pula, Hiu tutul makan secara aktif dengan membuka dan menutup mulutnya, sehingga air laut terhisap masuk rongga mulut dan kemudian tertekan keluar melalui celah insang. Pada kedua cara itu, air akan menembus lembaran filter – yang agaknya merupakan modifikasi dari sisir saring insang – secara hampir sejajar dengan lembar-lembar itu, dan bukan dengan arah tegak lurus terhadapnya.
Sementara aliran makanan yang lebih pekat terus berjalan ke kerongkongan ikan. Deretan gigi-gigi kecil di mulut ikan ini agaknya tidak berperan dalam proses makan.
Sesekali, Hiu tutul terlihat ‘batuk’ dalam air; boleh jadi ini mekanisme untuk membersihkan lembaran filter dari kotoran yang menyumbatnya. Hiu ini diketahui bermigrasi dalam jarak jauh untuk mendapatkan makanannya, dan mungkin juga untuk berkembang biak.
Terlepas dari ukurannya yang meraksasa, hiu paus bertutul ini diketahui tidak berbahaya bagi manusia. Meski bertubuh besar.
Sebagai informasi, Hiu tutul adalah hewan laut yang jinak dan kadang-kadang membiarkan para penyelam menungganginya, walaupun tindakan ini tidak dibenarkan oleh para peneliti hiu dan konservasionis.
Geger lintang atau Hiu tutul muda sebenarnya cukup lembut dan dapat diajak bermain-main oleh para penyelam. Berenang dengan lamban, ikan ini acap dijumpai penyelam di banyak lokasi penyelaman di wilayah tropis, termasuk di Thailand, Maladewa, Filipina, Taiwan, Indonesia, Pulau Christmas, Sri Lanka dan lain-lain.
Hiu tutul (Rhincodon typus) tersebut kembali ditemukan nelayan Jepara dengan berusaha menarik kembali ke laut di kawasan pantai TPI Ujungbatu, Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2024).
Seekor Hiu tutul dengan panjang sekitar sekitar 4 meter tersebut secara tidak sengaja terjaring nelayan saat melaut dan nelayan kesulitan mengevakuasi karena gelombang tinggi. Dan akhirnya bisa kembali ke laut.***
Sumber: Antaranews.










