Tak Mampu Beli Buku Tulis, Siswa SD di NTT Akhiri Hidup: Surat untuk Ibu Bongkar Luka Bangsa, Rocky Gerung Sebut Negara Gagal Hadir

Foto, Rocky Gerung soroti tragedi siswa SD di NTT akibat kemiskinan ekstrem

Global7.id – Nasional, 

Rocky Gerung menyoroti keras tragedi meninggalnya seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Bocah berinisial YS itu ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri, sebuah peristiwa yang menyayat hati publik dan mengguncang kesadaran nasional.

 

Tragedi ini menjadi semakin memilukan setelah terungkap bahwa sebelum mengakhiri hidupnya, YS sempat menulis sepucuk surat kepada ibunya. Isi surat itu sangat sederhana, namun menghancurkan nurani: permintaan dibelikan buku tulis untuk keperluan sekolah. Permintaan tersebut tak mampu dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Surat itu kini menjadi simbol sunyi dari jeritan kemiskinan yang sering luput dari perhatian negara.

 

Peristiwa ini sontak memicu reaksi luas di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan arah pembangunan nasional yang terus berbicara soal pertumbuhan ekonomi dan angka-angka besar, sementara kebutuhan paling dasar anak-anak di pelosok negeri masih belum terpenuhi.

 

Rocky Gerung: Tragedi Ini Alarm Keadilan Sosial

Pengamat politik Rocky Gerung menilai peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai tragedi personal semata. Menurutnya, kematian YS merupakan indikator kegagalan struktural negara dalam menjaga fondasi peradaban dan memastikan keadilan sosial bagi seluruh warganya.

 

“Siapa pun yang membayangkan kejadian ini pasti menemukan ada yang salah dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban. Ada yang keliru dalam kebijakan pemerintah dalam memastikan keadilan sosial,” ujar Rocky, dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Senin malam, 2 Februari 2026.

 

Rocky Gerung Kritik Pemerintah yang Terlalu Fokus Angka

Rocky Gerung menyoroti ironi besar di tengah pemerintah yang terbuai isu-isu makro seperti Danantara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, fokus berlebihan pada indikator ekonomi justru membuat negara kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan rakyat kecil.

 

Bacaan Lainnya

“Publik justru disadarkan oleh hal yang sangat kecil, tapi paling mendasar. Human solidarity tidak lagi berkemah dalam upaya kita menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” tegas Rocky Gerung.

 

Pernyataan Rocky Gerung ini mendapat sorotan luas karena dinilai mewakili kegelisahan publik. Banyak pihak menilai kritik tersebut relevan dengan realitas sosial di lapangan, khususnya di daerah tertinggal dan miskin.

 

Rocky Gerung: Negara Gagal Hadir Sebelum Tragedi Terjadi

Akademisi yang dikenal konsisten mengkritik kekuasaan itu menegaskan, tragedi YS seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Ia menyebut bahwa di balik kebijakan yang memaksa pertumbuhan ekonomi 6, 7, bahkan 8 persen, terdapat kelompok masyarakat yang tercecer dan tidak tersentuh oleh hasil pembangunan.

 

“Kemampuan kita menyadari tragedi semacam ini adalah ukuran kewarasan bernegara. Di balik kebanggaan terhadap pertumbuhan ekonomi, ada nyawa kecil yang tidak sempat kita jaga,” kata Rocky Gerung.

 

YS diketahui ditemukan tergantung di pohon cengkeh di kebun milik neneknya pada Kamis, 29 Januari 2026. Lokasi yang sunyi itu kini menjadi saksi bisu bagaimana kemiskinan struktural mampu merenggut harapan seorang anak yang seharusnya sedang belajar dan bermain.

 

Kasus ini menegaskan kembali bahwa persoalan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkutat pada kurikulum atau infrastruktur sekolah, tetapi juga menyangkut akses paling dasar. Buku tulis, seragam, dan perlengkapan sekolah masih menjadi beban berat bagi banyak keluarga miskin di pelosok negeri.

 

Tragedi ini menambah daftar panjang persoalan sosial yang mencerminkan ketimpangan ekonomi di Indonesia, sebagaimana sebelumnya juga disorot dalam sejumlah laporan Global7 terkait kemiskinan ekstrem dan krisis pendidikan di daerah.

 

Pernyataan Rocky Gerung tentang tragedi ini disampaikan melalui kanal YouTube pribadinya dan turut dikutip oleh sejumlah media nasional sebagai kritik tajam terhadap arah kebijakan pemerintah.

 

Kini, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: ke mana arah pembangunan nasional jika seorang anak SD merasa hidupnya tak lagi berarti hanya karena sebuah buku tulis? Negara kembali diuji, bukan oleh indeks saham atau angka pertumbuhan, melainkan oleh kemampuannya melindungi martabat hidup rakyat paling lemah.

 

Lihat video youtube Rocky Gerung: https://www.youtube.com/@RockyGerungOfficial_2024

 

G7/GLN

Pos terkait