Warga Ketakutan Saat Hujan dan Angin, Tower BTS 70 Meter di Desa Gedangan Jepara, Diminta Segera Dirobohkan: Petinggi Diduga Tutup Mata

Foto, Tower BTS di Desa Gedangan Welahan Jepara buat warga resah

Global7.id – Jepara, 

Keberadaan tower Base Transceiver Station (BTS) setinggi sekitar 70 meter yang telah berdiri kurang lebih 20 tahun di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, menuai penolakan keras dari warga, Rabu (24/12/25).

 

Menara tersebut dinilai membahayakan keselamatan dan membuat warga hidup dalam ketakutan setiap kali hujan disertai petir maupun angin kencang.

 

Warga menilai, keberadaan BTS yang berdiri di tengah permukiman padat penduduk itu sudah tidak lagi layak. Ketakutan warga semakin memuncak setelah diketahui adanya perpanjangan kerja sama BTS yang diduga dilakukan tanpa musyawarah dan pemberitahuan kepada warga sekitar.

 

Menurut pengakuan warga, kekecewaan berubah menjadi kemarahan ketika mengetahui perpanjangan BTS dilakukan dengan petinggi desa, namun tanpa melibatkan masyarakat yang terdampak langsung.

 

“Saat hujan petir, rumah-rumah di sekitar BTS terasa seperti tersambar. Kami benar-benar takut, ini menyangkut keselamatan nyawa,” ungkap salah seorang warga.

 

Ancaman tak hanya datang saat hujan. Ketika angin kencang melanda, warga mengaku kerap berlarian keluar rumah karena khawatir tower BTS tersebut roboh dan menimpa permukiman.

 

“Kalau angin besar, kami lari keluar rumah. Takut tower itu roboh menimpa rumah kami,” lanjutnya.

 

Bacaan Lainnya

Warga mempertanyakan kelayakan dan kekuatan konstruksi menara yang telah berusia dua dekade itu, termasuk izin operasional yang masih dipertahankan meski berdiri di tengah permukiman warga.

 

Atas kondisi tersebut, warga mendesak pemerintah desa agar menolak perpanjangan izin BTS. Bahkan, warga secara tegas meminta agar menara tersebut dibongkar apabila terbukti membahayakan keselamatan masyarakat.

 

Namun, warga mengaku heran karena keluhan yang telah disampaikan justru tidak mendapat respons. Petinggi desa diduga tidak mengindahkan aspirasi warganya dan tetap menerima perpanjangan kerja sama BTS yang dilakukan pada Oktober lalu.

 

Lebih lanjut, warga juga mengungkapkan adanya pembagian uang kompensasi dari pihak BTS kepada petinggi desa dan sebagian warga terdekat. Nilainya disebut bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga sekitar satu juta rupiah untuk tiga rumah yang berada di ring satu.

 

“Saya termasuk yang ditawari, tapi saya menolak. Beberapa warga juga menolak karena bagi kami ini menyangkut keselamatan, bukan soal uang,” ujar warga.

 

Warga menilai sikap petinggi desa terkesan menyepelekan keselamatan masyarakat dan tidak mau mendengarkan keluhan yang disampaikan secara terbuka.

 

“Petinggi tidak mau mendengar keluhan warganya, seakan tutup mata,” tegas warga.

 

Sementara itu, saat tim Global7 melakukan konfirmasi ke Balai Desa Gedangan, petinggi desa Jayus Santoso belum dapat ditemui dan belum memberikan klarifikasi terkait konflik tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Gedangan belum memberikan pernyataan resmi terkait penolakan warga dan dugaan perpanjangan BTS yang menuai polemik.

 

 

G7/SGX&UCP

Pos terkait