Global7.id – Solo,
Keluhan warga soal menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Solo akhirnya mendapat perhatian serius dari Wali Kota Solo, Respati Ardi. Ia mengaku prihatin setelah muncul laporan bahwa sejumlah menu yang dibagikan kepada penerima manfaat dinilai tidak layak.
Sorotan publik mengarah pada menu MBG yang didistribusikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mojosongo. Menu berupa ikan fillet tepung, french fries, dan jambu kristal dikeluhkan warga karena dianggap tidak sesuai harapan untuk program pemenuhan gizi.
“Tentunya saya prihatin dengan apa yang terjadi. Kami di Solo akan segera mengkonsolidasikan dengan Dinas Perdagangan. Saya sudah mengetahui ini kenapa menu menjadi seperti ini, salah satunya supply,” kata Respati Ardi di Solo, Sabtu, 14 Maret 2026.
Respati menegaskan bahwa pengelolaan dapur MBG di Solo harus benar-benar memperhatikan kualitas makanan sekaligus kandungan gizi yang diberikan kepada masyarakat. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut bekerja dengan tanggung jawab dan tidak mengabaikan aspek kelayakan menu.
“Saya mengimbau mari kita jaga. Tolong yang terlibat di dalamnya ingat hati nurani kita,” tegasnya.
Menurut Respati, Pemerintah Kota Solo akan menampung dan memperjuangkan seluruh keluhan warga terkait pelaksanaan program MBG, terutama bila ditemukan menu yang tidak sesuai standar atau dianggap tidak layak dikonsumsi.
“Tentunya keluhan warga akan kita perjuangkan. Saya akan terus memperjuangkan keluhan warga dari SPPG-SPPG yang tidak sesuai,” ujarnya.
Terkait kemungkinan adanya dapur SPPG yang dihentikan sementara operasionalnya, Respati menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan berada di tangan pemerintah kota. Ia menegaskan kewenangan penghentian sementara atau suspend ada pada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Saya cek ke BGN ya karena kewenangan suspend ada di BGN. Bukan kami di Pemkot,” katanya.
Baca Juga: BGN Ultimatum Dapur MBG: Wajib 15 Supplier Lokal, Jika Monopoli Langsung Disuspend
Saat ini, jumlah dapur SPPG yang beroperasi di Kota Solo disebut telah mencapai 60 dapur yang tersebar di lima kecamatan. Karena itu, pengawasan terhadap kualitas menu dinilai menjadi hal penting agar tujuan utama program MBG benar-benar tercapai.
Kasus ini menambah daftar sorotan publik terhadap pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah laporan mengenai menu MBG yang dinilai bermasalah juga muncul dari wilayah lain, sehingga evaluasi menyeluruh dinilai semakin mendesak.
Pernyataan Respati Ardi menjadi sinyal bahwa keluhan warga tidak bisa dianggap sepele. Program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah, justru berisiko kehilangan kepercayaan publik bila pelaksanaannya tidak diawasi ketat.
Dengan banyaknya dapur MBG yang kini beroperasi, warga berharap pengelola SPPG tidak hanya mengejar distribusi cepat, tetapi juga memastikan makanan yang disajikan benar-benar layak, aman, dan sesuai standar gizi.
G7/KMP










