Global7.id Jepara – (13/10) Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Jepara, semangat untuk memperbaiki diri terus tumbuh melalui pembinaan spiritual dan penghormatan terhadap perbedaan. Komitmen ini diwujudkan melalui kegiatan pengajian bagi warga binaan beragama Islam dan kebaktian bagi warga binaan beragama Kristen. Keduanya menjadi bentuk nyata pemenuhan hak keagamaan sekaligus upaya merawat toleransi di lingkungan pemasyarakatan.
Bagi warga binaan, kegiatan keagamaan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk menenangkan hati, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui pengajian, warga binaan beragama Islam memperdalam pemahaman agama dan nilai-nilai kebaikan, sedangkan kebaktian memberikan kesempatan bagi warga binaan beragama Kristen untuk memperkuat iman melalui doa dan perenungan rohani.
Kepala Rutan Kelas IIB Jepara, Renza Maisetyo, menegaskan bahwa setiap warga binaan memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. “Kami berkomitmen memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh warga binaan untuk menjalankan ibadah dan memperoleh pembinaan spiritual. Perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan menjaga kerukunan,” tegasnya.
Pelaksanaan pengajian dan kebaktian menjadi bukti bahwa toleransi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Dengan memberikan ruang bagi setiap warga binaan untuk beribadah, Rutan Jepara berupaya menciptakan lingkungan yang harmonis, menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan, Rutan Kelas IIB Jepara berharap warga binaan tidak hanya semakin kuat dalam keimanan, tetapi juga memiliki bekal moral untuk kembali ke tengah masyarakat. Merawat iman adalah bagian dari perjalanan memperbaiki diri, sedangkan menjaga kerukunan merupakan wujud penghormatan terhadap sesama. Keduanya menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembinaan pemasyarakatan yang humanis, inklusif, dan bermartabat.
G7









