Global7.id – Bandarlampung,
Polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Lampung berbuntut peringatan keras kepada sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menu yang dinilai tidak sesuai standar selama Ramadan memicu evaluasi menyeluruh oleh Satuan Tugas (Satgas) MBG tingkat provinsi.
Ketua Pelaksana Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul, menegaskan bahwa petunjuk teknis pemberian menu selama Ramadan sudah diatur secara jelas. Makanan yang dibagikan kepada siswa harus berupa jenis setengah basah atau kering yang aman disimpan hingga waktu berbuka puasa.
“Sudah ada juknis yang mengatur. Menu bisa berupa kering tempe, susu, pisang, bubur kacang hijau, atau makanan kering lain yang dipastikan tahan hingga berbuka,” ujar Saipul di Bandarlampung, Sabtu (28/2/2026).
Menu Tak Sesuai, SPPG Ditegur
Peringatan keras ini muncul setelah ditemukan beberapa menu yang dianggap tidak tepat, salah satunya pembagian telur mentah kepada siswa sekolah dasar. Meski dinilai tahan lama, telur mentah berisiko pecah saat distribusi dan tidak dapat dipastikan aman dikonsumsi ketika sampai di tangan siswa.
“Secara ketahanan mungkin awet, tapi risiko pecah dalam perjalanan cukup tinggi. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.
Selain persoalan teknis distribusi, Satgas juga menyoroti aspek angka kecukupan gizi. Meski setiap paket makanan dibatasi anggaran Rp10 ribu, menu yang disajikan tetap harus memenuhi standar nutrisi anak usia sekolah.
Menurut Saipul, kritik yang sering muncul dari masyarakat bukan pada nominal anggaran, melainkan kandungan gizinya yang dinilai belum optimal.
“Sering kali nominalnya sudah sesuai, tapi komposisi gizinya belum memenuhi kebutuhan anak. Ini yang perlu dibenahi. Variasi menu juga penting agar anak tidak bosan,” tambahnya.
Baca Juga: Skandal Menu MBG? 47 SPPG Dihentikan Usai Temuan Mengejutkan
Pengawasan Diperketat Selama Ramadan
Satgas MBG Provinsi Lampung memastikan pengawasan akan dilakukan secara intensif selama Ramadan. Koordinasi dengan Satgas kabupaten/kota serta instansi terkait diperkuat untuk memastikan operasional dapur SPPG berjalan sesuai ketentuan.
Evaluasi tidak hanya menyasar kualitas bahan makanan, tetapi juga sistem distribusi, kebersihan dapur, hingga ketepatan waktu penyaluran.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya persoalan yang lebih serius, termasuk risiko makanan tidak layak konsumsi atau tidak memenuhi standar gizi. Apalagi program MBG menyasar siswa sekolah dasar yang membutuhkan asupan nutrisi seimbang untuk mendukung tumbuh kembang dan aktivitas belajar.
Tekanan Publik Meningkat
Isu menu MBG di Lampung menjadi sorotan setelah sejumlah laporan masyarakat menyebut adanya menu yang kurang layak dan tidak sesuai ekspektasi selama Ramadan. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah itu kini berada dalam pengawasan ketat.
Di tengah tingginya perhatian publik terhadap kualitas layanan sosial pemerintah, Satgas menegaskan tidak akan mentolerir pelanggaran terhadap standar yang telah ditetapkan.
“Tujuan program ini baik, untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan bergizi. Karena itu pelaksana di lapangan harus disiplin dan patuh aturan,” ujar Saipul.
Fokus pada Standar dan Keamanan
Dengan anggaran terbatas, kreativitas dan ketelitian SPPG dalam menyusun menu dinilai menjadi kunci. Menu setengah basah atau kering dipilih agar aman disimpan, tidak mudah basi, dan tetap memenuhi kebutuhan energi serta protein siswa.
Satgas berharap peringatan ini menjadi momentum perbaikan menyeluruh, bukan sekadar respons sesaat terhadap kritik publik.
Program MBG sendiri merupakan salah satu inisiatif strategis pemerintah untuk menekan angka kekurangan gizi pada anak sekolah. Karena itu, konsistensi kualitas dan pengawasan menjadi faktor utama keberhasilan pelaksanaannya.
Hingga kini, evaluasi terhadap SPPG di Lampung masih terus berlangsung. Satgas memastikan hasil pengawasan akan menjadi dasar perbaikan teknis di lapangan agar distribusi MBG selama Ramadan berjalan lebih optimal, aman, dan sesuai standar gizi yang ditetapkan.
G7/PKR










