Global7.id – Jepara,
Dialog santai bertajuk “Gendhu-Gendhu Rasa” tentang Layanan Sosial dan Kesehatan di Jepara sukses digelar di kopi Andany Pengkol, Jepara. Acara yang digagas oleh Komunitas Relawan Jepara (KRJ) ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara relawan, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan layanan sosial dan kesehatan di Kabupaten Jepara.
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Bu Dian dari Polsek, dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan relawan, Abdul Rosyid. Dalam sambutannya, Rosyid menyampaikan terima kasih atas inisiatif Alba Muhammad Muqid dari KRJ yang telah menginisiasi pertemuan tersebut.
“Penanganan sosial di Jepara telah terbentuk secara menyeluruh dari ujung utara hingga selatan. Namun untuk layanan kesehatan, kami sangat berharap ada peningkatan kualitas SDM dan komunikasi. Banyak kasus pelayanan yang menjadi perhatian publik, dan kami ingin mutu layanan serta koordinasi antara relawan dan tenaga kesehatan diperkuat,” ungkap Rosyid.
Sesi diskusi “Gendhu-Gendhu Rasa” dipandu oleh Host, Ririn dengan menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu:
1. Andang Wahyu Triyanto, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah.
2. Nur Hidayat, Anggota DPRD Kabupaten Jepara.
3. Suhadi, Sekretaris Dinas Kesehatan.
4. Bowo, Perwakilan BPBD.
5. Iman, Kasi Dinas Sosial Jepara.
Dalam forum tersebut, Nur Hidayat menyoroti peran relawan yang kerap berada di garis depan, namun sering tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
“Kami sering gregeten karena hanya bisa memberi masukan tanpa realisasi. Pelayanan kesehatan adalah hak warga. Sayangnya, BPJS belum mampu mencakup semua kebutuhan. Saat ini, kami juga menggandeng Baznas untuk menjawab keluhan-keluhan warga,” tegasnya.
Alba, Ketua KRJ, turut menambahkan bahwa masih banyak kendala di lapangan, mulai dari SDM yang belum memahami kebijakan hingga komunikasi yang kurang maksimal.
“Solusi nyata dibutuhkan, terutama dalam penanganan lapangan yang melibatkan relawan dan petugas teknis,” ujarnya.
Sementara itu, Mas Iman dari Dinsos mengusulkan pentingnya pembangunan rumah singgah di desa untuk menampung orang terlantar, serta fasilitas khusus bagi ODGJ yang belum memiliki tempat penampungan.
“Kalau bisa, dialokasikan anggaran Rp 20 juta per titik. Jika tahun ini ada tiga titik, itu sudah cukup membantu,” ungkapnya.
Andang, dari DPRD Provinsi, menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan bahwa gedung bekas Jepara Arta di Jalan Cokroaminoto bisa dimanfaatkan sebagai rumah singgah.
“Kami juga punya rumah singgah di Semarang yang bisa dipakai untuk pasien dan keluarganya. Kita semua harus saling berbagi peran dalam pelayanan sosial ini. Yang terpenting, relawan harus terus menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Namun demikian, sangat disayangkan bahwa delegasi dari Dinas Kesehatan belum dapat hadir secara langsung dalam acara ini.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama (bukber) sebagai bentuk penguatan tali silaturahmi dan komitmen bersama dalam melayani masyarakat.
Melalui kegiatan ini, harapan besar tertuju pada terbentuknya kerja sama lintas sektor yang lebih kokoh demi mewujudkan layanan sosial dan kesehatan yang merata, humanis, dan responsif bagi seluruh warga Jepara.***
Sumber: G7/AR.










