Global7.id – Jepara,
Tak Tersentuh Bantuan, Warga Bapangan Jepara Berharap Bisa Kembali Melihat Indahnya Dunia
Jepara menjadi kabupaten di Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan terendah di Jawa Tengah. Namun, separo warga Jepara terdaftar dalam (DTKS). Dari jumlah tersebut, Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) Jepara mendata ada sekitar 560 ribu jiwa yang terdaftar di DTKS. Sedangkan warga miskin berdasarkan data BPS sebanyak 80.840 jiwa.
Salah satu warga Jepara, yaitu dari kelurahan Bapangan, RT02/RW03, kecamatan Jepara kota ada yang hidup di bawah garis kemiskinan bahkan sangat memprihatikan.
Sholechah (54), yang menderita kebutaan mata sejak 11 tahun yang lalu akibat kemasukan hewan kecil yang masuk di kedua matanya.
Sebagai suami, Rizki Oki Hendar Susanto (49) atau akrab disapa jangkung menceritakan keadaan istrinya, “Ya mas, dulu kena hewan kecil yang masuk kedua matanya lalu perih dan lama-lama gak bisa melihat sama sekali, ” ujarnya, Minggu 10/11/2024).
“Dulu saya dan istri tinggal di sekitar terminal Semarang, lalu kami kembali pulang ke Jepara, sudah 3 tahun bangun rumah seadanya ukuran 3×5 meter. Ini pun kami menempati tanah irigasi dekat les Bapangan, ” imbuhnya.
Selama 3 tahun kelurga Rizki sudah berharap ada bantuan dari pemerintah Desa atau kelurahan Bapangan, namun tak pernah datang kepadanya.
“Pernah dapat bantuan dana 2 kali dari NU Jepara, itu dulu, ” tutur Rizki.
Dari informasi yang diterima, Keluarga Rizki pernah mengajukan usulan ke pak RT setempat supaya dapat bantuan. Namun hingga sekarang belum ada sedikitpun bantuan apapun yang mereka terima.
“Dulu 3 tahun yang lalu, saya pernah memohon agar dapat bantuan melalui ketua RT. Tapi, “
“Njenengan orang baru, nanti klo ada pendaftaran baru, saya usulkan, ” kata Sholichah meneruskan jawaban pak RT.
Selain itu, ia pernah minta surat keringanan sekolah ke kelurahan Bapangan namun hingga sekarang tidak ada kabar.
Perlu diketahui, dalam kehidupan sehari-hari keluarga Rizki, Sholichah dari hari Senin sampai Sabtu mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 15.30 bekerja di pasar Jepara 1 untuk meminta belas kasihan dari orang-orang yang memberinya sedikit uang. Untuk Rizki sebagai kepala rumah tangga tidak bekerja, terkadang jadi kuli bangunan jika ada yang mengajak kerja. Untuk putrinya Aisyah Ayuwindira (10) sekolah kelas 3 Madrasah Tsanawiyah di Taman Sari, Sarapan Jepara.
Dari rumahnya, Sholichah harus berjalan kaki sejauh 300 meter yang dituntun suaminya menuju ke pinggir jalan raya untuk naik angkutan umum dengan tujuan ke pasar Jepara 1. Namun, beberapa waktu ini kedua kakinya mengalami pembengkakan yang menurutnya mengalami diabetes dan terkadang tidak berangkat ke pasar untuk meminta belas kasihan dari orang-orang yang memberinya sedikit uang.
“Ya, saya sering kumat kaki saya bengkak sakit jika untuk jalan kaki ke pasar Jepara, obat saya habis ya gak berangkat ke pasar, ” ucapnya dengan penuh harapan dapat bantuan dari pemerintah Jepara.
“Saya gak minta yang tinggi, tolong bantuannya untuk bangun WC dan kamar mandi karena rumah ini tidak ada dan juga yang utama saya bisa kembali melihat dunia ini. Saya sudah lelah untuk meminta-minta sejak saya tidak bisa melihat. Jika ada yang mau mempekerjakan suami saya kerja apa saja gak apa-apa, ” harapnya pada pemerintah Jepara.
Pernah punya usaha jual sate kikil yang dijual ke pasar Jepara, namun modalnya untuk kebutuhan sehari-hari sudah tidak cukup.
Untuk keadaan kedua mata Sholichah, suaminya pernah menanyakan ke salah satu rumah sakit di Semarang, “Ya pak, untuk biaya operasi 1 mata itu dengan biaya 20 juta, karena kornea mata jika kena sinar matahari akan pecah, ” pungkas Rizki menceritakan keadaan kedua mata istrinya.
Terpisah, Ketua RT 02 RW 03 setempat mengatakan, “Saya sudah mengusulkan soal bantuan apapun dan mereka sudah menerima, soal pengakuannya yang berbeda ya saya ada datanya, ” jelasnya.***
“Dari artikel yang kami tayangkan sudah mengkonfirmasi ketua RT setempat dan keterangan tersebut dari narasumber yang kami wawancarai, tujuannya untuk memohon bantuan kepada dinas sosial dan dinas kesehatan untuk kebutuhan warga Bapangan tersebut”.
Sumber: G7.










