Global7.id – Jepara,
Bisnis industri furnitur Jepara yang selama ini menjadi kebanggaan nasional dan motor penggerak ekonomi lokal tengah menghadapi badai besar. Harga produk furnitur lokal terjun bebas, bukan karena kualitas menurun, melainkan akibat persaingan harga yang tidak sehat di pasar domestik serta tekanan berat dari pasar ekspor.
Persaingan Harga Tak Sehat Mematikan Pasar Lokal
Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Jepara saat ini berada di titik kritis. Banyak pemain baru dan spekulan yang menjual produk dengan harga jauh di bawah standar produksi, memicu perang harga yang menggerus keuntungan pelaku usaha yang sebenarnya menjaga kualitas. Dalam jangka panjang, hal ini bukan hanya mematikan bisnis, tapi juga menurunkan standar kualitas furnitur Jepara yang selama ini dikenal tinggi.
Rosyid: ” Selaku pelaku usaha bisnis mebel mengungkapkan, lima Gudang Langganan, Sekarang Tak Satu pun Order” keluhnya.
Rosyid yang Juga seorang perangkat desa dan juga bergelut di bidang mebel, merasakan langsung dampaknya. Biasanya, lima gudang besar langganannya rutin memesan produk tiap bulan. Namun kini, sudah berbulan-bulan tak satu pun mengajukan order. “Dulu saya kewalahan memenuhi permintaan, sekarang malah bingung pekerja mau dikasih kerja apa,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan permintaan terjadi secara sistemik, bukan hanya di tingkat eksportir, tapi juga di akar produsen kecil.
Pasar Ekspor Terpukul Kenaikan Pajak Amerika
Pukulan berikutnya datang dari luar negeri. Kenaikan bea masuk dari pemerintah Amerika Serikat membuat harga furnitur ekspor asal Indonesia, termasuk dari Jepara, menjadi kurang kompetitif. Akibatnya, banyak pembeli luar negeri mulai beralih ke produk dari negara lain yang menawarkan harga lebih rendah dengan pajak lebih ringan.
Daya Saing Melemah Dibanding Vietnam, Kamboja, dan Thailand
Saat Indonesia bidang furnitur terpukul, negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, dan Thailand justru melaju kencang. Mereka menikmati insentif perdagangan dan efisiensi produksi yang lebih baik, menjadikan furnitur mereka lebih menarik bagi pasar global. Sementara itu, pelaku industri di Jepara harus bergelut dengan tingginya biaya produksi dan bahan baku serta tekanan fiskal yang berat.
Jika situasi ini dibiarkan tanpa intervensi, bukan tidak mungkin kejayaan furnitur Jepara hanya akan tinggal cerita. Pemerintah daerah dan pusat perlu turun tangan, baik dengan menertibkan persaingan harga di pasar lokal, maupun dengan melakukan diplomasi dagang agar produk Indonesia kembali kompetitif di pasar internasional. Tanpa langkah strategis, Jepara bisa kehilangan mahkotanya sebagai kota furnitur dunia, tutup rosyd.***
Sumber: AR/Sty










