Global7.id – Jepara,
Menjelang musim hujan, warga Desa pancur kecamatan Mayong semakin resah dengan kondisi bekas lahan pertambangan perumahan Garden Hill yang diduga milik AR di desa pancur kecamatan Mayong, yang terlalu dekat dengan perumahan mereka.
Warga juga khawatir, lahan bekas tambang tersebut rawan longsor yang dapat mengancam keselamatan mereka.
Kekhawatiran warga ini bukan tanpa alasan akan tetapi, kondisi bekas lahan pertambangan yang tidak direklamasi dengan baik, menyebabkan tanah menjadi labil dan mudah longsor.
“Kami sangat khawatir, apalagi sekarang sudah mulai masuk musim hujan. Kami takut, bekas tambang itu longsor dan menimpa rumah kami,” ucap AS seorang warga pancur yang rumahnya berada dekat dengan bekas lahan pertambangan saat di temui team infestivigasi Global7.id, kamis(06/11/2025).
Ia mengungkapkan, warga sudah beberapa kali melaporkan masalah ini kepada pihak terkait, namun belum ada tindakan yang nyata.
“Kami sudah lapor, tapi sampai sekarang belum ada tindakan, justru malah saya mendapatkan intimidasi dari beberapa pihak” keluhnya dengan nada lirih.
Tak hanya itu, salah satu tokoh masyarakat desa pancur menolak tempat pembuangan sampah yang berada dekat area pemukiman warga yang berdampak menimbulkan bau yg tak sedap serta banyaknya lalat.
“Saya dan warga sangat terganggu dengan keberadaan sampah yang di buang di dekat pemukiman warga, seharusnya di kelola dan di buang ke TPA, ungkapnya.
Terpisah, warga Desa damarjati yg tidak mau di sebut namanya menambahkan, aktifitas pertambangan yang di lakukan AR menyebabkan kerusakan parah pada lahan pertanian, permukiman warga, dan infrastruktur. Selain kerugian materi, atas pertambangan AR ini juga menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi masyarakat.
warga juga mengeklaim,Aktivitas pertambangan AR yang di lakukan tidak memperhatikan aspek lingkungan dan tata ruang, menyebabkan kerusakan sungai irigasi dan lahan yang parah.
“Kami menduga, akibat aktivitas pertambangan yang serakah. Mereka mengeruk tanah bengkok desa Rajekwesi tanpa memperhatikan dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar warga sekitar.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa perusahaan tambang tersebut juga membangun kolam pemancingan serta danau pecici di titik sumber sungai, sehingga menyebabkan petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka.
“Mereka seenaknya saja membangun kolam juga danau pecici di sumber air kami. Akibatnya, sawah kami kekeringan dan kami tidak bisa bercocok tanam,” tandasnya.
Dampak dari aktivitas keserakahan ini, kurang lebih ada 25 hektar persawahan produktif tidak bisa di tanam padi lagi.
“Sebelum ada pertambangan dan bangunan kolam di titik sumber sungai, satu tahun saya bisa panen dua kali dan mendapatkan hasil dua ton per panennya, ucap warga penggarap lahan persawahan.
Sementara itu, para petani dan masyarakat Desa Damarjati, berharap agar pemerintah dapat segera mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan tambang yang serakah tersebut. Mereka juga berharap agar pemerintah dapat segera memulihkan kondisi lingkungan dan mengembalikan sumber air yang telah di gunakan untuk kepentingan pribadi.
“Kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Kami ingin pemerintah bertindak tegas dan memberikan keadilan bagi kami,” pungkas dengan nada jengkel.
G7/Obeng










