Proyek Pengerukan Kali Wiso Dinilai Tak Sempurna, Ini Kata Nelayan Jepara

Foto, lokasi Muara Kali Wiso kelurahan Ujungbatu, Jepara.

Global7.id – Jepara,

Proyek pengerukan di muara Kali Wiso, Kecamatan Jepara Kota yang di gadang-gadang sebagai proyek normalisasi guna memperlancar aliran sungai dan akses nelayan untuk mempermudah pergi melaut mencari nafkah, tapi malah menyusahkan para nelayan dari kelurahan Ujungbatu dan sekitarnya.


 

Setelah adanya proyek pengerukan alur muara Kali Wiso yang dikerjakan CV. Sumber Jaya dengan nilai kontrak Rp. 199.345.130,88 justru membuat banyak nelayan yang menjadi korban.


 

Dari informasi yang diterima awak, para nelayan mengeluhkan dari proyek tersebut yang membuat kerusakan kapal mulai dari lambung kapal dan baling-baling mesin untuk penggerak kapal. Elevasinya endapan lumpur yang tambah amburadul, karena rancaunya proses pengerjaan pengerukan muara Kali Wiso tersebut.


 

Seperti yang di alami nelayan dari kelurahan Ujungbatu atas nama Mislu khandil selaku wakil ketua kelompok nelayan Kartini Maritim Jepara yang mengatakan bahwa kapalnya kerap kali mengalami patah baling-baling penggerak kapal setiap berangkat maupun pulang dari melaut, karena kandas akibat pendangkalan di muara Kali Wiso.


 

“Semenjak adanya proyek pengerukan normalisasi malah muara kali jadi tidak normal, saat air surut para nelayan dipastikan kapalnya akan kandas di muara Kali Wiso tersebut. Padahal sebelumnya saat surut masih bisa lewat meskipun satu jalur saja,” ungkap Khandil mengutip dari portal media Radar Pos Nusantara, Senin (2/12/2024).


 

“Proses pengerukan sebagian lumpurnya disisihkan kepinggir kali bagian utara, bukannya diangkut kedarat semua. Jadi tumpukan lumpur yang sisihkan di pinggir kali pasti balik lagi ketengah muara, karena terseret ombak dan membuat kali menjadi dangkal kembali. ” imbuhnya.


 

Sementara itu, Kabid Pengairan PUPR kabupaten Jepara, Teguh Arifianso mengatakan, bahwa metode pengumpulan endapan lumpur disisi pinggir muara kali wiso benar adanya. Dengan harapan dapat menjaga dinding talud agar tidak tergerus oleh ombak, karena sebagian dinding talud banyak yang beronggah karena abrasi.


 

Bacaan Lainnya

“Memang sebagian lumpur di sisihkan ke pinggir kali, guna melindungi dinding talud kali dari abrasi,” ujar Teguh.


 

Lanjut Kabid Pengairan menambahkan, Angarannya sangat terbatas dan tidak ada rancangan anggaran untuk proyek ini, proyek ini intruksi dari Pj. Bupati atas keluhan masyarakat, jadi harus di realisasikan.


 

“Karena dengan anggaran terbatas, pengerukan tidak bisa maksimal sampai normal, jadi hanya beberapa kubik saja yang dapat diangkut kedarat, karena pembayaran dihitung dari kubikasi lumpur yang di angkut dan sudah mencapai batas kubikasi yang telah anggarkan, ” pungkasnya.


 

Pengerjaan proyek pengerukan muara Kali Wiso yang terkesan asal-asalan sangat disayangkan oleh masyarakat, khususnya para nelayan yang menjadi korban dan yang terdampak secara langsung, karena akses mereka melaut untuk mencari nafkah jadi tersendat.


 

Nelayan berharap, pemerintah kabupaten Jepara dan pihak-pihak terkait dapat mengkaji ulang proyek normalisasi yang benar-benar membuat aktivitas nelayan menjadi normal.***

Sumber: RPN.

Pos terkait