Global7.id – Jepara,
Uri – uri budaya yang tak pernah punah di Kabupaten Jepara, hal ini juga masih terjaga ketika Desa Mambak mengadakan Sedekah Bumi, Dengan tema menjaga Warisan Leluhur, Merawat Harmoni Alam, Sedekah Bumi Desa Mambak 2025 berjalan lancar dan sukses.
Jejak Syukur dalam tradisi Sedekah Bumi
Desa Mambak, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, kembali menggelar tradisi tahunan yang sarat makna: Sedekah Bumi. Sebuah wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan rezeki dan hasil bumi, tradisi ini juga menjadi titik temu antara nilai spiritual, sosial, dan budaya warga. Tahun ini, puncak acara jatuh pada Minggu malam, 8 Juni 2025, di Balai Desa Mambak, menampilkan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Hadi Purwanto. Namun, sebelum mencapai klimaks pertunjukan seni tradisional itu, rangkaian acara sudah berlangsung penuh khidmat dan semarak.
Rangkaian Acara: Menghimpun Doa dan Budaya.
Tradisi dimulai dengan manganan di Punden Daruni, sebuah titik sakral yang dipercaya sebagai tempat awal mula Desa Mambak bermula. Warga dari berbagai RT/RW membawa ancak berisi hasil bumi dan makanan olahan sebagai simbol syukur dan kebersamaan. Momen ini tak sekadar seremoni; ia mempererat tali silaturahmi antarwarga, menjalin komunikasi yang melampaui sekat sosial.
Berlanjut ke prosesi doa bersama di makam Islam Desa Mambak, para tokoh agama, sesepuh, dan masyarakat berkumpul mengirim doa kepada leluhur dan memohon keberkahan bagi desa. Ritual ini menunjukkan hubungan erat antara dunia nyata dan spiritual yang masih dijaga dengan kuat oleh masyarakat desa.
Malam sebelumnya, digelar pula pengajian umum oleh Ranting Nahdlatul Ulama Desa Mambak. Acara ini menjadi wahana doa bersama khusus untuk para leluhur, termasuk para petinggi dan perangkat desa yang telah wafat, mulai dari kepemimpinan awal hingga kini.
“Ini bentuk ikhtiar spiritual kami sebagai warga Nahdliyyin. Kita mendoakan para leluhur, para pemimpin desa yang telah berjasa membangun Mambak dari masa ke masa. Semoga nilai-nilai perjuangan mereka tetap menjadi inspirasi bagi generasi sekarang,” ungkap Rifai, Ketua Ranting NU Mambak.
Siang harinya, karnaval ancak mewarnai jalanan desa. Barisan warga berpakaian adat dan kostum kreatif mengiringi hasil bumi yang diarak keliling kampung. Sorak gembira anak-anak dan tawa warga menciptakan suasana meriah yang menunjukkan betapa tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Mambak.
Puncaknya adalah pagelaran wayang kulit di Balai Desa, yang tidak hanya menjadi hiburan malam, tetapi juga wahana penyampaian pesan moral, spiritual, dan sosial. Ki Dalang Hadi Purwanto tampil memukau dengan lakon yang sarat nasihat dan kebijaksanaan Jawa.
Tinjauan Sosiologis: Tradisi sebagai Perekat Sosial
Dalam perspektif sosiologi, Sedekah Bumi di Mambak adalah manifestasi dari collective conscience kesadaran kolektif yang mengikat warga dalam norma, nilai, dan solidaritas. Ini bukan sekadar ritual, melainkan instrumen sosial yang menyatukan masyarakat dalam keberagaman latar belakang dan ekonomi.
Tradisi ini juga memainkan fungsi laten, yakni mengurangi ketegangan sosial melalui ruang partisipatif dan inklusif. Siapapun bisa terlibat, tak peduli status atau jabatan. Lewat kebersamaan itulah, kohesi sosial terus terjaga dan diwariskan lintas generasi.
Sejarah dan Filosofi Wayang dalam Sedekah Bumi.
Pemilihan wayang kulit sebagai puncak acara bukan tanpa alasan. Wayang memiliki nilai filosofis tinggi dalam budaya Jawa sebagai medium penyampai ajaran moral, keteladanan, dan kritik sosial. Penyebaran kepercayaan Sejak dahulu, para dalang dipercaya sebagai penjaga nilai-nilai luhur yang dibalut dalam kisah epik Mahabharata atau Ramayana, gareng petruk,
Dalam konteks Sedekah Bumi, wayang kulit juga menjadi simbol “nguri-uri kabudayan” atau upaya merawat warisan budaya nenek moyang. Selain sebagai hiburan rakyat, pertunjukan ini juga menjadi ruang refleksi akan kehidupan, tanggung jawab sosial, dan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Petinggi Desa Mambak: “Ini Wujud Syukur dan Pemersatu Warga”
Petinggi Desa Mambak, Hadi Prayitno, menegaskan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar agenda rutin, tapi warisan luhur yang memiliki fungsi spiritual dan sosial yang dalam.
“Sedekah Bumi adalah salah satu napas desa ini. Di sinilah kita mengucap syukur, mendoakan leluhur, sekaligus mempererat ikatan antarmasyarakat. Kami ingin anak-anak muda bisa melanjutkan tradisi ini dengan bangga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tahun ini, partisipasi pemuda dan remaja meningkat, termasuk dalam tim panitia dari adek adek karang taruna dan pengisi acara, menandakan regenerasi tradisi yang sehat.
Ketua BPD Mambak: “Tradisi Ini Harus Dilestarikan dan Diperkuat”
Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mambak, Junatan, menyoroti pentingnya peran lembaga desa dalam menjaga kelangsungan tradisi.
“Kami di BPD terus mendukung agar Sedekah Bumi tak hanya jadi kegiatan simbolik, tapi juga momentum refleksi bersama. Tahun depan, kami akan dorong kolaborasi yang lebih luas, termasuk keterlibatan sekolah dan kelompok tani,” katanya.
Menurutnya, pelestarian budaya juga perlu disertai inovasi, seperti dokumentasi digital dan pelibatan komunitas kreatif agar lebih relevan bagi generasi muda.
Harapan dan Doa untuk Masyarakat Mambak
Sedekah Bumi kali ini mengandung harapan besar agar Desa Mambak senantiasa diberkahi, dijauhkan dari bencana, dan warganya hidup rukun, sehat, dan sejahtera. Doa-doa yang dipanjatkan di punden daruni ,pengajian dan di makam leluhur bukanlah sekadar simbol, tapi pancaran rasa cinta dan tanggung jawab terhadap tanah kelahiran.
Tradisi yang Hidup, Bukan Sekadar Dikenang
Sedekah Bumi di Desa Mambak adalah bukti bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan nafas kehidupan yang terus berkembang seiring zaman. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, keberadaan acara seperti ini menunjukkan bahwa identitas budaya dan spiritual masyarakat tetap kokoh, selama ada niat untuk menjaga dan merawatnya bersama-sama.
Sebagaimana wayang kulit yang dimainkan semalam suntuk, tradisi ini mengajarkan bahwa hidup adalah lakon panjang yang memerlukan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Dan di Desa Mambak, pelajaran itu dituturkan lewat doa, ancak, karnaval, pengajian, dan tembang Jawa yang terus mengalun hingga fajar menyingsing.
G7/AR










