Siswa SMK di Pakis Aji Jepara Terlantar Saat PKL, Keluarga Tuntut Tanggung Jawab Sekolah

Foto, salah satu murid SMK di kecamatan Pakisaji, Jepara.

Global7.id – Jepara,

Peristiwa terlantarnya siswa SMK di kecamatan Pakis Aji yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) kembali mencuat setelah dua siswanya yakni Edi Prastio asal Desa Mambak dan Alpino asal Desa Guyangan, dilaporkan terlantar di Kuningan, Jawa Barat. Keluarga mereka menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah atas keputusan yang dianggap sewenang-wenang dan tanpa pertimbangan matang.


 

Menurut keterangan Wahyudi, kakak Edi Prastio, awalnya kedua siswa bersama delapan siswa lainnya ditempatkan di sebuah peternakan di Desa Kaligarang, Kecamatan Kembang, Jepara, sebelum akhirnya dipindahkan lagi ke Kuningan, Jawa Barat. Perpindahan ini menuai protes dari para orang tua siswa karena jarak yang semakin jauh.


 

“Sejak awal, semua wali murid menolak pemindahan ke Kuningan karena terlalu jauh dan membahayakan kondisi anak-anak kami. Tapi, wali kelas Deswita tetap bersikeras bahwa jika mereka tidak mengikuti perpindahan ini, mereka akan dikeluarkan dari sekolah,” ujar Wahyudi, Jum’at (11/10).


 

Yang lebih aneh, menurut Wahyudi, beberapa siswa lain masih diizinkan untuk melanjutkan PKL, menimbulkan pertanyaan terkait kebijakan sekolah.


 

Keadaan semakin memburuk ketika Alpino, salah satu siswa, jatuh sakit selama dua hari saat PKL di Kuningan. Edi Prastio, sebagai teman, memilih untuk merawatnya.


 

Namun, pada 11 Oktober 2024, sekitar pukul 14.00 WIB, pihak perusahaan melaporkan kepada Deswita bahwa Edi dan Alpino diduga tidak mau bekerja lagi. Tanpa klarifikasi lebih lanjut, pihak sekolah memutuskan untuk meminta keluarga menjemput kedua siswa tersebut dan mengeluarkan mereka dari sekolah.


 

Situasi semakin memprihatinkan ketika keluarga Edi dan Alpino melaporkan bahwa kedua anak mereka terlantar di Kuningan karena tidak ada tindak lanjut dari sekolah untuk memulangkan mereka.


 

Bacaan Lainnya

Pada pukul 23.00 WIB, keluarga merasa harus menghubungi media untuk meminta bantuan agar kasus ini bisa mendapatkan perhatian publik.


 

Keluarga Edi dan Alpino mengharapkan adanya sanksi tegas terhadap pihak sekolah, terutama kepada Deswita sebagai wali kelas yang dianggap lalai dan tidak memberikan solusi yang tepat dalam situasi ini.


 

“Anak kami sedang sakit dan butuh perawatan, bukan justru dilaporkan tidak bekerja. Ini adalah tanggung jawab sekolah untuk melindungi dan memperhatikan kondisi siswa saat PKL,” kata Wahyudi dengan nada marah.


 

Dalam hal ini, awak media sudah konfirmasi ke Deswita, selaku wali kelas melalui via WhatsApp namun dalam keterangannya malah menyuruh datang ke sekolah dan mengancam akan melaporkan balik awak media.


Kejadian ini menjadi sorotan, dan keluarga berharap ada intervensi dari pihak berwenang agar hak-hak siswa tetap terlindungi dan tidak ada lagi kasus serupa di kemudian hari. Mereka juga meminta agar pihak sekolah memberikan penjelasan yang jelas terkait kebijakan perpindahan PKL yang dinilai memberatkan siswa dan keluarganya.


Peristiwa ini menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap sistem PKL di sekolah-sekolah, agar tidak ada lagi siswa yang terlantar atau diabaikan saat menjalani pendidikan luar sekolah. Keluarga berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran dan ada perubahan signifikan dalam tata kelola sekolah terkait praktik kerja lapangan siswa.***


 

 

Sumber: G7.

Wartawan: AR.

Penanggung Jawab: AR.

Pos terkait