Global7.id – Edukasi Sosial,
“Mremo” merupakan istilah yang mengartikan pedagang musiman dan identik dengan kenaikan harga jual barang pada momentum tertentu dibandingkan dengan hari-hari biasa, seperti hari-hari besar (event).
“Setiap menghadapi lebaran, saya sering melihat adanya praktek Mremo dari beberapa pengusaha atau pedagang kuliner. Apakah budaya ini perlu dipelihara? Apakah tidak sayang dengan reputasi usaha yang telah dirintisnya beberapa lama?, ” Ujar warga Jepara yang tidak mau disebutkan namanya.
Tapi memang prakteknya demikian. Apakah karena selama ini usahanya hanya ramai saat menjelang dan lebaran saja atau pada acara (event) tertentu?
Ia menambahkan, “Pada saat menjelang lebaran 2024 kemarin, saya mendapati beberapa pelaku “Mremo” di pasar. Biasanya saya belanja produk makanan ataupun pakaian serupa dengan harga tidak lebih dari Rp 50 ribu, tetapi saat saya akan bayar, si pemilik usaha menyatakan bahwa lebaran ini harganya naik menjadi hampir Rp 100 ribu. Wow..Apakah hal ini akan menolong nasib usaha dalam jangka panjang?, ” Imbuhnya.
Menurutnya, yang akan terjadi adalah konsumen akan kecewa dengan tindakan jangka pendek dari pelaku usaha yang Mremo ini. Otomatis daya beli masyarakat menurun. Demikian halnya dengan konsumen yang kaget, (dalam hatinya) “Saya tidak akan beli ke situ lagi”. Kapok.
Memang benar, selain itu budaya Mremo ini banyak dilakukan juga oleh para pedagang UMKM atau pengusaha menengah saja pada acara atau event di lapangan bahkan di tempat wisata. Karena, mereka telah memiliki tujuan untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin. Namun, mereka tak menyadari bahwa imbasnya ke pedagang UMKM lainnya yang tidak Mremo.
Iya melanjutkan, “Saya merasa prihatin atas pola pikir dan sikap mental dari para pemilik usaha yang masih melakukan Mremo. Mereka hanya melihat bisnis dalam rentang waktu sesaat, bukan sebagai usaha yang akan terus berkembang dalam jangka panjang, ” jelasnya.
Disisi lain, memberikan pengalaman “kecewa” kepada pelanggan dalam sisi harga merupakan sebuah tindakan yang sangat merugikan para pelanggan. Cerita kecewa ini pasti akan menjadi bumerang bagi pemilik usaha, karena akan memicu “imbauan” negatif untuk tidak membeli sesuatu di bulan lebaran atau event tertentu.
Belum lagi efek dari sosial media yang demikian dahsyatnya, sekali mereka memberikan pengalaman kecewa dan pengalaman tersebut dibagikan kepada publik di sosial media maka bisa dibayangkan berapa banyak orang akan tahu tindakan dari pedagang UMKM (event) yang Mremo tersebut kepada pelanggannya.
Sebuah investasi usaha yang akan menjadi sia-sia hanya karena Mremo yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan sesaat.
“Ingat, pembeli itu menghafal dan mengingat wajah penjual atau pedagang yang Mremo, ” pungkas kesalnya.***
Sumber: G7.










