Global7.id – Sejarah Islam Jepara,
Mengenal sosok KH Ahmad Fauzan dan sejarah Islam di Jepara. Ia lahir di Dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Jepara, pada 1905 yang merupakan putra keempat dari lima orang bersaudara.
Ayahnya adalah Haji Abdurrasul. Adapun ibunya bernama Nyai Thohiroh, yakni cucu Syekh Muhammad Arif Sendangsari, seorang ulama yang hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro.
Secara nasab, dia masih keturunan elite Kasunanan Surakarta. Kakeknya, Haji Ahmad Sanwasi, pernah mengabdi pada keraton sebelum ikut dalam Perang Diponegoro (1825-1830).
Haji Ahmad pun bersahabat dengan Kiai Umar al-Samarani, yang adalah ayahanda ulama besar Semarang, KH Sholeh Darat.
Sejak muda, Ahmad Fauzan telah menjadi anak yatim. Pantang menyerah, ia terus semangat menuntut ilmu-ilmu agama, belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
Pada 1924, Ahmad Fauzan pergi haji. Kesempatan itu juga dimanfaatkannya untuk meneruskan rihlah keilmuan. Di Haramain, dirinya menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk berguru kepada banyak ulama besar.
Setelah itu, pria berusia 21 tahun tersebut kembali ke Tanah Air. Ia langsung nyantri di sebuah pesantren yang diasuh KH Sholeh Amin Tayu Pati empat tahun lamanya, 1928-1932.
Kembali ke Jepara, KH Ahmad Fauzan mendirikan sebuah madrasah di daerah Bangsri pada awal 1930-an. Saat ini, institusi tersebut sudah menjadi MTS/ MA Hasyim Asy’ari. Melalui madrasah itulah, sang kiai terus memperkuat peran dan kiprahnya sebagai seorang ulama.
Setelah mendirikan madrasah, Kiai Fauzan terus mengembangkan langkah dakwahnya di daerah tersebut. Dalam periode selanjutnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbagai kegiatan menyebarkan ilmu-ilmu agama, dari satu desa ke desa yang lain.
Melawan penjajah
Nama KH Ahmad Fauzan semakin banyak diperbincangkan ketika balatentara Jepang tiba di Jepara pada 1942. Sebagai ulama, ia pun menjadi target pengawasan pemerintah pendudukan Nippon. Bahkan, sang kiai sempat ditangkap oleh polisi militer Jepang (Kenpeitai) dan dimasukkan ke dalam penjara. Dirinya dituduh sebagai seorang provokator, tetapi tuduhan tidak terbukti sehingga ia dibebaskan.
Pada tahun 1945, suatu peristiwa yang menggemparkan kemudian terjadi di wilayah Pati. Rakyat mendengar desas-desus bahwa Jepang telah kalah perang. Para tokoh berkumpul dan bermusyawarah agar tentara Jepang di daerah ini segera menyerah.
Di dalam musyawarah tersebut, secara aklamasi para ulama menyepakati Kiai Fauzan untuk memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Masyarakat setempat pun bahu membahu. Begitu pula kaum alim yang menggerakkan para santri untuk turut berjuang di garda terdepan. Akhirnya, pasukan Jepang yang masih bertahan di Jepara menyerah.
Kiai Fauzan juga dikenal sangat aktif bergerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Berbagai perlawanan dilakukan untuk mengadang Belanda yang bergerak ke banyak daerah, termasuk Jepara.
Sebagai ulama pejuang, Kiai Fauzan pun menjadi incaran tentara Belanda. Bahkan, pihak musuh sampai mengadakan sayembara ke tengah masyarakat untuk berupaya menangkap ulama ini. NICA akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang dapat memberitahukan keberadaannya.
Akhirnya, menjelang kekalahan Belanda, Kiai Fauzan tertangkap di Bangsri. Dirinya sempat ditahan oleh NICA dalam penjara di Jepara. Namun, setelah terjadi pengakuan kedaulatan RI pada 1949, ulama Jepara ini termasuk dalam daftar mereka yang dibebaskan dari tahanan.
Kiai Fauzan tertangkap di Bangsri. Dirinya sempat ditahan oleh NICA dalam penjara di Jepara.
Setelah Indonesia diakui kemerdekaannya, Kiai Fauzan kemudian aktif berjuang melalui gerakan-gerakan sosial-keagamaan, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Selain jam’iyah tersebut, dirinya pernah aktif pula di Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Mulai tahun 1950, ia diberi amanah untuk mengepalai Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara. Setelah NU menjadi sebuah partai politik pada 1952, ia dipercaya sebagai pimpinan tertinggi (rais suriyah) Partai NU Cabang Jepara.
Kemenangan mutlak Partai NU di Jepara dalam Pemilu 1955 tidak terlepas dari peran Kiai Fauzan sebagai pimpinan lokal yang berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak, baik kawan maupun lawan.
Namun, dalam periode selanjutnya, ia tidak lagi aktif dalam kegiatan politik praktis. Lebih berfokus membina umat di Jepara melalui Kemenag Kabupaten Jepara.
Kegiatan dakwah masih terus dilakukannya meski tidak lagi memiliki jabatan, baik di ranah politik maupun pemerintahan. Metode dakwahnya yang khas, yakni berkelana dan menggunakan syair-syair keagamaan, masih terus dilakukan hingga era 1960-an.
Di sepanjang hayatnya, tokoh Nahdliyin ini telah menyusun 11 kitab. Ada beberapa syair karyanya yang terdokumentasikan dengan baik. Misalnya, Syair Asmaul Husna, Isra Mikraj, Pribadi Nabi Muhammad SAW, dan Pitutur.
Di antara gubahannya itu, ada yang ditulis dengan bahasa daerah ataupun bahasa Arab, semisal Alfiyah al-Ghazaliyah. Syair tersebut berisi butir-butir nasihat yang disarikan dari karya monumental Imam Ghazali, Ihya Ulum ad-Din. Syair-syairnya memuat pesan tentang akidah, syariat, tasawuf, dan kebangsaan.
KH Ahmad Fauzan wafat pada 6 Rabiul Akhir 1933 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Permakaman Suromoyo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.***
Sumber: Republika dan Ansor.










