Global7.id – Editorial | Minggu 14 Desember 2025
Terbakarnya gedung Terra drone (9/12/25) tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Terlebih ketika musibah itu terjadi di tengah banjir yang kembali menenggelamkan sejumlah wilayah di Sumatra, sebuah pulau yang selama bertahun-tahun menjadi episentrum konflik lahan, ekspansi sawit, dan kerusakan hutan sistematis.
Terra drone bukan perusahaan sembarangan. Ia dikenal sebagai pengelola data spesial lahan perkebunan sawit hingga sekitar 600 ribu hektare, termasuk peta perubahan tutupan hutan di Sumatra. Data semacam ini bukan sekadar aset korporasi, melainkan dokumen strategis yang menentukan arah kebijakan lingkungan, penegakan hukum, dan keselamatan ekologis jutaan warga.
Maka wajar jika publik bertanya, apa saja data yang tersimpan di gedung yang terbakar itu, dan apakah seluruhnya benar-benar aman?
Banjir di Sumatra bukan lagi anomali alam. Ia telah berubah menjadi bencana struktural akibat alih fungsi hutan, pembalakan liar, dan pembukaan lahan sawit yang kerap melanggar tata ruang. Sungai kehilangan daerah resapan, hutan digunduli, dan air mencari jalan sendiri masuk ke rumah rakyat.
Dalam situasi seperti ini, data pemetaan lahan adalah kunci. Data menentukan siapa membuka hutan, di mana pelanggaran terjadi, dan sejauh mana negara gagal mengendalikan korporasi. Jika data itu hilang, rusak, atau tak bisa diakses, maka yang hilang bukan hanya file digital, tetapi juga peluang keadilan ekologis.
Hingga kini, penyebab kebakaran gedung Terra drone memang belum diumumkan secara tuntas. Namun dalam konteks tarik-menarik kepentingan besar di sektor sumber daya alam, publik berhak bersikap kritis. Terlalu banyak kasus di negeri ini di mana dokumen penting lenyap bersamaan dengan memudarnya proses hukum.
Apalagi jika benar terdapat data yang disinyalir berkaitan dengan pembalakan liar dan ekspansi sawit ilegal di hutan Sumatra. Jika data semacam itu musnah, maka yang diuntungkan bukan rakyat, melainkan pihak pihak yang selama ini berlindung di balik gelapnya hutan yang sudah diratakan.
Tanpa transparansi, banjir hanya akan dianggap takdir, bukan akibat dari kebijakan dan kejahatan lingkungan
Jika data tentang hutan dan sawit menghilang, maka banjir di Sumatra akan terus berulang tanpa pernah menemukan akar persoalan. Rakyat akan terus menjadi korban, sementara aktor perusakan tetap aman di balik kabut abu abu birokrasi dan kepentingan modal.
Terbakarnya gedung Terra drone seharusnya menjadi tamparan nasional
bahwa ketika data lingkungan terbakar, yang tenggelam bukan hanya arsip, tetapi masa depan ekologi Indonesia.
Global7.id percaya, kebenaran tidak boleh ikut hangus bersama bangunan. Karena tanpa kebenaran, keadilan lingkungan hanyalah slogan kosong.
G7/AR










