Pesona yang Tersembunyi: Desa Tempur di Jepara Diserbu Turis Asing, Alam & Kuliner Jadi Magnet

Foto, Keindahan alam yang natural di desa Tempur Jepara

Global7.id – Jepara, 

Desa Tempur di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, kini menjadi destinasi favorit wisatawan, termasuk dari Jerman. Terletak di lereng Pegunungan Muria, desa ini menyuguhkan panorama alam, kuliner khas, sejarah, dan pengalaman wisata otentik yang membuat pengunjung enggan pulang.

 

Alam, Camping & Trekking: Magnet Wisata Tersembunyi

Menurut Sekretaris Desa Tempur, Mahfud Aly, Minggu 7 Desember 2025, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat setiap tahun. Bahkan, hampir setiap akhir pekan, wisatawan memadati Kampoeng Kopi Tempur untuk berkemah.

 

“Alhamdulillah peminatnya semakin banyak. Setiap minggunya pasti ada yang camping di sini,” ujar Mahfud.

 

Kampoeng Kopi Tempur menyediakan fasilitas penyewaan tenda dengan tiga paket:

 

  • Paket standar pertama: Rp 100.000
  • Paket standar kedua: Rp 200.000
  • Paket lengkap: Rp 250.000 (termasuk tenda, tikar, bantal, selimut, dan sarapan khusus akhir pekan)

Selain area camping, pengelola juga menyediakan gazebo, pendopo pertemuan, dan tiga kamar mandi. Lokasi ini kerap dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah maupun komunitas.

 

Desa Tempur memiliki jalur trekking yang menantang menuju Candi Angin hingga puncak Gunung 29, menjadi daya tarik utama bagi para pecinta alam dan pendaki.

 

Kuliner Desa & Agrowisata Kopi

Bacaan Lainnya

Selain alam dan trekking, Desa Tempur menawarkan kuliner khas desa yang unik. Mahfud menjelaskan, menu andalan pengunjung antara lain: umbut atau sayur rotan muda, serta sayur pakis. Banyak wisatawan yang jatuh hati pada cita rasa lokal ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata.

 

Agrowisata kopi juga menjadi magnet. Turis dapat langsung belajar proses pengolahan Kopi Tempur, mulai dari memetik biji hingga menyeduh. Aktivitas ini memberi pengalaman autentik yang memikat wisatawan mancanegara.

 

Jejak Sejarah & Festival Budaya

Desa Tempur juga kaya sejarah. Di beberapa lokasi terdapat punden yang menyimpan batu yoni dan patung Ganesha peninggalan era Majapahit. Desa ini juga dikenal sebagai Kampung Toleransi, karena masjid dan gereja berdiri berhadapan hanya sekitar enam meter.

 

Beragam festival rutin digelar, termasuk Sedekah Bumi, Panen Raya Kopi, Festival Kupatan, hingga Sedekah Kopi. Hal ini menambah daya tarik desa bagi wisatawan yang ingin merasakan budaya lokal secara langsung.

 

Wisatawan dari Dalam & Luar Negeri

Tidak hanya wisatawan dari Jepara atau Karesidenan Pati, pengunjung Desa Tempur datang dari Jakarta, Batam, bahkan luar Jawa. Wisatawan asing, khususnya dari Jerman, tercatat beberapa kali berkunjung. Mahfud Aly menjelaskan, wisatawan biasanya datang melalui paket wisata Karimunjawa, lalu diarahkan ke pegunungan, yakni Desa Tempur, untuk merasakan sensasi berbeda.

 

Salah satu pengunjung asal Pati, Agung, mengatakan:

“Wisatanya indah, cuacanya sejuk. Enak banget buat liburan keluarga. Air sungainya juga jernih, rencananya nanti mau mandi di sungai bareng teman-teman.”

 

Tantangan & Peluang Desa Tempur

Meskipun pesonanya besar, pengembangan wisata di Desa Tempur memerlukan perhatian khusus:

  • Infrastruktur: akses jalan, transportasi, dan fasilitas umum agar nyaman bagi wisatawan.
  • Pelestarian alam & budaya: agar tidak rusak akibat tekanan pariwisata.
  • Pelibatan masyarakat: melalui model community-based tourism, agar manfaat ekonomi merata.
  • Diversifikasi atraksi: menggabungkan alam, kuliner, budaya, dan sejarah.

Dengan manajemen yang tepat, Desa Tempur berpotensi menjadi destinasi wisata global berkelanjutan, memadukan keindahan alam, budaya, dan ekonomi kreatif  desa.

 

G7/TEAM

Pos terkait