Mimpi Jadi Polwan Hancur: Remaja Putri di Jambi Mengaku Diperkosa Dua Oknum Polisi, Kini Depresi dan Trauma Berat

Foto, Ilustrasi korban trauma usai peristiwa yang melibatkan oknum polisi

Global7.id – Jambi, 

Polwan menjadi impian besar bagi CA (18), seorang remaja putri asal Jambi. Namun, mimpi itu hancur seketika setelah ia mengalami peristiwa traumatis yang melibatkan dua oknum polisi. Kejadian tersebut membuat CA mengalami depresi berat hingga mengurungkan niatnya untuk mendaftar kepolisian pada 2026.

CA sebelumnya memiliki tekad kuat untuk mengikuti seleksi masuk kepolisian tahun 2026. Ia bercita-cita menjadi polisi wanita (Polwan), sebuah profesi yang menurutnya identik dengan keberanian, pengabdian, dan perlindungan terhadap masyarakat. Namun semua itu sirna setelah peristiwa kelam yang terjadi pada November 2025 lalu.

 

Tangis yang Tak Pernah Benar-Benar Berhenti

Saat ditemui di rumahnya pada Jumat (30/1/2026) pagi, suasana terasa sunyi. CA lebih banyak berada di dalam kamar, menutup diri dari dunia luar. Ketika akhirnya bersedia berbicara, air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Suaranya bergetar, seolah setiap kata yang keluar adalah luka yang kembali terbuka.

 

Ia mengaku mengalami kekerasan seksual oleh empat orang, dua di antaranya merupakan oknum polisi aktif. Ironisnya, orang-orang yang seharusnya memberi rasa aman justru menjadi pelaku yang menghancurkan hidupnya.

 

“Saya diperlakukan tidak manusiawi. Saya berharap ditolong, tapi justru orang itu ikut menyakiti saya,” tutur CA dengan suara lirih.

 

Sejak kejadian itu, rasa takut dan trauma terus menghantui. Malam-malam panjang dipenuhi kecemasan, mimpi buruk, dan ketakutan berlebihan. Bahkan suara kendaraan atau langkah kaki di luar rumah kerap membuatnya panik.

 

Depresi dan Rasa Benci yang Tumbuh

Dampak psikologis yang dialami CA tidak bisa dianggap remeh. Ia kini mengalami depresi berat dan enggan melakukan aktivitas sosial. Keinginannya untuk menjadi Polwan sepenuhnya menghilang. Baginya, institusi yang dulu ia kagumi kini justru menjadi simbol luka dan kekecewaan.

Bacaan Lainnya

 

“Saya tidak sanggup lagi membayangkan berada di lingkungan itu. Saya sangat benci,” ucapnya.

 

Bahkan untuk sekadar keluar kamar saja, CA membutuhkan keberanian besar. Ia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, menutup pintu, dan menghindari interaksi dengan siapa pun selain keluarga terdekat.

 

Empat Pelaku, Latar Belakang Berbeda

Dalam pengakuannya, CA menyebutkan bahwa selain dua oknum polisi, terdapat dua warga sipil yang ikut terlibat. Kedua warga sipil tersebut diketahui akan mengikuti tes kepolisian tahun 2026.

 

Satu di antaranya disebut-sebut merupakan anak dari pendeta terkemuka di Jambi, sebuah fakta yang semakin menambah tekanan psikologis bagi korban. Nama besar dan status sosial para pelaku disebut membuat CA dan keluarganya sempat merasa takut untuk bersuara.

 

Namun, keluarga akhirnya memilih melawan rasa takut itu demi keadilan.

 

Sempat Terpikir Mengakhiri Hidup

Trauma yang dialami CA sempat membawanya ke titik paling gelap. Ia mengaku pernah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup, karena merasa masa depannya telah hancur dan tidak ada lagi harapan.

 

Beruntung, keluarga menyadari perubahan drastis pada diri CA. Mereka segera memberikan pendampingan dan memastikan korban tidak sendirian menghadapi kondisi mentalnya.

 

“Kami tidak ingin kehilangan anak kami. Apa yang dia alami sudah terlalu berat,” ujar salah satu anggota keluarga dengan mata berkaca-kaca.

 

Menempuh Hukum Demi Jalur Keadilan

Saat ini, keluarga CA tengah menempuh jalur hukum dan berharap proses berjalan secara adil, transparan, serta tanpa intervensi. Mereka menuntut agar seluruh pelaku diproses sesuai hukum, tanpa memandang jabatan maupun latar belakang sosial.

 

Kasus ini pun memicu sorotan publik. Banyak pihak menilai peristiwa ini bukan sekadar tindak kejahatan individual, melainkan juga ujian serius bagi penegakan hukum dan integritas institusi.

 

Masyarakat berharap aparat penegak hukum tidak menutup mata, apalagi jika pelaku berasal dari internal. Kepercayaan publik dipertaruhkan dalam penanganan kasus ini.

 

Luka yang Tak Mudah Sembuh

Bagi CA, keadilan bukan hanya soal hukuman. Ia ingin ada pengakuan bahwa apa yang dialaminya adalah kejahatan berat yang meninggalkan dampak panjang. Ia berharap tidak ada lagi perempuan lain yang mengalami nasib serupa.

 

“Saya tidak ingin ada korban berikutnya. Jangan sampai mimpi anak-anak lain juga dihancurkan seperti saya,” ucapnya.

 

Kini, hari-hari CA masih diisi dengan proses pemulihan yang panjang. Luka batin itu mungkin tak akan pernah sepenuhnya hilang, tetapi harapan akan keadilan menjadi satu-satunya pegangan untuk bangkit perlahan.

 

G7/GLN

Pos terkait