Global7.id – Jepara,
Membangun Jepara agar lebih berkembang menjadi kabupaten maju seperti halnya kabupaten lain bisa dengan berbagai cara, di semarak hari jadi Jepara yang ke 472 tahun “Jepara Bergerak, Rakyat Sehat, Ekonomi Bangkit” dengan menyelenggarakan kegiatan “Pagelaran Wayang Klitik asli Jepara” live streaming di channel YouTube DK Management dan live streaming di akun Facebook R-Lisa FM Jepara mulai jam 20:00 – 21:00 WIB, Kamis (08/04/2021).

Kegiatan yang masih di pandemi berjudul PENDAR HARMONI (Pentas Daring Harapan Motivasi dan Seni) yang dihadiri oleh Bupati Jepara H. Dian Kristiandi S. sos, kepala Disparbud Jepara Zamroni Lestiaza AP. M.Si dan bidang seni budaya Disparbud Hadi Prayitno, Ketua Peradi kabupaten Jepara Hendroyono S. sos, Dalang Jepara Ki Hadi Purwanto, Waranggono Bu Sukesi, Provinsi Seni Erwan Suparlan, di dukung juga oleh Dandim 0719 Jepara Tri Yudhi Herlambang dan Kejari Jepara Ayu Agung.

Menurut Ki Hadi Purwanto dalang kondang asal Jepara menjelaskan “Wayang klithik adalah wayang yang terbuat dari kayu. Berbeda dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang klitik berbentuk pipih seperti wayang kulit. Munculnya wayang menak yang terbuat dari kayu, membuat Sunan Pakubuwana II kemudian menciptakan wayang klithik yang terbuat dari kayu yang pipih (dua dimensi). Tangan wayang ini dibuat dari kulit yang ditatah. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang klithik memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Apabila pentas menimbulkan bunyi “klithik, klithik” yang diyakini sebagai asal mula istilah penyebutan wayang klithik”, ujar Ki Hadi Purwanto.

Di Jawa Tengah wayang klithik memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja.

Repertoar cerita wayang klitik juga berbeda dengan wayang kulit. Di mana repertoar cerita wayang kulit diambil dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, repertoar cerita wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan.

Cerita yang dipakai dalam wayang klithik umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari Babad Tanah Jawi sekalipun.

Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini itu sederhana saja, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Adakalanya wayang klithik menggunakan gending-gending besar”, pungkas Hendroyono.

“Dalam pertunjukannya, Wayang Klitik diiringi seperangkat gamelan berlaras slendro yang berjumlah lima macam, yakni kendang, saron, ketuk, kenong, kempul (barang) dan gong suwukan. Jumlah lagu/gending yang dipergunakan untuk mengiringi tidak banyak dan kurang variasinya sehingga sangat senada”, kata Hendroyono ketua Peradi Jepara.

Gamelannya boleh dikatakan sama dengan irama jatilan atau kuda lumping. Apalagi bila terjadi adegan perang, sangat monoton dengan iringan gending srepegan.
Pada setiap adegan yang dinamakan jejeran, Ki dalang mengiringinya dengan tembang macapat seperti Dandanggula, Sinom, pangkur, Asmaradana dsb. Tembang ini berperan sebagai suluk dalam wayang kulit dengan penambahan candra wayang untuk setiap tokoh-tokoh wayang yang sedang dilakonkannya.
Tak hanya itu, komentar Bupati Jepara Dian Kristiandi “Di Jepara itu punya banyak seniman, ada seniman ukir, seniman gambar, seniman wayang, seniman musik dan banyak lainnya, nah dulu kan terkenal wayang kulit dan wayang klitik yang satu ini perlu dikembangkan khusus para generasi muda dan saya berharap generasi muda bisa mengenal dan suka wayang klitik jadi ya bisa di padukan antara wayang kulit dengan wayang klitik pasti akan muncul karya baru dan bisa dimainkan oleh dalang di generasi baru, budaya itu sebuah seni yang patut kita lestarikan karena budaya itu salah satu anugerah yang diberikan oleh nenek moyang kita, jadi ayo mulai sekarang mengenali dan menyukai wayang klitik supaya akan muncul ide kreatif yang bisa menghasilkan produk baru untuk dipasarkan dan dikembangkan”, tutur Bupati Jepara.

Komentar dari para warga juga berharap pada tempat pariwisata Jepara “itu ya soal kemasannya, perlu lebih diperbaiki. Karena sejatinya, kabupaten ini memiliki begitu banyak potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lain”, ucap warga.
Di samping itu, mereka juga menyoroti keadaan infrastruktur di Jepara. Dikatakannya, pembangunan di kabupeten tersebut yang masih perlu ditingkatkan. Seperti pembangunan jalan ke tempat-tempat pariwisata. Dan juga mereka mengungkapkan agar pemerintah memperhatikan generasi penerus. Menurutnya, saat ini banyak di antara muda-mudi yang cenderung menyia-nyiakan waktu.
“Selamat ulang tahun Jepara, Semoga Jepara tambah maju. Generasi muda lebih berkembang. Jangan melakukan kegiatan negatif, seperti nongkrong, naik motor tak pakai helm. Lebih baik melakukan kegiatan positif atau berorganisasi,” tutup warga yang mengucapkan selamat ultah Jepara.










