Global7.id – Kubu Raya,
Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat dan kali ini datang dari Kalimantan Barat. Ratusan siswa bersama puluhan guru di SMA Negeri 1 Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, kompak mengembalikan paket makanan MBG yang dibagikan pemerintah pada Selasa (24/2/2026).
Total sebanyak 743 siswa dan 50 guru memilih tidak menerima makanan tersebut karena dinilai tidak memenuhi standar gizi serta dianggap tidak sebanding dengan anggaran program nasional yang sedang berjalan.
Keputusan penolakan itu langsung menjadi perbincangan luas di masyarakat dan media sosial, bahkan memicu pertanyaan besar soal kualitas pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Menu Dua Hari Dinilai Tidak Layak
Salah satu guru di sekolah tersebut, Vivi Awalia, menjelaskan bahwa keputusan penolakan bukan dilakukan secara sepihak, melainkan hasil kesepakatan antara siswa dan tenaga pendidik.
Menu yang diterima untuk jatah dua hari disebut hanya terdiri dari:
- Setengah tongkol jagung
- Lima butir kurma
- Tiga buah kelengkeng
- Satu buah jeruk
- Satu kue pisang cokelat (piscok)
- Satu bolu kukus
Menurut pihak sekolah, komposisi tersebut dianggap tidak mencerminkan konsep makan bergizi seimbang sebagaimana tujuan utama program MBG.
“Bukan hanya guru yang menolak, siswa juga menilai menu itu tidak sesuai, baik dari sisi gizi maupun anggaran,” ujar Vivi.
Penolakan dilakukan dengan cara mengembalikan paket makanan secara kolektif kepada pihak distribusi.
Bukan Menolak Program Pemerintah
Pihak sekolah menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintah, melainkan kritik konstruktif agar program MBG dapat diperbaiki.
Guru dan siswa berharap evaluasi serius dilakukan, terutama terkait kualitas menu dan transparansi pengelolaan anggaran di lapangan.
“Ini masukan supaya ke depan programnya benar-benar lebih baik,” tambahnya.
Sikap tersebut justru dinilai sebagian masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan program nasional agar tepat sasaran.
Penjelasan Pengelola MBG: Menu Ramadan Berbeda
Sementara itu, Kepala Program MBG Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menjelaskan bahwa menu yang dibagikan memang berbeda karena menyesuaikan pelaksanaan selama bulan Ramadan.
Menurutnya, sesuai standar operasional prosedur (SOP), makanan yang dibagikan kepada siswa berpuasa berupa menu kering agar tidak cepat basi saat dibawa pulang.
Menu Ramadan umumnya meliputi:
- Telur
- Buah
- Roti
- Kurma
- Makanan lokal tahan simpan
Distribusi dilakukan pada pagi hari dan makanan dikonsumsi saat berbuka puasa di rumah masing-masing.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa prinsip utama MBG tetap mengacu pada gizi seimbang dan keamanan pangan, termasuk pengecekan izin produksi serta masa kedaluwarsa makanan.
Gelombang Kritik MBG Meluas
Kasus di Kubu Raya menambah daftar panjang sorotan terhadap pelaksanaan MBG di sejumlah daerah. Sebelumnya, berbagai laporan juga muncul terkait:
Menu dianggap tidak sesuai pagu anggaran
Kualitas makanan dipertanyakan
Transparansi distribusi menjadi isu publik
Fenomena penolakan massal ini menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin kritis terhadap penggunaan anggaran program publik, terutama yang menyasar siswa sekolah.
Pengamat kebijakan publik menilai evaluasi nasional diperlukan agar tujuan utama MBG meningkatkan gizi anak Indonesia tidak berubah menjadi polemik di daerah.
Evaluasi Jadi Kunci Kepercayaan Publik
Program MBG sendiri merupakan salah satu program strategis pemerintah yang menyedot perhatian besar karena menggunakan anggaran negara dalam skala luas.
Karena itu, kualitas menu, pengawasan distribusi, serta keterbukaan informasi dinilai menjadi faktor utama menjaga kepercayaan masyarakat.
Jika tidak segera dibenahi, kasus penolakan seperti di Kubu Raya dikhawatirkan dapat terus berulang di daerah lain.
Kini publik menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan bahwa program makan bergizi benar-benar menghadirkan gizi, bukan sekadar formalitas distribusi.
G7/KMP










