JEPARA, Global7.id – Hanya berjarak tiga meter, bahkan hanya dipisah jalan setapak selebar lima langkah kaki orang dewasa, dua rumah ibadah berbeda agama berdiri berdampingan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Inilah Masjid Syuhada dan Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) Tempur. Sabtu (10/10/2026).
Potret kerukunan ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi bukan sekadar jargon, melainkan hidup dan dipraktikkan setiap hari oleh warga Desa Tempur.
Berdasarkan penelusuran http://Global7.id dari laman http://berita.jepara.go.id, keberadaan dua rumah ibadah yang amat berdekatan itu justru memberi inspirasi harmoni positif dalam rajutan kehidupan sosial keagamaan. Tidak ada sekat, tidak ada pembedaan.
Saat perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, warga saling menjaga dan saling membantu. Ketika umat Islam merayakan Lebaran, warga Nasrani ikut menjaga keamanan lingkungan. Begitu pula sebaliknya, saat perayaan Natal, Banser dan warga muslim turut menjaga kekhusyukan ibadah di gereja.
Ketua Takmir Masjid Syuhada menuturkan, kerukunan ini telah diwariskan turun-temurun. “Kami di sini sudah seperti keluarga. Kalau gereja ada acara, kami bantu. Kalau masjid ada acara, mereka juga datang. Kuncinya saling menghormati,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan pengurus GITJ Tempur. Menurutnya, kunci kerukunan di Desa Tempur adalah tradisi gotong-royong yang tidak memandang agama. Mulai dari kerja bakti membangun rumah, bersih desa, hingga sedekah bumi dan baratan, semua warga terlibat tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Fenomena Tempur ini menambah daftar panjang desa toleran di Jepara, setelah sebelumnya Desa Bondo yang juga dikenal dengan tradisi ‘ngejekke’ — saling berbagi makanan antar umat beragama saat hari besar.
Bupati Jepara Witiarso Utomo dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa Pemkab Jepara akan terus merawat dan menjaga desa-desa toleran seperti Tempur sebagai model kerukunan untuk Indonesia.
“Jepara adalah miniatur Indonesia. Di sini ada NU, Muhammadiyah, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha semua hidup rukun. Tiga meter yang memisahkan masjid dan gereja di Tempur, justru tiga meter yang menyatukan iman dan persaudaraan,” tegas Bupati.
Dengan semangat itulah, Desa Tempur kini menjadi destinasi edukasi toleransi. Banyak rombongan dari luar daerah yang datang untuk belajar bagaimana merawat perbedaan tanpa harus saling membedakan.
Global7/AA










