Kisah Asal Usul Desa Teluk Awur Jepara dan Istri Cantik Jelita

Foto, ilustrasi lukisan Den Ayu Roro Kuning (sumber: Pinterest)

Global7.id – Jepara,

Kisah Asal Usul Desa Telukawur di Jepara ini dikutip dari buku Cerita Rakyat Jawa Tengah, Kabupaten Kudus dan Jepara, terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah (2016).


 

Berikut kisah Asal Usul Desa Telukawur di Jepara, Cerita Rakyat Jawa Tengah:

Desa Telukawur terletak di Kecamatan Tahunan, tepatnya di sebelah utara berbatasan dengan Desa Laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Semat, sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Platar dan Desa Demangan.


 

Dahulu kala, di suatu tempat tinggalah sepasang suami istri yang hidup bahagia dan saling mencintai.



Pasangan suami istri tersebut adalah Syeikh Abdul Aziz dan Den Ayu Roro Kuning yang merupakan murid Sunan Muria yang sangat cantik.


 

Kecantikannya digambarkan bagaikan bidadari dari kayangan, sedangkan Syeikh Abdul Aziz merupakan pria dari negeri timur.


 

Dia ditugaskan oleh ayahandanya untuk menyebarluaskan agama Islam di tanah Jawa. Dalam kesehariannya, selain menyebarkan agama, Syeikh Abdul Aziz juga bekerja di ladang.


 

Bacaan Lainnya


Syeikh Abdul Aziz tidak pernah tenang bekerja di ladang. Setiap kali rindu pada istrinya dia meninggalkan pekerjaannya di ladang untuk sekadar pulang untuk melihat istrinya yang cantik.


 

Hal itu dilakukan setiap hari sehingga hasil ladangnya tidak pernah mencukupi untuk kehidupan mereka berdua. Namun, Den Ayu Roro Kuning cukup prihatin dengan keadaan ini. Dia berpikir, jika keadaan ini dibiarkan terus-menerus, ladang sebagai sumber kehidupan mereka berdua akan terbengkelai dan tidak menghasilkan apa-apa.


 


Akhirnya, sang istri memiliki ide yang cukup cemerlang. Dia meminta suaminya untuk melukis dirinya dan hasil lukisan tersebut dapat dibawanya ketika bekerja di ladang.


 

Jadi, ketika sang suami bekerja di ladang dan rindu pada istrinya tidak perlu pulang ke rumah. Dengan demikian, suaminya dapat lebih konsentrasi untuk bekerja di ladang.


 

Semula Syeikh Abdul Aziz menolaknya karena ia tetap ingin selalu bersama istrinya yang cantik rupawan.


 

Akan tetapi, karena desakan istri tercintanya, dia menyetujui permintaan itu sebagai bukti cinta pada istrinya. Ternyata ide melukis wajah Sang istri cukup membawa hasil yang positif.


 

Setelah selesai melukis, Syeikh Abdul Aziz selalu membawa lukisan tersebut ke ladang setiap harinya,sehingga dia tidak perlu pulang ke rumah sebelum pekerjaannya selesai.


 

Nah pada suatu pagi yang cerah, Syeikh Abdul Aziz pergi ke ladang dengan membawa lukisan tersebut. Setelah sampai di ladang, dia meletakkan lukisan tersebut di keranjang yang dia bawa.


 

Tanpa ada firasat apapun tiba-tiba datang angin yang teramat kencang,sehingga gambar tersebut terbang diterpa angin kencang itu,dan akhirnya jatuh di di halaman kerajaan yang rajanya bernama Joko Wongso. Joko Wongso melihat lukisan tersebut dan Joko Wongso pun terkejut setelah melihat gambar seorang wanita yang memiliki paras cantik dan mempesona itu.



Joko wongso langsung memerintahkan prajuritnya untuk mencari wanita yang ada di lukisan tersebut. Tak lama, prajurit Joko Wongso menemukan Den Ayu Roro Kuning (wanita yang ada di lukisan itu), dan membawanya ke kerajaan.


 

Den Ayu Roro Kuning selalu sedih dan gelisah karena memikirkan suaminya yang pasti akan mencari-cari dirinya itu.


 

Disamping itu Syeikh Abdul Aziz mencari lukisan di mana-mana,tapi tidak ketemu juga. Akhirnya Syeikh Abdul Aziz memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya dirumah alangkah terkejutnya Syeikh Abdul Aziz karena tidak mendapati istrinya dirumah. Suatu ketika dia mendengar kabar kalau istrinya dibawa oleh Raja Joko Wongso untuk dijadikan sebagai permaisurinya.


 


Mendengar ini Syeikh Abdul Aziz kemudian pergi ke kerajaan Joko Wongso dengan cara mengamen/bermain kentrung. Sesampainya di halaman kerajaan, suami Den Ayu Roro Kuning ini menyanyi sambil memainkan kentrungnya.


 

Dari dalam kabupaten sayup-sayup suara lagu dan musik inipun terdengar sampai ke telinga Den Ayu Roro Kuning. Setelah jelas terdengar dia tak ragu lagi bahwa itu adalah suara dari suaminya tercinta. Maka dia menyuruh abdinya untuk memanggil pengamen tersebut yaitu Syeikh Abdul Aziz tercinta.


 

Pertemuan inipun menggembirakan bagi keduanya, sehingga mereka sepakat menyusun rencana, bagaimana cara agar Den Ayu Roro Kuning tidak bisa dijadikan istri Joko Wongso. Rencana dirancang yakni, Den Ayu Roro Kuning mengajukan syarat pada sang Raja.


 

Den Ayu Roro Kuning menghadap sang raja, istri Syeikh Abdil Aziz ini berkata “Baginda hamba siap dijadikan permaisuri tapi dengan syarat, carikan kerang (kijing) yang menari dan raja harus berpakaian ala nelayan lengkap dengan kepisnya”.


 

Karena hasrat untuk memperistri Den Ayu Roro Kuning yang sangat kuat maka Joko Wongso setuju tanpa rasa curiga sedikitpun atas syarat yang diajukan oleh istri Syeikh Abdul aziz ini.


 

Berangkatlah sang Raja ke laut dengan harapan dapat memiliki Den Ayu Roro Kuning dengan meninggalkan pakaian kerajaannya. Sementara itu dalam kerajaannya, pasangan suami istri ini melaksanakan strategi yang sudah diatur.


 

Syeikh Abdul Aziz berganti pakaian memakai baju kerajaan raja Joko Wongso dan berpura-pura jadi raja Joko Wongso.


 

Kemudian dia memerintahkan pada prajurit dan rakyat kerajaan Joko Wongso untuk menyisir pantai karena ada mata-mata yang akan menghancurkan kerajaan. Mata-mata tersebut berpakaian nelayan lengkap dengan kepis nya.


Dalam perintahnya itu ada sebagian rakyatnya yang ragu (tidak percaya) tapi karena yang memerintahkan raja maka mereka berangkat untuk mencari mata-mata yang sebenarnya adalah rajanya sendiri. Pencarian membuahkan hasil, tanpa ditanya dulu prajurit dan rakyat ini mengeroyok sang nelayan.


 

Dalam keadaan ini nelayan bilang Teluk,Teluk, (Takluk) tapi prajurit dan rakyat tidak mau tahu, sehingga membuat sang nelayan mati, sebelumnya ajalnya tiba sang nelayan sempat bicara ”AKU RAJAMU, AKU SUDAH BILANG TELUK, TELUK TAPI KALIAN TETAP NGAWUR”.


 

Ucapan inilah yang sekarang dijadikan nama tempat dimana Raja Joko Wongso dulunya didholimi dan di aniaya yaitu ”TELUKAWUR” Jasad JOKO WONGSO dimakamkan berdekatan dengan makam dan DEN AYU RORO KUNING. Makam tersebut ada di desa Telukawur, sedangkan Syeikh Abdul Azis dimakamkan di Desa Jondang yang kemudian Syeikh Abdul Azis dikenal dengan sebutan nama “SYEIKH JONDANG”.


Tag

Pos terkait