Global7.id – Jepara,
Pengukir Kayu Tertua di Jepara, Akan Mengukir Kayu Hingga Akhir Hayatnya
Salah satu perempuan di kabupaten Jepara yang tangguh dan setia menjaga warisan budaya leluhurnya ini mengaku akan mengukir hingga akhir hayatnya. Sebab bagi ibu 3 anak yang telah memiliki delapan cucu dan satu buyut ini, mengukir yang telah dijalani mulai kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah, adalah panggilan jiwanya dari seorang nenek yang bernama Siti Munawaroh (62). Rabu, (24/7/2024).
Meskipun ia menolak menyebutkan jumlah penghasilnya setiap hari, Buyut Siti Munawaroh mengaku sangat terbantu dengan upah yang didapatkannya. Kini mengukir bukan saja menjadi sandaran hidupnya, tetapi juga untuk melupakan kesedihan setelah suami yang sangat dicintainya dipanggil Allah SWT secara mendadak empat bulan yang lalu.
Siti Munawaroh dan suaminya, Ashadi seorang tukang kayu yang tinggal di RT18/RW04 Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara ini memang dikenal sebagai pasangan suami istri yang rukun.
“Kemanapun mereka selalu bersama,” ujar Maslim seorang tokoh masyarakat setempat, Selasa (23/7/2024).
Dari pernikahannya mereka dikaruniai tiga orang anak, semuanya perempuan yaitu Nur Faizah, Narsaim dan Titik Muyanfau. Ketiganya juga bisa mengukir, walaupun kini telah meninggalkan pahat dan palunya.
Semula nenek Siti Munawaroh belajar mengukir dari tetangganya yang bernama Pak Khamdi dari Desa Ngrau, kecamatan Tahunan yang hingga saat ini sudah bisa mengukir kaya dengan pahatan dari kedua tangannya.
“Saya belajar mengukir sejak kelas 5 MI. Setelah pulang sekolah saya belajar mengukir dan setelah bisa dan lulus sekolah, kemudian Saya bekerja sebagai tukang ukir, ” ujarnya Siti pada Selasa, (23/7).
Kemudian, setelah ia menikah lalu mengikuti suaminya yang bekerja sebagai tukang kayu dan tinggal di Desa Petekeyan. Pekerjaan sebagai buruh mengukir dijalani kembali disela-sela kesibukannya menjadi seorang ibu yang harus merawat ketiga putrinya. Dari upah mengukir ia mengaku dapat membantu suaminya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Kini di usia yang tergolong tua, Siti Munawaroh tak ingin berhenti mengukir. Siti ingin terus berkarya hingga takdir menjemputnya kelak. Apalagi kini mengukir adalah tempat satu-satunya Siti menyandarkan hidupnya dan juga untuk menjaga kesehatan batin dan raganya.***
Sumber: SB.










